← Beranda
9 Praktik Tempat Kerja yang Tidak Diterima Gen Z karena Budaya Toxic dan Mengabaikan Work-Life Balance
Mohammad Maulana Iqbal• Selasa, 30 Juni 2026 | 18.33 WIB
Praktik tempat kerja yang tidak diterima gen z karena budaya toxic dan mengabaikan work-life balance / foto : Magnific/ freepik

JawaPos.com – Gen Z secara terbuka menolak budaya kerja toksik yang selama ini diterima begitu saja oleh generasi sebelumnya tanpa banyak perlawanan.

Bagi generasi ini, work-life balance bukan sekadar keinginan tambahan melainkan kebutuhan mendasar yang harus dihormati oleh setiap tempat kerja.

Perubahan standar yang diperjuangkan Gen Z di tempat kerja sebenarnya bisa membawa manfaat nyata bagi seluruh generasi pekerja saat ini.

Dilansir dari laman YourTango pada Selasa (30/6), berikut  sembilan praktik tempat kerja yang dianggap sudah tidak bisa diterima lagi oleh Gen Z karena mencerminkan budaya yang merugikan kesehatan mental.

Baca Juga: 6 Ciri Orang Psikopat di Tempat Kerja sebagai Tanda Kepribadian Antisosial Menurut Psikologi

1. Gaji yang kronis terlalu rendah

Banyak anak muda saat ini menghadapi utang pendidikan yang besar sekaligus gaji yang tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan dasar mereka.

Generasi sebelumnya sering meyakinkan mereka bahwa penderitaan finansial adalah lencana kehormatan menuju sukses, padahal itu justru membahayakan kesejahteraan mereka.

Gen Z menolak harapan untuk terus bekerja keras dengan senyum sementara mereka kesulitan membayar sewa tempat tinggal setiap bulannya.

2. Tekanan terus-menerus untuk menerima proyek baru

Gen Z merasa lelah dipaksa menerima beban kerja yang tidak realistis, terutama dari manajer yang hanya berfokus pada hasil akhir.

Mengorbankan kesejahteraan dan waktu pribadi demi tekanan untuk mengambil lebih banyak tugas dalam delapan jam kerja terasa sangat merugikan bagi mereka.

Tidak semua anak muda merasa perlu membuktikan diri di lingkungan korporat karena sebagian hanya ingin bekerja secukupnya untuk hidup nyaman.

3. Tidak ada lembur untuk karyawan bergaji tetap

Karyawan bergaji tetap sering tidak mendapatkan kompensasi tambahan meskipun bekerja jauh lebih dari empat puluh jam dalam seminggu.

Mereka tidak dibayar untuk usaha ekstra yang diberikan, dan Gen Z yang menghargai keseimbangan kerja nyata merasa sangat lelah dengan kondisi ini.

Memuji karyawan yang lembur tanpa kompensasi sambil mengabaikan dampaknya pada kesejahteraan mereka terasa sangat tidak adil bagi generasi muda.

4. Aturan berpakaian yang terlalu ketat

Gen Z secara aktif mengubah cara pandang tentang aturan berpakaian di tempat kerja dan menolak definisi profesionalisme yang diwariskan generasi sebelumnya.

Mereka lebih mengutamakan kenyamanan, terutama saat beban kerja sudah berlebihan, dan tidak menerima begitu saja gagasan berpakaian yang bias gender.

Aspek pekerjaan yang memengaruhi kehidupan sehari-hari dan kesejahteraan mereka ini sudah tidak lagi bisa diabaikan oleh generasi muda saat ini.

5. Rapat yang terus-menerus tanpa henti

Rapat yang sebenarnya bisa diselesaikan lewat email terasa seperti pemborosan waktu yang sangat mengganggu produktivitas dan ketenangan pikiran pekerja muda.

Menyia-nyiakan waktu untuk percakapan yang tidak perlu, padahal bisa digunakan untuk pekerjaan nyata, sangat membuat frustrasi generasi yang ingin menjaga work-life balance.

Banyak pekerja muda tetap hadir dan berdedikasi di kantor, namun mereka menolak membuang waktu hanya demi mempertahankan tradisi yang sudah tidak relevan.

6. Budaya kantor yang sangat hierarkis

Pendekatan top-down di tempat kerja membuat pekerja muda merasa diabaikan ketika pemimpin mereka mendapatkan seluruh ruang untuk berbicara dan didengar.

Mereka ingin menyuarakan kebutuhan dan merasa didengarkan, namun dalam budaya yang sangat hierarkis hal itu terasa hampir mustahil untuk dicapai.

Tidak memiliki suara sebagai karyawan muda membuat pekerjaan kehilangan makna, padahal makna itulah yang mendorong produktivitas dan usaha mereka sehari-hari.

7. Kehilangan tujuan dalam pekerjaan

Ketika seorang pekerja Gen Z tidak merasakan tujuan yang lebih besar dalam pekerjaannya, segalanya terasa membosankan meskipun gaji dan jam kerja sudah baik.

Mentalitas budaya hustle yang mendukung gagasan bahwa pekerjaan harus diperjuangkan dengan susah payah tidak lagi diterima oleh generasi muda saat ini.

Mereka lebih peduli pada menjaga identitas diri daripada bertahan dalam tempat kerja toksik yang juga tidak memberikan arah dan makna.

8. Diberi penghargaan karena memprioritaskan kerja di atas segalanya

Budaya yang memuji karyawan yang masuk di akhir pekan atau malam hari sudah dianggap tidak bisa diterima lagi oleh Gen Z.

Mereka tidak mau lagi menanggung beban budaya kerja toksik ini dengan mengorbankan kesehatan dan kesejahteraan mereka sendiri secara terus-menerus.

Jika atasan dan rekan kerja yang lebih senior ingin menormalisasi burnout dalam hidup mereka sendiri, itu pilihan mereka, bukan standar yang harus diikuti.

9. Merasa bersalah saat mengambil cuti sakit

Banyak Gen Z mengambil hari libur untuk kesehatan mental meski sering dipermalukan karena dianggap tidak benar-benar sakit secara fisik.

Mereka mempertanyakan mengapa surat dokter harus menjadi syarat untuk membuat penggunaan hak cuti dianggap sah dan dapat diterima oleh atasan.

Mengambil waktu istirahat bersama keluarga atau memulihkan diri setelah periode kerja yang berat seharusnya menjadi hak yang tidak perlu dipertanyakan lagi.

EDITOR: Setyo Adi Nugroho