← Beranda
8 Kebiasaan yang Dikembangkan Pria ketika Mereka Terlalu Lama Berpura-pura Baik-Baik Saja Menurut Psikologi
Irfan FerdiansyahSabtu, 20 Juni 2026 | 23.53 WIB
Ilustrasi seseorang yang terlalu lama berpura-pura baik (Magnific/User18526052)

JawaPos.com - Di banyak budaya, pria sering dibesarkan dengan keyakinan bahwa mereka harus selalu kuat, tenang, dan mampu menghadapi segala masalah tanpa menunjukkan kelemahan. Kalimat seperti "jangan cengeng", "harus kuat", atau "semua akan baik-baik saja" membuat banyak pria terbiasa menyembunyikan perasaan mereka.

Pada awalnya, berpura-pura baik-baik saja mungkin terlihat seperti cara untuk bertahan. Namun, menurut psikologi, menekan emosi dalam jangka panjang tidak membuat masalah hilang. Sebaliknya, kebiasaan tersebut dapat membentuk pola perilaku tertentu yang memengaruhi hubungan, kesehatan mental, hingga kualitas hidup secara keseluruhan.

Dilansir dari Expert Editor pada Jumat (19/6), terdapat delapan kebiasaan yang sering berkembang pada pria yang terlalu lama memaksakan diri terlihat baik-baik saja.

Baca Juga: 9 Kebiasaan yang Harus Ditinggalkan Menurut Psikologi jika Anda Ingin Akhirnya Mencintai Hidup Lagi

1. Menarik Diri dari Orang Lain

Salah satu tanda yang paling umum adalah kecenderungan untuk menjauh dari lingkungan sosial. Mereka tetap hadir secara fisik, tetapi secara emosional semakin sulit dijangkau.

Alih-alih menceritakan apa yang mereka alami, mereka memilih memendam semuanya sendiri. Pesan dari teman mulai jarang dibalas, pertemuan keluarga dihindari, dan percakapan yang dulu terasa nyaman menjadi semakin singkat.

Dalam psikologi, perilaku ini sering muncul sebagai mekanisme perlindungan. Seseorang yang merasa lelah secara emosional cenderung mengurangi interaksi agar tidak perlu menjelaskan apa yang sebenarnya sedang terjadi.

Sayangnya, isolasi justru dapat memperparah tekanan yang mereka rasakan.

2. Terlalu Sibuk agar Tidak Perlu Merasakan Emosi

Sebagian pria merespons tekanan dengan cara terus menyibukkan diri. Mereka bekerja lebih lama, mengambil lebih banyak tanggung jawab, atau memenuhi jadwal dengan berbagai aktivitas.

Sekilas, hal ini terlihat produktif dan mengagumkan. Namun, di balik kesibukan tersebut, sering kali ada upaya untuk menghindari perasaan yang tidak nyaman.

Psikologi menyebutnya sebagai bentuk pengalihan atau avoidance coping. Dengan terus bergerak, seseorang tidak memiliki waktu untuk menghadapi kesedihan, kecemasan, atau kekecewaan yang sebenarnya belum terselesaikan.

Masalahnya, emosi yang ditekan tidak benar-benar hilang. Mereka hanya menunggu kesempatan untuk muncul kembali.

Baca Juga: Ini 10 Hal yang Langsung Menguras Energi Orang Cerdas dan Intuitif Menurut Psikologi

3. Menjadi Mudah Marah karena Emosi yang Tidak Tersalurkan

Tidak semua kesedihan terlihat sebagai tangisan atau ekspresi sedih. Pada pria, tekanan emosional sering kali muncul dalam bentuk iritabilitas atau kemarahan.

Hal-hal kecil yang sebelumnya tidak mengganggu bisa memicu reaksi berlebihan. Mereka menjadi lebih sensitif, mudah tersinggung, atau cepat kehilangan kesabaran.

Dalam banyak kasus, kemarahan hanyalah "wajah lain" dari emosi yang lebih dalam seperti rasa kecewa, kelelahan, kesepian, atau kecemasan.

Ketika seseorang terus mengatakan bahwa dirinya baik-baik saja, emosi tersebut mencari jalan lain untuk keluar.

4. Sulit Mengungkapkan Perasaan

Semakin lama seseorang terbiasa menyembunyikan emosi, semakin sulit baginya mengenali dan mengungkapkan apa yang sebenarnya ia rasakan.

Ketika ditanya, "Apa yang sedang kamu pikirkan?" atau "Ada masalah?", jawaban yang muncul biasanya hanya:

"Nggak apa-apa."
"Aku baik-baik saja."
"Cuma capek sedikit."

Bukan karena mereka tidak ingin berbagi, tetapi karena mereka sudah terlalu lama mematikan akses terhadap emosi mereka sendiri.

