← Beranda
Seni Melepaskan: 10 Keterikatan yang Harus Anda Lepaskan untuk Akhirnya Melangkah Maju Menurut Psikologi
Irfan Ferdiansyah• Sabtu, 20 Juni 2026 | 23.44 WIB
Ilustrasi seseorang yang berhasil lepas dari keterikatan (Magnific/Teksomolika)

JawaPos.com - Tidak semua hal dalam hidup dimaksudkan untuk dipertahankan selamanya. Terkadang, hal yang paling menghambat pertumbuhan bukanlah kurangnya kemampuan atau kesempatan, melainkan keterikatan yang diam-diam terus kita genggam. Psikologi menunjukkan bahwa manusia cenderung mempertahankan sesuatu yang sudah dikenal, bahkan ketika hal itu tidak lagi memberikan manfaat atau kebahagiaan.

Seni melepaskan bukan berarti menyerah atau berhenti peduli. Sebaliknya, ini adalah kemampuan untuk menerima bahwa beberapa hal telah selesai, berubah, atau tidak lagi sesuai dengan diri kita yang sekarang. Dengan melepaskan, kita memberi ruang bagi pengalaman, hubungan, dan kemungkinan baru untuk masuk ke dalam hidup.

Dilansir dari Expert Editor pada Jumat (19/6), terdapat 10 keterikatan yang perlu dilepaskan agar Anda dapat benar-benar melangkah maju.

Baca Juga: Menurut Psikologi, Inilah 8 Perilaku yang Menjelaskan Mengapa Orang Baik Jarang Punya Teman Dekat

1. Keterikatan pada Masa Lalu

Banyak orang tanpa sadar terus hidup dalam kenangan, baik kenangan indah yang sudah berlalu maupun pengalaman menyakitkan yang terus menghantui.

Psikologi menyebut kecenderungan ini sebagai rumination, yaitu kebiasaan terus-menerus memikirkan kejadian yang sudah terjadi. Penelitian menunjukkan bahwa terlalu fokus pada masa lalu dapat meningkatkan stres, kecemasan, bahkan risiko depresi.

Belajar menerima bahwa masa lalu tidak dapat diubah adalah langkah penting untuk membangun masa depan yang lebih sehat. Kenangan dapat menjadi pelajaran, tetapi tidak seharusnya menjadi tempat tinggal permanen.

2. Kebutuhan untuk Menyenangkan Semua Orang

Keinginan untuk disukai adalah bagian alami dari manusia. Namun, ketika kebutuhan tersebut berubah menjadi kebiasaan mengorbankan diri demi mendapatkan persetujuan orang lain, hidup menjadi melelahkan.

Psikolog menjelaskan bahwa orang yang terlalu bergantung pada validasi eksternal sering mengalami kesulitan menentukan batasan yang sehat dan rentan mengalami kelelahan emosional.

Tidak semua orang akan menyukai Anda, dan itu bukan masalah. Hidup yang dijalani demi memenuhi ekspektasi semua orang sering kali membuat seseorang kehilangan dirinya sendiri.

3. Ekspektasi Bahwa Hidup Harus Selalu Sempurna

Media sosial dan budaya modern sering menciptakan ilusi bahwa hidup harus berjalan mulus dan bahagia setiap saat.

Padahal, psikologi positif menekankan bahwa kesejahteraan mental bukan berarti tidak pernah mengalami kesulitan, melainkan kemampuan untuk menghadapi pasang surut kehidupan dengan fleksibel.

Melepaskan standar kesempurnaan memungkinkan seseorang lebih menghargai kemajuan daripada terus mengejar sesuatu yang tidak realistis.

Baca Juga: 8 Hal yang Jarang Disia-siakan Energinya oleh Orang-Orang yang Benar-Benar Bahagia Menurut Psikologi

4. Rasa Bersalah yang Tidak Perlu

Merasa bersalah setelah melakukan kesalahan adalah hal yang wajar. Namun, membawa rasa bersalah selama bertahun-tahun dapat menjadi beban yang menghambat pertumbuhan.

Menurut psikologi, rasa bersalah yang berkepanjangan sering kali tidak lagi berfungsi sebagai pengingat moral, tetapi berubah menjadi hukuman terhadap diri sendiri.

Belajar memaafkan diri sendiri bukan berarti menghapus tanggung jawab, melainkan mengakui bahwa manusia dapat belajar dan berkembang dari kesalahan.

5. Hubungan yang Sudah Tidak Sehat

Tidak semua hubungan layak dipertahankan hanya karena telah berlangsung lama.

Psikologi hubungan menunjukkan bahwa hubungan yang dipenuhi manipulasi, penghinaan, atau ketidakseimbangan emosional dapat memengaruhi kesehatan mental dan harga diri seseorang.

Melepaskan hubungan yang toksik memang menyakitkan, tetapi sering kali menjadi langkah yang diperlukan untuk menemukan kedamaian dan hubungan yang lebih sehat.

