JawaPos.com – Siapa pun bisa sesekali tertipu berita palsu, namun ada pola ucapan yang mengungkap kebiasaan mempercayai hoaks tanpa berpikir kritis.
Literasi digital yang rendah membuat seseorang mudah menelan informasi mentah-mentah tanpa mempertanyakan sumber atau kebenarannya.
Ucapan-ucapan tertentu dalam percakapan sehari-hari bisa menjadi tanda jelas bahwa seseorang tidak terbiasa memverifikasi berita palsu.
Dilansir dari laman YourTango pada Jumat (10/6), berikut sembilan frasa yang sering diucapkan oleh orang-orang yang cenderung mudah mempercayai informasi tanpa memeriksa kebenarannya.
1. "Aku lihat di website itu, pasti bener"
Internet menyimpan segalanya mulai dari penelitian ilmiah hingga cerita yang sepenuhnya dibuat-buat demi mendapat klik.
Mempercayai informasi hanya karena berasal dari website favorit adalah kesalahan mendasar dalam menilai kredibilitas sebuah sumber.
Informasi yang dapat dipercaya biasanya berasal dari organisasi dengan standar pelaporan yang transparan dan didukung bukti nyata.
2. "Media tidak akan memberitahu kamu ini"
Frasa ini sering digunakan untuk membuat klaim tertentu terasa lebih eksklusif dan seolah mengandung kebenaran tersembunyi.
Meskipun ada media yang melakukan kesalahan, menganggap sesuatu benar hanya karena disajikan sebagai informasi yang disembunyikan adalah logika yang cacat.
Klaim yang kuat membutuhkan bukti yang solid, bukan hanya kemasan dramatis yang dirancang untuk terasa mengejutkan.
3. "Cari tahu sendiri"
Di permukaan, anjuran untuk mencari tahu sendiri terdengar bijak dan mendorong kemandirian berpikir.
Masalahnya, frasa ini sering digunakan untuk mengarahkan orang ke sumber-sumber yang tidak dapat diandalkan dan penuh bias.
Riset yang benar melibatkan perbandingan berbagai sumber terpercaya, pemahaman konteks, dan keterbukaan terhadap informasi baru.
4. "Semua orang sudah tahu itu benar"
Popularitas sebuah klaim sama sekali tidak menjamin kebenarannya, karena banyak kepercayaan luas yang terbukti salah sepanjang sejarah.
Penelitian bahkan menemukan bahwa orang lebih mudah mempercayai berita palsu jika terlihat banyak yang menyebarkannya.
Menggantikan bukti faktual dengan konsensus sosial adalah salah satu cara paling umum seseorang terperangkap dalam hoaks.
5. "Aku tidak perlu buktinya"
Intuisi memang memiliki peranan, namun fakta tidak ditentukan oleh perasaan atau keyakinan yang kuat sekalipun.
Frasa ini mencerminkan penalaran emosional di mana rasa yakin menggantikan kebutuhan akan verifikasi objektif yang sebenarnya.
Misinformasi sering berhasil justru karena terasa benar secara emosional jauh sebelum ada kesempatan untuk diverifikasi.
6. "Memang siapa yang mau bikin berita palsu segini?"
Kemampuan melihat sisi baik orang lain adalah hal yang mulia, namun ada perbedaan besar antara percaya dan mudah ditipu.
Kenyataannya, banyak insentif nyata di balik penyebaran informasi palsu mulai dari keuntungan iklan hingga pengaruh politik.
Berasumsi bahwa tidak ada yang sengaja menyebarkan kebohongan online mengabaikan realita budaya internet yang sangat kompleks saat ini.
7. "Tapi semua orang sudah share ini"
Viralitas sebuah konten sama sekali bukan indikator akurasi, bahkan sebaliknya cerita palsu cenderung menyebar lebih cepat.
Algoritma media sosial dirancang untuk mendorong keterlibatan, bukan kebenaran, sehingga konten mengejutkan lebih mudah viral.
Jutaan share hanya menunjukkan seberapa menghibur atau mengejutkan sebuah cerita, bukan seberapa akurat informasinya.
8. "Ahli-ahli itu biasanya berbohong"
Skeptisisme yang sehat terhadap otoritas berbeda jauh dari penolakan total terhadap keahlian dan ilmu pengetahuan yang teruji.
Sebagian besar kesimpulan ilmiah dan jurnalistik didasarkan pada bukti yang terkumpul bertahun-tahun melalui proses tinjauan ketat.
Menolak semua ahli membuat seseorang bergantung pada influencer atau komentar anonim yang tidak memiliki akuntabilitas apapun.
9. "Aku tidak percaya pengecekan fakta"
Lembaga pemeriksa fakta memang tidak sempurna, namun menolaknya sebelum memeriksa bukti yang mereka sajikan adalah tindakan kontraproduktif.
Organisasi pemeriksa fakta yang andal biasanya menjelaskan proses mereka, mengutip sumber primer, dan memperbaiki kesalahan secara transparan.
Menolak pengecekan fakta hanya karena hasilnya bertentangan dengan keyakinan sendiri membuat misinformasi semakin sulit dikenali.