← Beranda
Menurut Psikologi, Orang yang Cemas karena Balasan Terlambat Biasanya Menunjukkan 7 Ciri Kepribadian Ini
Irfan FerdiansyahKamis, 25 Juni 2026 | 04.39 WIB
seseorang yang cemas karena menunggu balasan. (Freepik/thanyakij-12)

JawaPos.com - Di era digital, percakapan banyak berlangsung lewat pesan singkat—entah itu WhatsApp, Telegram, atau media sosial lainnya. 

Namun, tidak semua orang merespons dengan cara yang sama ketika menunggu balasan. 

Ada orang yang santai dan bisa melanjutkan aktivitasnya tanpa terganggu, tapi ada pula yang merasa cemas, gelisah, bahkan kepikiran terus-menerus hanya karena pesan mereka tidak segera dibalas.

Fenomena ini ternyata tidak sekadar soal kebiasaan digital, melainkan berkaitan erat dengan pola kepribadian tertentu.

Menurut psikologi, orang yang cenderung cemas ketika balasan terlambat biasanya memiliki ciri-ciri tertentu yang membentuk cara mereka berpikir, merasa, dan berhubungan dengan orang lain.

Dilansir dari Geediting, terdapat tujuh ciri kepribadian yang umumnya tampak pada mereka yang mudah cemas karena pesan tidak kunjung dibalas.

1. Memiliki Kecenderungan Overthinking

Orang yang mudah cemas saat menunggu balasan biasanya punya kebiasaan memikirkan banyak skenario. 

Mereka bisa saja membayangkan: “Apakah dia marah? Apakah aku salah bicara? Atau ada sesuatu yang buruk terjadi?” 

Pikiran seperti ini muncul karena otak mereka cenderung menganalisis berlebihan. 

Dalam psikologi, ini termasuk dalam kecenderungan ruminasi, yaitu memutar ulang masalah dalam kepala tanpa henti.

2. Sangat Peduli pada Validasi Sosial

Mereka yang merasa gelisah saat balasan tak kunjung datang seringkali menaruh nilai besar pada pengakuan orang lain. 

Setiap balasan pesan dianggap sebagai bentuk penerimaan, perhatian, atau validasi. 

Ketika balasan tidak segera tiba, mereka merasa kurang dihargai atau bahkan ditolak secara emosional.

3. Tingkat Empati yang Tinggi

Menariknya, banyak orang yang mudah cemas menunggu balasan justru memiliki empati tinggi. 

Karena terbiasa memikirkan perasaan orang lain, mereka jadi peka dan khawatir apakah kata-kata mereka menyakiti atau menyinggung. 

Empati ini positif, tetapi ketika tidak diimbangi dengan batas sehat, bisa berubah menjadi beban mental.

4. Cenderung Perfeksionis dalam Hubungan

Bagi sebagian orang, komunikasi bukan hanya soal menyampaikan pesan, melainkan soal menjaga kesempurnaan hubungan. 

Orang yang perfeksionis akan khawatir jika ada sedikit saja tanda-tanda hubungan renggang. 

Keterlambatan balasan sering ditafsirkan sebagai "celah" yang perlu diperbaiki, padahal belum tentu demikian.

5. Memiliki Kebutuhan Tinggi akan Kepastian

Dalam psikologi, kebutuhan akan kepastian disebut need for closure. 

Orang dengan karakter ini merasa lebih nyaman ketika segala sesuatu jelas dan pasti. 

Maka, ketika balasan tidak segera datang, mereka merasa “menggantung” dan tidak bisa tenang. 

Kecemasan ini muncul karena mereka belum mendapatkan penutup dari situasi yang dianggap terbuka.

6. Rentan pada Attachment Style Cemas (Anxious Attachment)

Dalam teori hubungan, dikenal konsep attachment style. 

Mereka yang cenderung cemas menunggu balasan biasanya termasuk tipe anxious attachment, yakni gaya keterikatan yang membuat seseorang sangat butuh kepastian dan kelekatan dari orang lain. 

Keterlambatan balasan dianggap sebagai ancaman pada stabilitas hubungan.

7. Memiliki Sensitivitas Emosional yang Tinggi

Orang dengan sensitivitas emosional tinggi lebih mudah terpengaruh oleh hal-hal kecil yang mungkin diabaikan orang lain. 

Satu pesan yang tidak kunjung dibalas bisa mereka rasakan seperti sinyal penolakan atau masalah besar. 

Hal ini membuat mereka sering mengalami naik-turun emosi hanya karena ritme komunikasi yang berbeda.

Penutup: Belajar Tenang dalam Menunggu

Menunggu balasan pesan sebenarnya adalah hal sepele, tapi bagi sebagian orang bisa menjadi pemicu kecemasan yang nyata. 

Dari sisi psikologi, hal ini berkaitan erat dengan ciri kepribadian seperti overthinking, kebutuhan validasi, hingga gaya keterikatan dalam hubungan.

Kabar baiknya, kecenderungan ini bukan berarti kelemahan. 

Justru dengan kesadaran diri, orang bisa belajar menyeimbangkan empati dengan logika, serta melatih kesabaran dalam berkomunikasi. 

Bagaimanapun, tidak setiap keterlambatan balasan berarti penolakan—kadang, orang lain hanya sibuk dengan hidupnya sendiri.

EDITOR: Hanny Suwindari