JawaPos.com - Mengalami insomnia dengan mata yang sulit terpejam tentu menjadi siksaan tersendiri. Alih-alih mengistirahatkan tubuh, otak kita justru sering kali terjebak overthinking, memutar ulang kejadian masa lalu, atau mengkhawatirkan hari esok.
Ketika segala cara medis dan ramuan herbal belum membuahkan hasil, ada satu metode psikologis berbasis Hukum Tarik Menarik (Law of Attraction) yang bisa Anda coba untuk memulihkan pola tidur yang rusak.
Bagi sebagian orang, mengaitkan Hukum Tarik Menarik dengan kesembuhan insomnia mungkin terdengar tidak biasa. Namun, prinsip universal ini bekerja layaknya gravitasi: apa yang secara konsisten Anda fokuskan dan rasakan, itulah yang akan ditarik masuk ke dalam realitas hidup Anda.
Ketika Anda terus mengeluh, "Mengapa saya susah tidur?", pikiran bawah sadar justru menangkap sinyal frustrasi tersebut dan memproduksi lebih banyak malam tanpa tidur. Sebaliknya, jika Anda berhasil mengalihkan fokus pada kenyamanan beristirahat, tubuh akan merespons secara alami untuk menciptakan tidur yang sukses.
Tidur yang sukses diartikan sebagai kondisi di mana Anda bisa terlelap dengan mudah tanpa usaha keras, lalu terbangun di pagi hari dengan tubuh yang segar dan bugar. Mengubah kebiasaan insomnia menahun memang membutuhkan komitmen, namun langkahnya jauh lebih sederhana dari yang Anda bayangkan.
Dikutip dari Your Tango, berikut adalah 5 langkah praktis memanfaatkan Hukum Tarik Menarik untuk menyembuhkan insomnia:
1. Terima Kondisi Saat Ini dengan Damai
Jangan mengutuk atau memarahi diri sendiri saat Anda masih terjaga di tengah malam. Banyak artikel psikologi menyebutkan bahwa memusuhi rasa kantuk yang tak kunjung datang justru memicu lonjakan hormon kortisol (hormon stres). Kortisol ini bertindak sebagai stimulan yang membuat otak mendeteksi kasur sebagai tempat yang menegangkan, sehingga siklus insomnia justru terkunci semakin kuat.
Oleh karena itu, biarkan perubahan terjadi secara alami dengan penuh rasa cinta pada diri sendiri di setiap prosesnya. Ketika Anda menerima bahwa malam ini Anda belum bisa tertidur, ketegangan di dalam saraf tubuh secara perlahan akan mengendur. Penerimaan ini adalah langkah awal yang krusial untuk menurunkan gelombang otak dari kondisi beta yang aktif menuju kondisi alfa yang jauh lebih rileks.
2. Tulis Skenario Tidur Ideal Anda
Buatlah sebuah catatan kecil menggunakan pena dan kertas yang menggambarkan bagaimana bahagianya Anda ketika bisa bangun tidur dengan segar. Menulis dengan tangan terbukti secara neurosains mampu mengaktifkan Reticular Activating System (RAS) di dalam otak, yaitu sistem penyaring informasi yang membantu otak memprioritaskan hal-hal yang kita anggap penting untuk diwujudkan.
Tulis skrip ini seolah-olah hal tersebut sudah terjadi dan bacalah dengan lantang setiap hari untuk menanamkan energi positif ke dalam otak. Kalimat seperti, "Saya sangat bersyukur karena malam ini tubuh saya terasa sangat rileks dan saya tertidur dengan sangat mudah," bertindak sebagai naskah baru bagi pikiran bawah sadar. Membacanya dengan penuh penghayatan sebelum tidur akan memprogram ulang persepsi mental Anda terhadap aktivitas tidur.
