← Beranda
8 Hal yang Mungkin Diingat Anak-Anak dari Ibu yang Baik tentang Masa Kecil Mereka Menurut Psikologi
Irfan Ferdiansyah• Sabtu, 20 Juni 2026 | 23.22 WIB
Ilustrasi seseorang yang selalu hadir untuk anaknya (Magnific/Freepik)

JawaPos.com - Masa kecil tidak selalu dikenang melalui hadiah mahal atau momen-momen besar yang spektakuler. Dalam banyak penelitian psikologi perkembangan, kenangan yang paling membekas justru berasal dari pengalaman sehari-hari yang membuat seorang anak merasa aman, dicintai, dan dihargai.

Ketika seorang ibu mampu menghadirkan rasa nyaman dan dukungan yang konsisten, hal itu akan menjadi fondasi yang memengaruhi kesehatan emosional anak hingga dewasa.

Dilansir dari Expert Editor pada Jumat (19/6), terdapat delapan hal yang kemungkinan besar akan tetap diingat oleh anak-anak dari seorang ibu yang baik menurut sudut pandang psikologi.

Baca Juga: 10 Tanda Halus bahwa Kebaikan Seseorang Sebenarnya Manipulasi Menurut Psikologi

1. Mereka Selalu Merasa Didengar

Salah satu kebutuhan emosional terbesar anak adalah merasa bahwa perasaannya penting. Ibu yang baik tidak selalu memiliki jawaban untuk semua masalah, tetapi ia memberikan perhatian penuh ketika anak berbicara.

Menurut teori keterikatan (attachment theory), anak yang tumbuh dengan orang tua yang responsif akan memiliki rasa aman yang lebih tinggi. Mereka belajar bahwa perasaan mereka valid dan layak diperhatikan.

Bertahun-tahun kemudian, anak mungkin tidak mengingat setiap percakapan secara detail. Namun mereka akan mengingat bagaimana ibunya berhenti sejenak untuk mendengarkan cerita mereka sepulang sekolah, menanyakan kabar mereka, atau memberikan pelukan ketika mereka sedih.

Perasaan "aku didengarkan" menjadi kenangan yang sangat kuat dan membentuk kepercayaan diri di masa depan.

2. Kehadiran Ibu saat Mereka Membutuhkan

Dalam psikologi, kehadiran emosional lebih penting daripada kehadiran fisik semata. Anak-anak mengingat siapa yang menemani mereka ketika mereka takut, sakit, kecewa, atau menghadapi masalah.

Ibu yang baik tidak harus selalu berada di samping anak selama 24 jam. Namun ketika anak benar-benar membutuhkan dukungan, ia hadir dengan empati dan perhatian.

Bagi seorang anak, kehadiran seperti ini menciptakan rasa aman yang mendalam. Mereka tumbuh dengan keyakinan bahwa mereka tidak menghadapi dunia sendirian.

Saat dewasa, banyak orang mengenang bagaimana ibunya menemani mereka belajar, menjaga saat demam, atau sekadar duduk di samping ketika mereka sedang menangis.

3. Pelukan dan Kasih Sayang yang Tulus

Kontak fisik yang hangat memiliki pengaruh besar terhadap perkembangan emosi. Pelukan, ciuman, atau usapan lembut di kepala membantu tubuh melepaskan hormon oksitosin yang berkaitan dengan rasa nyaman dan kedekatan.

Anak-anak mungkin tidak mampu menjelaskan proses biologis tersebut, tetapi mereka mengingat perasaan yang muncul dari kasih sayang itu.

Kenangan sederhana seperti dipeluk sebelum tidur, digandeng saat berjalan, atau dielus ketika sedang takut sering kali bertahan hingga puluhan tahun.

Kasih sayang yang konsisten mengajarkan bahwa cinta tidak harus diperjuangkan dengan syarat tertentu. Mereka dicintai karena diri mereka sendiri.

Baca Juga: Menurut Psikologi, Orang yang Mempertahankan Persahabatan Seumur Hidup Biasanya Melakukan 8 Hal Kecil Ini

4. Ibu Menghargai Usaha, Bukan Hanya Hasil

Psikolog Carol Dweck memperkenalkan konsep growth mindset, yaitu pola pikir yang menghargai proses belajar dan usaha dibandingkan sekadar hasil akhir.

Ibu yang baik tidak hanya memuji ketika anak mendapatkan nilai sempurna atau memenangkan perlombaan. Ia juga menghargai kerja keras, keberanian mencoba, dan ketekunan anak.

Ketika anak gagal, ia tidak langsung menghakimi atau membandingkan dengan orang lain. Sebaliknya, ia membantu anak memahami bahwa kegagalan adalah bagian dari proses belajar.

Anak-anak yang tumbuh dalam lingkungan seperti ini cenderung memiliki rasa percaya diri yang lebih sehat dan tidak terlalu takut melakukan kesalahan.

Di masa dewasa, mereka akan mengingat bahwa ibunya selalu berkata:

"Tidak apa-apa gagal, yang penting kamu sudah berusaha."

