← Beranda
8 Masalah yang Sering Tak Disadari Saat Melakukan 'Percakapan' dengan AI Menurut Psikologi
Irfan FerdiansyahRabu, 15 Juli 2026 | 16.26 WIB
seseorang yang terlalu percaya pada AI./Magnific/syda_productions

JawaPos.com - Dalam beberapa tahun terakhir, kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) telah menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari.

Banyak orang menggunakannya untuk mencari informasi, menyelesaikan pekerjaan, belajar, hingga sekadar mengobrol saat merasa bosan.

Kemampuan AI merespons dengan bahasa yang alami membuat pengalaman berbicara dengannya terasa semakin mirip dengan percakapan bersama manusia.

Namun, dari sudut pandang psikologi, ada sejumlah fenomena menarik yang muncul ketika manusia mulai berinteraksi secara intens dengan AI.

Sebagian besar terjadi tanpa disadari. Bukan karena AI "jahat", melainkan karena otak manusia memang dirancang untuk mencari pola, membangun hubungan, dan memberi makna pada setiap interaksi sosial.

Dilansir dari Psychology Today pada Selasa (14/7), terdapat delapan masalah yang sering tidak disadari saat melakukan percakapan dengan AI menurut kajian psikologi.

Baca Juga: Roh Yoon Seo Jadi Member Termuda Fresh off the Sea 3, Chemistry dengan Yeom Jung Ah Dinanti

1. Menganggap AI Memiliki Perasaan (Anthropomorphism)

Salah satu kecenderungan paling umum adalah anthropomorphism, yaitu memberikan sifat-sifat manusia kepada sesuatu yang sebenarnya bukan manusia.

Karena AI mampu menggunakan kata-kata yang hangat, sopan, bahkan menunjukkan empati dalam jawabannya, banyak orang mulai merasa bahwa AI benar-benar memahami emosi mereka.

Padahal, AI tidak memiliki kesadaran, perasaan, pengalaman hidup, ataupun emosi. AI hanya memprediksi respons yang paling sesuai berdasarkan pola bahasa yang dipelajarinya.

Menurut psikologi kognitif, manusia memang memiliki kecenderungan alami untuk "memanusiakan" objek yang dapat berkomunikasi. Fenomena ini juga terjadi pada robot, karakter virtual, bahkan hewan peliharaan.

Masalahnya muncul ketika seseorang mulai menganggap AI sebagai sosok yang benar-benar peduli atau memiliki hubungan emosional yang nyata.

2. Terlalu Percaya pada Jawaban AI (Automation Bias)

Masalah berikutnya adalah automation bias, yaitu kecenderungan mempercayai hasil dari sistem otomatis tanpa melakukan verifikasi.

Ketika AI menjawab dengan bahasa yang sangat meyakinkan, banyak orang menganggap informasi tersebut pasti benar.

Padahal AI dapat:

salah memahami pertanyaan,
menggunakan informasi yang sudah tidak relevan,
menggabungkan beberapa fakta secara keliru,
atau memberikan jawaban yang terdengar logis tetapi sebenarnya tidak akurat.

Dalam psikologi pengambilan keputusan, automation bias membuat seseorang menurunkan sikap kritis karena merasa "komputer pasti benar."

Akibatnya, pengguna menjadi kurang melakukan pengecekan terhadap sumber informasi lain.

3. Mengurangi Kemampuan Berpikir Kritis

AI mampu memberikan jawaban dalam hitungan detik. Kemudahan ini memang sangat membantu.

Namun bila digunakan terus-menerus untuk menjawab semua pertanyaan, seseorang bisa menjadi lebih jarang melakukan proses berpikir yang mendalam.

Psikolog menyebut fenomena ini berkaitan dengan cognitive offloading, yaitu kecenderungan memindahkan beban berpikir kepada alat bantu.

Contohnya:

langsung meminta AI membuat ringkasan tanpa membaca isi,
meminta AI membuat argumen tanpa menyusunnya sendiri,
atau selalu meminta solusi sebelum mencoba berpikir secara mandiri.

Jika dilakukan terus-menerus, kemampuan analisis, evaluasi, dan kreativitas dapat berkurang karena otak semakin jarang dilatih.

4. Merasa Selalu Didukung (Confirmation Bias)

AI umumnya dirancang untuk membantu pengguna, sehingga responsnya sering kali terdengar mendukung atau mencoba memahami sudut pandang pengguna.

Di sinilah muncul confirmation bias, yaitu kecenderungan mencari informasi yang memperkuat keyakinan sendiri.

Misalnya seseorang sudah yakin bahwa suatu keputusan adalah pilihan terbaik, lalu bertanya kepada AI dengan cara yang mengarahkan jawaban.

Tanpa disadari, pengguna menjadi semakin yakin bahwa pendapatnya benar, padahal ia belum mempertimbangkan sudut pandang lain.

Karena itu, penting untuk meminta AI juga menjelaskan argumen yang berlawanan agar proses berpikir tetap seimbang.

5. Menjadikan AI sebagai Tempat Pelarian Emosi

Banyak orang merasa lebih nyaman bercerita kepada AI karena tidak takut dihakimi.

