← Beranda
11 Ucapan Pria EQ Rendah yang Mencerminkan Kecerdasan Emosional Buruk Menurut Psikologi
Mohammad Maulana Iqbal• Sabtu, 20 Juni 2026 | 15.36 WIB
Ucapan pria EQ rendah yang mencerminkan kecerdasan emosional buruk menurut psikologi / foto : Magnific/ stockking

JawaPos.com – Psikologi menjelaskan bahwa kecerdasan emosional atau EQ seseorang paling mudah dikenali justru saat tidak ada, terutama dari ucapan-ucapan yang diulang pria secara rutin.

Pria dengan EQ rendah sering terlihat menarik di awal, namun ucapan-ucapan khas mereka perlahan mengungkap rendahnya kecerdasan emosional yang mereka miliki.

Banyak pria tidak pernah diajarkan regulasi emosi yang sehat sejak kecil, sehingga ucapan-ucapan manipulatif atau defensif menjadi pola yang sangat sulit untuk diubah.

Dilansir dari laman YourTango pada Sabtu (20/6), berikut sebelas ucapan yang jika sering diulang oleh seorang pria menunjukkan bahwa kecerdasan emosional atau EQ mereka sangat rendah menurut psikologi.

Baca Juga: Jika Kamu Jeli, Ini 10 Perilaku Kepribadian Buruk yang Mudah Dikenali Menurut Psikologi

1. "Kamu terlalu sensitif"

Kalimat ini membalik percakapan yang seharusnya membahas perilaku yang menyakitkan menjadi diskusi tentang apakah seseorang berhak merasa terluka.

Orang dengan kecerdasan emosional tinggi biasanya mencoba memahami perasaan orang lain sebelum langsung mengabaikan atau menganggapnya tidak beralasan.

2. "Aku benci drama"

Ironisnya, orang yang sering mengucapkan kalimat ini biasanya justru ada di pusat dari drama yang mereka klaim benci tersebut.

Pria dengan EQ rendah melabeli setiap diskusi tentang akuntabilitas atau konflik yang perlu diselesaikan sebagai drama semata agar terhindar dari tanggung jawab emosional.

3. "Memang begitu caraku"

Kalimat ini terdengar jujur namun sebenarnya adalah penolakan untuk berkembang yang disamarkan sebagai kejujuran tentang diri sendiri.

Pria dengan kematangan emosional bisa mengakui perilaku yang merusak tanpa merasa pertumbuhan pribadi adalah serangan terhadap identitas dirinya.

4. "Tenang dulu"

Meminta seseorang untuk tenang saat emosi mereka muncul biasanya mengandung pesan bahwa ekspresi emosional tersebut tidak rasional atau merepotkan.

Pria dengan EQ rendah merasa sangat tidak nyaman dengan emosi yang terlihat dan ingin menjaga percakapan tetap terkontrol karena tidak tahu cara menavigasi intensitas emosional.

5. "Perempuan itu memang..."

Setiap kalimat yang dimulai dengan generalisasi seperti ini mencerminkan ketidakmampuan melihat perempuan sebagai individu dengan pengalaman dan kepribadian yang berbeda-beda.

Pria dengan EQ tinggi memahami bahwa menggeneralisasi seluruh kelompok orang biasanya mengungkap kebencian yang belum terselesaikan daripada mengungkap kebijaksanaan apapun.

6. "Aku cuma bercanda"

Humor yang muncul langsung setelah seseorang merasa terluka adalah taktik perlindungan untuk menghindari konsekuensi dari komentar yang sebenarnya menyakitkan.

Masalah muncul ketika lelucon secara konsisten menargetkan ketidakamanan, batas pribadi, atau kerentanan seseorang dan hanya disebut lelucon setelah ada reaksi negatif.

7. "Pria tidak membicarakan perasaan"

Pria yang mengucapkan ini biasanya segera menghilang tepat sebelum percakapan emosional yang jujur dan penting perlu terjadi dalam sebuah hubungan.

Penekanan emosi tidak menghapus perasaan, melainkan mengubur mereka hingga muncul kembali sebagai kemarahan, jarak, atau penarikan emosional yang merusak hubungan.

8. "Kamu terlalu banyak berpikir"

Kalimat ini sering digunakan bukan untuk membantu, melainkan untuk mengakhiri percakapan emosional yang membuat pria tersebut merasa tidak nyaman secara internal.

Pria dengan EQ rendah lebih memilih untuk mengurangi kekhawatiran orang lain menjadi analisis irasional daripada benar-benar menghadapi isi dari kekhawatiran tersebut.

9. "Sudah begini adanya"

Ada momen di mana penerimaan memang diperlukan, namun kalimat ini sering digunakan sebagai cara untuk menghindari tanggung jawab emosional sepenuhnya.

Orang dengan kecerdasan emosional memahami bahwa penerimaan dan akuntabilitas seharusnya berjalan beriringan, bukan menjadi alasan untuk mengabaikan pertumbuhan yang diperlukan.

10. "Kamu mau jadikan aku orang jahat"

Alih-alih mendengarkan kritik, pria dengan EQ rendah langsung beralih ke mode perlindungan diri dan mengubah diskusi menjadi pertahanan identitas pribadi mereka.

Orang dengan kecerdasan emosional tinggi memahami bahwa kritik bukan pembunuhan karakter, sementara pria EQ rendah menganggap akuntabilitas sebagai ancaman besar.

11. "Aku tidak peduli"

Pria yang berulang kali mengumumkan ketidakpeduliannya kemungkinan besar sebenarnya sedang menghindari perasaan mereka karena kepedulian membutuhkan kerentanan yang mereka takuti.

Orang yang sehat secara emosional peduli pada hubungan, komunikasi, dan pertumbuhan, sementara ketidakpedulian yang ditampilkan hanyalah upaya perlindungan diri yang tidak berhasil.

EDITOR: Setyo Adi Nugroho