JawaPos.com – Orang yang merasa sengsara hampir selalu bisa dikenali dari hal-hal yang mereka pedulikan secara berlebihan dalam kehidupan sehari-hari mereka.
Secara psikologi, kebiasaan negatif yang terus diulang tidak selalu menjadi penyebab utama kesengsaraan seseorang, tetapi pasti memperparah dan melanggengkan siklus tersebut.
Para ahli bahkan menyebut bahwa orang paling sengsara cenderung menghabiskan banyak waktu dalam kepala mereka sendiri dengan sudut pandang dunia yang lebih realistis namun tidak tersaring.
Dilansir dari laman YourTango pada Kamis (18/6), berikut sepuluh tanda yang bisa menggambarkan seberapa sengsara seseorang hanya dari apa yang terlalu mereka pedulikan setiap harinya.
1. Mengamati dinamika kelompok secara berlebihan
Orang yang sengsara cenderung terus memantau siapa yang menyukai mereka dan apakah mereka diterima atau tidak dalam lingkungan sosial di sekitarnya.
Mereka terbiasa merasa tidak diinginkan sehingga memilih menonton dari pinggiran daripada hadir sebagai diri sendiri dan membiarkan koneksi terjadi secara alami.
Bahkan bagi introvert sekalipun, pola perilaku "orang luar" ini bisa menjadi faktor risiko depresi ketika tidak diseimbangkan dengan keterlibatan sosial yang disengaja.
2. Mencari seseorang untuk disalahkan
Orang yang sengsara hampir selalu perlu menutup lingkaran dengan menemukan siapa yang harus disalahkan atas setiap situasi buruk yang mereka alami.
Mereka tidak bisa memaafkan dan melepaskan, melainkan terus mencari validasi eksternal atau kepastian dari luar agar bisa merasa lebih baik secara emosional.
Melepaskan sesuatu adalah tindakan mencintai diri sendiri, terlepas dari apakah situasi atau orang tersebut layak mendapat pengampunan atau tidak.
3. Terobsesi dengan apa yang terjadi di ponsel mereka
Orang yang kronis merasa sengsara sering kali sepenuhnya tergantung pada perangkat mereka sebagai sumber validasi dan cara menghindari emosi yang sesungguhnya.
Harga diri mereka sangat tidak stabil karena bergantung pada perhatian online atau stimulasi teknologi yang digunakan sebagai mekanisme koping yang keliru.
Kebutuhan untuk selalu tahu apa yang terjadi dan takut ketinggalan membuat mereka semakin terkuras secara emosional dari waktu ke waktu.
4. Terlalu fokus pada hal yang paling mereka khawatirkan
Orang yang sengsara secara inheren pesimistis dan hampir selalu terjebak dalam skenario terburuk tanpa mampu menghargai apa yang sudah mereka miliki saat ini.
Para ahli dari University of Cambridge menjelaskan bahwa sesekali mendorong pergi pikiran negatif yang tidak perlu justru lebih baik bagi kesehatan mental daripada terus merenungkannya.
Tidak setiap pikiran buruk harus tinggal dalam pikiran, terutama di awal hari atau dalam momen-momen yang penuh tekanan dan stres.
5. Membuktikan etos kerja kepada orang lain
Orang yang benar-benar pekerja keras menghargai upaya mereka bukan dari pujian eksternal, melainkan dari niat internal dan rasa harga diri yang tumbuh dari dalam.
Orang yang sengsara justru mendorong diri melampaui batas demi menunjukkan seberapa jauh mereka bisa melangkah, mengorbankan tidur, istirahat, dan keseimbangan hidup.
Orang yang paling bahagia justru menetapkan batas yang jelas dan sangat berhati-hati dalam menginvestasikan energi mereka pada hal-hal yang benar-benar penting.
6. Bergosip tentang orang lain
Orang yang sengsara sering terlalu fokus pada kebiasaan yang menguras energi dan tidak pernah membangun kehidupan yang benar-benar autentik dan menarik.
Hal paling menarik yang mereka bawa ke percakapan hampir selalu tentang orang lain, bukan tentang diri mereka sendiri atau pengalaman nyata yang mereka jalani.
Gosip yang berakar dari penghakiman negatif dan kerahasiaan hanya mengunci seseorang dalam lingkaran negativitas yang semakin sulit untuk diputus.
7. Terus mencari kenyamanan dan kemudahan
Budaya instan membuat banyak orang semakin egois dan sengsara karena mereka kehilangan ketidaknyamanan yang justru mendorong pertumbuhan pribadi yang sesungguhnya.
Waktu sendirian terasa menakutkan dan mencoba hal baru terasa mustahil bagi mereka yang terus-menerus butuh kepuasan instan dan stimulasi konstan.
Akibatnya mereka merasa terjebak dalam kehidupan yang tidak mereka sukai tanpa alat atau tujuan yang cukup untuk keluar dari kondisi tersebut.
8. Selalu menjadi korban dalam setiap situasi
Bahkan ketika mereka sendiri yang menyakiti orang lain atau melakukan kesalahan, orang yang paling sengsara tetap hidup dalam mentalitas korban yang kronis.
Mereka tidak memiliki kecerdasan emosional atau rasa aman dalam diri untuk mengakui kesalahan sehingga terus menginvalidasi orang lain dan melarikan diri dari ketidaknyamanan.
Siklus ketidakjujuran dan gejolak batin ini terus berlanjut semata-mata karena mereka tidak mau menghadapi kebenaran tentang diri mereka sendiri.
9. Selalu bersiap menghadapi skenario terburuk
Otak manusia secara alami condong pada negativitas sebagai mekanisme bertahan hidup, namun tidak mampu melihat gambaran besar adalah yang membuat orang cemas tetap terjebak.
Para ahli memperingatkan bahwa kepedulian kronis terhadap kemungkinan buruk dan negativitas yang terus-menerus menempatkan seseorang pada risiko depresi dan disfungsi otak.
Mereka tidak bisa memutus siklus pola pikir negatif ini sehingga terus berputar di dalam loop yang sama tanpa jalan keluar yang terlihat.
10. Harus selalu benar dalam setiap situasi
Orang yang sengsara sangat peduli pada kemenangan dan tidak bisa meletakkan ego mereka di pinggir bahkan dalam konflik hubungan yang mestinya diselesaikan bersama.
Mereka perlu merasa superior dan in control sehingga hampir tidak pernah bisa menyelesaikan konflik sebagai satu tim yang saling mendukung.
Obsesi untuk selalu benar ini pada akhirnya mendorong semua orang menjauh dan memperparah kesendirian yang sebenarnya sudah sangat mereka rasakan.