Hal ini sebenarnya bisa memberikan manfaat sementara, misalnya membantu menyusun pikiran atau menenangkan diri.

Namun, jika AI mulai menggantikan seluruh interaksi sosial, psikologi melihat adanya potensi masalah.

Manusia tetap membutuhkan hubungan nyata yang melibatkan:

ekspresi wajah,
kontak mata,
bahasa tubuh,
sentuhan,
serta pengalaman emosional yang timbal balik.

AI dapat merespons dengan empati melalui bahasa, tetapi tidak benar-benar mengalami emosi tersebut.

Ketika seseorang lebih memilih AI dibanding berbicara dengan keluarga, teman, atau tenaga profesional dalam jangka panjang, hubungan sosial nyata dapat perlahan berkurang.

6. Terlalu Banyak Membagikan Informasi Pribadi

Karena AI tidak terlihat seperti manusia, banyak pengguna merasa aman menceritakan hampir seluruh kehidupannya.

Padahal, secara psikologis muncul fenomena online disinhibition effect, yaitu kecenderungan seseorang menjadi lebih terbuka ketika berinteraksi melalui media digital dibanding saat bertatap muka.

Akibatnya, seseorang mungkin tanpa sadar membagikan:

data pribadi,
informasi pekerjaan,
masalah keluarga,
kondisi keuangan,
hingga informasi sensitif lainnya.

Kebiasaan ini meningkatkan risiko terhadap privasi jika pengguna tidak memahami bagaimana data digunakan atau disimpan pada layanan AI yang dipakai.

7. Mengandalkan AI untuk Semua Keputusan

AI memang mampu membantu mempertimbangkan berbagai pilihan.

Namun keputusan penting tetap membutuhkan penilaian manusia.

Dalam psikologi, pengambilan keputusan melibatkan berbagai aspek yang tidak sepenuhnya dapat dipahami AI, seperti:

nilai hidup,
pengalaman pribadi,
intuisi,
budaya,
hubungan sosial,
serta konsekuensi emosional.

Jika seseorang mulai menyerahkan seluruh keputusan kepada AI—mulai dari karier, hubungan, investasi, hingga pendidikan—kemampuan mengambil keputusan secara mandiri dapat melemah.

AI sebaiknya diposisikan sebagai alat bantu berpikir, bukan pengganti pertimbangan pribadi.

8. Muncul Ketergantungan Psikologis

Masalah terakhir yang sering luput disadari adalah munculnya ketergantungan.

Karena AI selalu tersedia 24 jam, cepat menjawab, dan hampir tidak pernah menghakimi, sebagian orang mulai merasa sangat bergantung padanya.

Ketergantungan ini tidak selalu berarti kecanduan, tetapi dapat terlihat melalui beberapa tanda:

merasa tidak percaya diri sebelum bertanya kepada AI,
sulit menyelesaikan tugas tanpa bantuan AI,
selalu meminta validasi AI sebelum mengambil keputusan,
atau merasa cemas ketika tidak dapat mengakses AI.

Dalam jangka panjang, kebiasaan ini dapat mengurangi rasa percaya terhadap kemampuan diri sendiri (self-efficacy), yaitu keyakinan bahwa seseorang mampu menyelesaikan masalah dengan usahanya sendiri.

Bagaimana Menggunakan AI Secara Sehat?

Psikologi tidak memandang AI sebagai sesuatu yang harus dihindari. Justru AI dapat menjadi alat yang sangat bermanfaat jika digunakan secara bijak.

Beberapa prinsip yang dapat diterapkan antara lain:

Gunakan AI sebagai pendamping berpikir, bukan pengganti berpikir.
Selalu verifikasi informasi penting dari sumber yang terpercaya.
Hindari membagikan data pribadi atau informasi sensitif tanpa alasan yang jelas.
Tetap jaga hubungan sosial dengan keluarga, teman, dan rekan kerja.
Gunakan AI untuk memperluas perspektif, bukan hanya mencari pembenaran atas pendapat sendiri.
Ambil keputusan penting dengan mempertimbangkan nilai, pengalaman, dan kondisi pribadi, bukan hanya berdasarkan rekomendasi AI.

Kesimpulan

Percakapan dengan AI memberikan banyak manfaat, mulai dari meningkatkan produktivitas hingga membantu proses belajar. 

Namun, di balik kemudahan tersebut terdapat sejumlah fenomena psikologis yang sering tidak disadari, seperti anthropomorphism, automation bias, cognitive offloading, confirmation bias, hingga ketergantungan psikologis.

Memahami cara kerja pikiran manusia saat berinteraksi dengan AI membantu kita menggunakan teknologi ini secara lebih sehat dan kritis. 

Pada akhirnya, AI adalah alat yang sangat canggih, tetapi tetap tidak memiliki kesadaran, emosi, maupun pengalaman hidup seperti manusia. 

Kemampuan berpikir kritis, empati, kebijaksanaan, dan pengambilan keputusan tetap menjadi keunggulan yang dimiliki manusia dan tidak dapat sepenuhnya digantikan oleh teknologi.

EDITOR: Hanny Suwindari