← Beranda
Trauma Masa Lalu, Ini 6 Pelajaran Masa Kecil yang Bikin Seseorang Merasa Jadi Beban Menurut Psikologi
Mohammad Maulana Iqbal• Selasa, 7 Juli 2026 | 16.14 WIB
Pelajaran masa kecil yang bikin seseorang merasa jadi beban dan trauma menurut psikologi / foto : Magnific/ jcomp

JawaPos.com – Perasaan selalu merasa jadi beban bagi orang lain sering kali berakar dari pelajaran yang diterima selama masa kecil.

Psikologi mengungkap bahwa hubungan awal dengan pengasuh membentuk cara seseorang memandang diri dan kebutuhannya.

Trauma kecil yang terjadi berulang dalam keluarga dapat menciptakan keyakinan yang bertahan jauh hingga masa dewasa.

Dilansir dari laman YourTango pada Selasa (7/7), berikut enam pola yang dipelajari anak-anak dan kemudian membuat mereka tumbuh dengan perasaan bahwa keberadaan mereka merepotkan.

Baca Juga: 10 Kebiasaan Orang Bahagia yang Punya Hidup Bermakna Menurut Psikologi

1. Kebutuhan anak selalu dinomorsekiankan

Sebagian anak tumbuh dalam keluarga di mana kebutuhan emosional mereka secara konsisten dikesampingkan karena berbagai alasan.

Ketika meminta bantuan berulang kali berakhir dengan masalah, anak belajar bahwa mengandalkan orang lain tidak aman.

Kemandirian ekstrem yang berkembang bukan karena pilihan, melainkan karena tidak ada pilihan lain yang terasa aman.

Sebagai orang dewasa, mereka cenderung menolak bantuan bahkan dari orang-orang yang tulus ingin mendukung mereka.

Menerima pertolongan terasa asing dan tidak nyaman karena seluruh hidupnya dihabiskan dengan tidak melakukannya.

Belajar kembali bahwa kebutuhan diri sendiri juga penting adalah salah satu proses penyembuhan paling esensial.

2. Pujian hanya datang saat tidak merepotkan

Anak yang disebut "tidak pernah susah" atau "selalu bisa diandalkan" mungkin diam-diam menginternalisasi makna yang berbahaya.

Mereka mulai percaya bahwa nilai diri mereka terletak pada kemampuan menyelesaikan segala sesuatu sendiri tanpa bantuan.

Ketika pujian hanya datang saat mereka tidak membutuhkan apapun, permintaan bantuan terasa seperti kegagalan besar.

Seiring bertambahnya usia, mereka terus menyembunyikan emosi sulit agar tidak mengecewakan orang-orang yang mereka cintai.

Mereka menjadi sangat mahir terlihat baik-baik saja sehingga orang lain tidak pernah menyadari mereka sedang berjuang.

Orang-orang ini membawa beban jauh lebih berat dari yang terlihat, namun jarang ada yang menyadarinya.

3. Emosi dianggap membuat orang lain tidak nyaman

Tidak semua orang tua tahu cara merespons kesedihan atau frustrasi anak dengan cara yang sehat dan memvalidasi.

Anak yang terus diminta berhenti menangis atau segera bangkit sebelum memproses perasaannya belajar bahwa emosi itu berbahaya.

Setelah cukup banyak pengalaman seperti itu, mereka memilih menyimpan semua perasaan untuk diri mereka sendiri.

Bukan karena perasaan itu hilang, melainkan karena mengungkapkannya terasa tidak aman dan berpotensi menimbulkan penolakan.

Sebagai orang dewasa, mereka bahkan meminta maaf lebih dahulu sebelum menceritakan sesuatu yang mengganggu pikiran mereka.

Padahal dalam hubungan yang sehat, mengekspresikan emosi adalah fondasi penting untuk membangun kedekatan yang nyata.

4. Merawat orang lain lebih diutamakan dari kebutuhan sendiri

Beberapa anak menghabiskan masa kecil mereka dengan menghibur orang tua, merawat adik, atau mengelola rumah tangga.

Mereka sering dipuji karena dewasa sebelum waktunya, padahal kedewasaan itu diperoleh dengan mengorbankan masa kecil yang sebenarnya.

Setelah bertahun-tahun mendahulukan orang lain, menerima dukungan terasa aneh bahkan seperti sesuatu yang tidak layak diterima.

Mereka menjadi orang pertama yang membantu semua orang namun yang terakhir mengakui bahwa diri sendiri sedang kewalahan.

Pola ini menjadi sangat melelahkan karena merasa bertanggung jawab atas segalanya tanpa pernah boleh bersandar kepada siapapun.

Menyadari bahwa menerima bantuan adalah hak yang sama sah-nya dengan memberi adalah langkah pemulihan yang sangat penting.

5. Kesalahan dianggap tidak bisa diterima

Setiap anak pasti membuat kesalahan, namun ketika kesalahan selalu disambut dengan kritik keras, anak mulai menarik kesimpulan yang keliru.

Mereka tidak lagi melihat kesalahan sebagai bagian normal dari belajar, melainkan sebagai bukti bahwa ada yang salah dengan diri mereka.

Bahkan kesalahan kecil mulai terasa jauh lebih besar dan lebih merusak dari yang sebenarnya terjadi.

Sebagai orang dewasa, mereka bisa menghabiskan berjam-jam memutar ulang percakapan dan bertanya-tanya apakah mereka menyinggung seseorang.

Pemantauan diri yang terus-menerus ini sangat melelahkan dan menghambat kemampuan untuk hadir secara penuh dalam hubungan.

Kenyataannya, hubungan yang sehat memiliki ruang yang cukup luas untuk ketidaksempurnaan dan kesalahan yang manusiawi.

6. Kasih sayang dirasakan sebagai hadiah atas perilaku yang baik

Anak-anak tumbuh paling baik ketika merasa dihargai hanya karena siapa mereka, bukan karena apa yang mereka capai.

Ketika kasih sayang atau perhatian hanya datang saat mereka berprestasi, mereka belajar bahwa cinta harus diperoleh bukan diterima.

Keyakinan ini membuat mereka tumbuh menjadi orang-orang yang bekerja keras menghindari kekecewaan siapapun di sekitar mereka.

Pujian terasa tidak nyaman dan kebaikan orang lain memunculkan pertanyaan tentang apa yang diharapkan sebagai balasannya.

Memberi terasa jauh lebih aman dibanding menerima karena memberi adalah sesuatu yang familiar sedangkan menerima terasa rentan.

Kabar baiknya, dengan hubungan yang lebih sehat dan belas kasih terhadap diri sendiri, keyakinan lama ini bisa perlahan berubah.

EDITOR: Setyo Adi Nugroho