Baca Juga: Jika Orang Asing Sering Tersenyum pada Anda, Mungkin 7 Ciri Menawan Ini Ada dalam Diri Anda Menurut Psikologi

6. Identitas Lama yang Sudah Tidak Sesuai

Kadang-kadang, yang perlu dilepaskan bukan orang lain, melainkan versi lama dari diri sendiri.

Mungkin Anda masih memegang label seperti "orang yang selalu kuat", "orang yang tidak boleh gagal", atau "orang yang harus menyenangkan semua orang". Identitas tersebut mungkin pernah membantu, tetapi tidak lagi sesuai dengan kebutuhan Anda saat ini.

Psikologi perkembangan menunjukkan bahwa manusia terus berubah sepanjang hidup. Bertumbuh berarti memberi izin pada diri sendiri untuk menjadi seseorang yang berbeda dari masa lalu.

7. Ketakutan Akan Kegagalan

Banyak mimpi tidak pernah diwujudkan bukan karena kurangnya kemampuan, melainkan karena takut gagal.

Menurut teori growth mindset dari psikolog Carol Dweck, orang yang melihat kegagalan sebagai kesempatan belajar cenderung lebih tangguh dan lebih sukses dalam jangka panjang dibanding mereka yang menganggap kegagalan sebagai bukti ketidakmampuan.

Tidak ada pertumbuhan tanpa kemungkinan melakukan kesalahan. Kegagalan bukan akhir perjalanan, melainkan bagian dari proses.

8. Kebutuhan untuk Selalu Mengendalikan Segalanya

Manusia secara alami mencari kepastian. Namun, kenyataannya, banyak hal berada di luar kendali kita.

Berusaha mengontrol segala sesuatu, mulai dari pendapat orang lain hingga hasil yang belum terjadi sering kali justru meningkatkan kecemasan.

Psikologi menerima bahwa kesejahteraan emosional meningkat ketika seseorang mampu membedakan antara hal yang dapat ia kendalikan dan hal yang harus ia terima.

Melepaskan bukan berarti pasif, melainkan memahami bahwa tidak semua hal membutuhkan kendali penuh.

Baca Juga: Orang yang Lebih Menyukai Keheningan daripada Musik di Rumah Memiliki 8 Ciri Tidak Biasa Ini Menurut Psikologi

9. Perbandingan dengan Orang Lain

Membandingkan diri dengan orang lain adalah jebakan yang sangat umum di era digital.

Teori perbandingan sosial dari psikolog Leon Festinger menjelaskan bahwa manusia secara alami membandingkan dirinya dengan orang lain. Namun, ketika hal tersebut dilakukan terus-menerus, seseorang dapat kehilangan rasa syukur dan merasa tidak pernah cukup.

Setiap orang memiliki waktu, latar belakang, dan perjalanan yang berbeda. Membandingkan bab pertama hidup Anda dengan bab kesepuluh milik orang lain hanya akan menimbulkan frustrasi.

Ukuran terbaik untuk kemajuan adalah versi diri Anda di masa lalu, bukan kehidupan orang lain.

10. Anggapan Bahwa Sudah Terlambat untuk Memulai Lagi

Banyak orang terjebak dalam keyakinan bahwa kesempatan mereka sudah lewat karena usia, kegagalan, atau keputusan masa lalu.

Padahal, psikologi menunjukkan bahwa manusia memiliki kemampuan untuk belajar dan beradaptasi sepanjang hidup. Otak memiliki sifat yang disebut neuroplasticity, yaitu kemampuan untuk membentuk jalur baru melalui pengalaman dan pembelajaran.

Tidak ada usia yang terlalu tua untuk memulai kebiasaan baru, mengubah karier, memperbaiki hubungan, atau menemukan makna yang lebih dalam dalam hidup.

Yang paling sering menghambat seseorang bukanlah waktu, melainkan keyakinan bahwa perubahan sudah tidak mungkin lagi.

Baca Juga: 10 Frasa yang Digunakan Orang Tua Terbaik untuk Mendisiplinkan Anak Tanpa Merusak Semangat Mereka Menurut Psikologi

Penutup

Seni melepaskan bukan tentang kehilangan, melainkan tentang menciptakan ruang bagi sesuatu yang lebih baik. Melepaskan masa lalu, kebutuhan akan persetujuan orang lain, rasa bersalah, hubungan yang tidak sehat, hingga ketakutan akan kegagalan memungkinkan kita melangkah dengan lebih ringan dan lebih sadar.

Menurut psikologi, pertumbuhan pribadi tidak hanya ditentukan oleh apa yang kita kejar, tetapi juga oleh apa yang berani kita lepaskan. Karena terkadang, langkah terbesar ke depan dimulai ketika kita berhenti menggenggam sesuatu yang sebenarnya sudah waktunya dilepas.

Pada akhirnya, melepaskan bukanlah tanda kelemahan. Justru di situlah sering kali ditemukan kebebasan, kedamaian, dan kesempatan untuk memulai kembali dengan cara yang lebih sehat dan lebih bermakna.

EDITOR: Candra Mega Sari