3. Praktikkan "Trik 68 Detik" Sepanjang Hari
Setiap kali pikiran buruk datang, pancing otak Anda dengan kalimat, "Bukankah akan menyenangkan jika nanti malam aku bisa tidur sangat nyenyak?" Berdasarkan literatur mengenai Law of Attraction, durasi 17 detik adalah waktu yang dibutuhkan oleh sebuah pikiran untuk mengaktifkan pikiran lain yang sejenis, dan jika dipertahankan hingga 68 detik, momentum tersebut cukup kuat untuk mulai mewujudkannya ke dalam bentuk energi fisik.
Pertahankan visualisasi nyaman ini minimal selama 68 detik agar otak bawah sadar benar-benar menangkap sinyal perubahan tersebut. Mengucapkan kalimat-kalimat ini dengan lantang, penuh semangat, dan antusiasme tinggi di siang hari akan memotong rantai kecemasan yang biasanya menumpuk menjelang malam. Cara ini membantu melatih fokus otak agar tidak lagi mengasosiasikan malam hari dengan penderitaan insomnia.
4. Tinggalkan Kekhawatiran di Luar Kamar
Sebelum naik ke atas kasur, buat komitmen tegas untuk "membuang" semua beban pikiran di kamar mandi saat Anda mencuci muka atau menyikat gigi. Berbagai studi tentang higienitas tidur (sleep hygiene) menyarankan pentingnya memiliki ritual pemisahan batas antara dunia kerja yang penuh tekanan dengan area tempat tidur yang seharusnya steril dari stres.
Jika beban pikiran terlalu berat, tuliskan semua kecemasan Anda di secarik kertas agar otak merasa tugasnya hari itu sudah selesai, lalu berjanjilah untuk mengurusnya esok hari. Setelah itu, serahkan sisa masalah Anda kepada Tuhan, Sumber Kehidupan, atau Alam Semesta. Menyerahkan beban hidup kepada kekuatan yang lebih besar terbukti efektif memberikan keandalan emosional, sehingga tubuh Anda terbebas dari beban mental saat bersiap untuk terlelap.
5. Tidurlah dengan Hati yang Penuh Rasa Syukur
Saat memejamkan mata, fokuskan pikiran Anda untuk berterima kasih atas semua berkah yang diterima hari itu, terutama atas kesempatan untuk mengistirahatkan tubuh. Penelitian di bidang psikologi positif membuktikan bahwa mempraktikkan rasa syukur (gratitude) sebelum tidur secara signifikan mampu meningkatkan durasi dan kualitas tidur, serta menurunkan gejala kecemasan kronis.
Rasa syukur merangsang pelepasan neurotransmiter penenang di otak seperti dopamin dan serotonin, yang sekaligus menurunkan aktivitas sistem saraf simpatik (sistem yang memicu kepanikan). Dengan mengakhiri hari lewat frekuensi energi yang damai, Anda tidak hanya mempermudah tubuh untuk masuk ke fase tidur dalam (deep sleep), tetapi juga memastikan Anda terbangun dengan suasana hati yang jauh lebih segar keesokan harinya.
Jangan Menyerah Jika Pola Lama Kembali Datang
Sama seperti melatih otot tubuh di pusat kebugaran, melatih ulang pola pikir yang telanjur terbiasa cemas juga membutuhkan waktu. Jika di tengah jalan Anda kehilangan fokus dan kembali mengalami malam yang gelisah, jangan langsung berkecil hati atau merasa gagal.
Ketika pola lama itu datang lagi, peluk diri Anda dengan penuh kasih sayang. Katakan pada diri sendiri, "Saya sedang dalam proses menuju tidur yang lebih baik," lalu perlahan kembalikan fokus Anda pada rasa syukur dan visualisasi kamar tidur yang nyaman. Ingatlah bahwa Anda tidak sendirian dalam perjuangan melawan insomnia ini. Dengan konsistensi dan menurunkan ketegangan di dalam kepala, semua usaha Anda untuk mendapatkan tidur yang berkualitas pasti akan terbayar lunas. Selamat mencoba!