Baca Juga: Jika Anda Masih Membuat Daftar Tugas Tulisan Tangan, Anda Mungkin Memiliki 7 Ciri Khas Ini Menurut Psikologi

5. Rumah Menjadi Tempat yang Aman secara Emosional

Psikologi menunjukkan bahwa lingkungan rumah yang stabil membantu perkembangan mental yang sehat. Anak-anak membutuhkan tempat yang membuat mereka merasa diterima tanpa takut dihakimi.

Ibu yang baik menciptakan suasana rumah yang penuh kehangatan, komunikasi, dan rasa hormat. Bukan berarti tidak pernah marah atau tidak pernah ada konflik, tetapi masalah diselesaikan dengan cara yang sehat.

Karena itu, ketika dewasa, anak-anak sering mengenang rumah masa kecil mereka sebagai tempat yang membuat mereka tenang.

Bahkan aroma masakan, suara ibu memanggil nama mereka, atau kebiasaan sederhana di rumah dapat menjadi sumber nostalgia yang menenangkan.

6. Ibu Mengajarkan Nilai Kehidupan Melalui Contoh

Anak belajar lebih banyak dari apa yang dilakukan orang tua dibandingkan dari apa yang mereka katakan.

Ibu yang menunjukkan kejujuran, kerja keras, kepedulian, dan rasa hormat terhadap orang lain sedang memberikan pelajaran yang jauh lebih kuat daripada nasihat panjang.

Menurut teori pembelajaran sosial dari Albert Bandura, anak mengembangkan perilaku melalui pengamatan dan peniruan terhadap figur yang dekat dengan mereka.

Karena itu, banyak orang dewasa yang menyadari bahwa kebiasaan baik mereka sebenarnya berasal dari ibunya.

Mereka mungkin berkata:

"Saya belajar menghargai orang lain karena melihat ibu saya melakukannya setiap hari."

Baca Juga: 9 Tanda Seseorang Sebenarnya Merasa Kesepian Menurut Psikologi, Meski Selalu Tampak Sibuk

7. Dukungan Saat Mereka Mengejar Impian

Anak-anak memiliki rasa ingin tahu dan mimpi yang terus berkembang. Ibu yang baik memberikan ruang bagi anak untuk mengeksplorasi minat mereka tanpa terlalu banyak meremehkan atau memaksakan keinginan pribadi.

Dukungan ini tidak selalu berbentuk materi. Terkadang, dukungan terbesar adalah kalimat sederhana seperti:

"Coba saja dulu. Ibu percaya kamu bisa."

Kepercayaan yang diberikan orang tua memiliki pengaruh besar terhadap pembentukan konsep diri anak.

Saat dewasa, anak-anak sering mengingat siapa orang pertama yang percaya pada kemampuan mereka. Dalam banyak kasus, sosok itu adalah ibu mereka.

Baca Juga: 11 Ucapan Pria EQ Rendah yang Mencerminkan Kecerdasan Emosional Buruk Menurut Psikologi

8. Cinta yang Tidak Bergantung pada Kesempurnaan

Mungkin inilah kenangan yang paling berharga.

Ibu yang baik tidak mencintai anak hanya ketika mereka berprestasi, patuh, atau membanggakan. Ia tetap hadir ketika anak melakukan kesalahan, gagal, atau mengalami masa-masa sulit.

Psikologi menyebutnya sebagai unconditional positive regard, yaitu penerimaan yang tidak bergantung pada syarat tertentu.

Anak yang tumbuh dengan cinta seperti ini cenderung memiliki harga diri yang lebih sehat dan hubungan interpersonal yang lebih baik di masa dewasa.

Bertahun-tahun kemudian, mereka mungkin tidak mengingat semua hadiah yang pernah diberikan ibunya. Namun mereka akan mengingat satu hal yang paling penting:

"Aku tahu ibuku mencintaiku, bahkan ketika aku tidak menjadi sempurna."

Penutup

Kenangan masa kecil yang paling membekas bukanlah tentang mainan mahal, liburan mewah, atau pencapaian besar. Menurut psikologi, yang paling lama tersimpan dalam ingatan adalah pengalaman emosional yang membuat anak merasa aman, dihargai, dan dicintai.

Seorang ibu yang baik bukanlah ibu yang sempurna. Tidak ada orang tua yang selalu benar atau tidak pernah melakukan kesalahan. Namun melalui perhatian, kehadiran, kasih sayang, dan dukungan yang konsisten, seorang ibu dapat meninggalkan jejak yang akan terus hidup dalam hati anak-anaknya, bahkan ketika mereka telah tumbuh dewasa.

Pada akhirnya, yang paling mungkin dikenang oleh seorang anak bukanlah seberapa banyak yang diberikan ibunya, melainkan bagaimana ibunya membuat mereka merasa dicintai dan diterima sepanjang masa kecil mereka.

Baca Juga: Menurut Psikologi, Orang yang Mempertahankan Persahabatan Seumur Hidup Biasanya Melakukan 8 Hal Kecil Ini

EDITOR: Candra Mega Sari