Dalam psikologi, kesulitan mengenali dan mengekspresikan perasaan ini dikenal sebagai alexithymia, sebuah kondisi yang dapat menghambat komunikasi dan kedekatan dalam hubungan.

Baca Juga: 10 Kebiasaan 'Sopan' Ketinggalan Zaman yang Justru Membuat Anda Terlihat Tidak Percaya Diri Menurut Psikologi

5. Mengandalkan Pelarian yang Tidak Sehat

Ketika tekanan terus menumpuk, sebagian orang mencari cara cepat untuk mendapatkan rasa lega sementara.

Bentuknya bisa berbeda-beda, seperti:

Bermain gim berlebihan.
Menghabiskan waktu terlalu lama di media sosial.
Bekerja tanpa henti.
Konsumsi alkohol secara berlebihan.
Makan berlebihan atau justru kehilangan nafsu makan.

Perilaku tersebut bukan selalu tanda kelemahan, melainkan cara otak mencari jalan keluar dari tekanan yang tidak pernah diproses dengan sehat.

Sayangnya, pelarian semacam ini hanya memberikan ketenangan sesaat dan tidak menyelesaikan akar masalah.

6. Menjadi Sangat Mandiri dan Sulit Meminta Bantuan

Kemandirian adalah kualitas yang positif. Namun, ketika seseorang percaya bahwa ia harus menghadapi semuanya sendirian, kemandirian dapat berubah menjadi beban.

Pria yang terbiasa berpura-pura baik-baik saja sering merasa bahwa meminta bantuan adalah tanda kelemahan. Mereka lebih memilih memikul semuanya sendiri, bahkan ketika beban tersebut sudah terlalu berat.

Mereka mungkin berpikir:

"Aku harus bisa mengatasinya sendiri."
"Aku tidak mau merepotkan orang lain."
"Tidak ada yang akan mengerti."

Padahal, manusia pada dasarnya adalah makhluk sosial yang membutuhkan dukungan dari orang lain.

Baca Juga: 8 Hal yang Jarang Disia-siakan Energinya oleh Orang-Orang yang Benar-Benar Bahagia Menurut Psikologi

7. Kehilangan Minat pada Hal-Hal yang Dulu Disukai

Aktivitas yang dulu memberikan kebahagiaan perlahan terasa hambar. Hobi yang pernah membuat mereka bersemangat mulai ditinggalkan. Berkumpul dengan teman tidak lagi menarik, dan pencapaian yang dulu membanggakan kini terasa biasa saja.

Dalam psikologi, kondisi ini dikenal sebagai anhedonia, yaitu berkurangnya kemampuan untuk merasakan kesenangan.

Banyak orang menganggapnya sebagai rasa bosan biasa, padahal bisa menjadi sinyal bahwa tekanan emosional yang dipendam sudah berlangsung terlalu lama.

8. Selalu Berusaha Terlihat Kuat di Depan Semua Orang

Kebiasaan terakhir mungkin yang paling sulit dikenali. Mereka terus tersenyum, tetap bekerja, memenuhi tanggung jawab, bahkan membantu orang lain.

Dari luar, semuanya tampak baik-baik saja.

Namun, di balik citra "kuat" tersebut, mereka mungkin sedang kelelahan secara emosional. Mereka takut mengecewakan orang lain, takut dianggap lemah, atau khawatir kehilangan penghargaan jika menunjukkan sisi rentan mereka.

Psikologi menunjukkan bahwa terus-menerus mengenakan "topeng" dapat menyebabkan stres kronis, kelelahan emosional, dan menurunkan kualitas hubungan dengan orang-orang terdekat.

Baca Juga: Jika Orang Asing Sering Tersenyum pada Anda, Mungkin 7 Ciri Menawan Ini Ada dalam Diri Anda Menurut Psikologi

Penutup

Berpura-pura baik-baik saja memang bisa membantu seseorang bertahan dalam situasi tertentu. Namun, ketika hal itu berlangsung terlalu lama, tubuh dan pikiran akan mencari cara lain untuk mengekspresikan tekanan yang tidak pernah diberi ruang.

Menarik diri, mudah marah, terlalu sibuk, atau sulit meminta bantuan sering kali bukan tanda bahwa seseorang lemah. Sebaliknya, itu bisa menjadi sinyal bahwa ia sudah terlalu lama memikul beban sendirian.

Psikologi modern semakin menegaskan bahwa kekuatan sejati bukan berarti menahan semuanya seorang diri. Mengenali emosi, berbicara dengan orang yang dipercaya, dan mencari bantuan ketika diperlukan justru merupakan bentuk keberanian yang sehat.

Karena pada akhirnya, tidak ada manusia yang harus terus berpura-pura baik-baik saja setiap saat.

EDITOR: Candra Mega Sari