JawaPos.com - Malam hari seharusnya menjadi waktu pemulihan, tetapi bagi orang yang cemas menghadapi hari esok, malam justru menjadi arena pergulatan psikologi yang melelahkan.
Kebiasaan-kebiasaan yang dilakukan di malam hari untuk mengatasi kecemasan ini sering kali justru memperburuk kekhawatiran dan kualitas tidur secara keseluruhan.
Memahami pola-pola ini penting agar siapa pun bisa mengenali kapan kebiasaan malam mereka sebenarnya sedang bekerja melawan kesehatan mental mereka sendiri.
Dilansir dari laman YourTango pada Jumat (5/6), berikut sembilan hal kecil yang sering dilakukan orang-orang yang diam-diam takut menghadapi pagi hari berikutnya.
Baca Juga: 9 Hal yang Tidak Diposting Orang Cerdas di Media Sosial Menurut Psikologi
1. Memutar ulang percakapan dan interaksi yang sudah terjadi
Mereview kembali percakapan yang sudah berlalu di malam hari hanya membuat pikiran tetap aktif padahal otak sangat membutuhkan istirahat.
Pola overthinking ini biasanya terjadi ketika seseorang hidup dalam mode fight or flight yang membuat pikiran terus berputar tanpa bisa dihentikan.
Psikolog Jeffrey Bernstein menyarankan untuk menggunakan frasa seperti "pikiran ini bisa menunggu" sebagai cara memutus siklus kecemasan yang tidak produktif itu.
2. Terobsesi mengulang daftar tugas di kepala
Alih-alih menuliskan semua kewajiban dan mengeluarkannya dari kepala, orang yang cemas justru mencoba menghafalkan semua tugas esok hari sambil berusaha rileks.
Studi dari Journal of Experimental Psychology menunjukkan bahwa menulis daftar tugas sebelum tidur secara efektif membantu mengurangi kecemasan dan overthinking di malam hari.
Keheningan malam adalah lingkungan yang sangat subur untuk overthinking, tetapi itu bukan kebiasaan yang tidak bisa diubah dengan intervensi yang tepat.
3. Menunda tidur demi mendapat ruang pribadi
Banyak orang yang kelelahan dengan jadwal padat memilih mengorbankan tidur di malam hari demi mendapatkan waktu untuk diri sendiri yang tidak sempat mereka miliki siang hari.
Meskipun sekilas terasa seperti kebutuhan yang valid, kebiasaan ini secara konsisten merusak jadwal tidur dan memperburuk tingkat kecemasan dalam jangka panjang.
Rasa damai yang diraih di jam-jam dini hari sering kali menjadi satu-satunya hal yang mereka nantikan di tengah kepadatan hidup yang terus berulang.
4. Menggulir layar ponsel tanpa tujuan
Studi dari Sleep Science menemukan bahwa ketergantungan pada hiburan layar di malam hari secara langsung merusak kemampuan otak untuk beristirahat secara mendalam.
Layar mempertahankan otak dalam kondisi waspada tinggi di saat yang seharusnya digunakan untuk melepaskan tekanan dan mempersiapkan tubuh untuk tidur.
Semakin banyak waktu yang dihabiskan dengan ponsel di tempat tidur, semakin buruk kualitas tidur yang didapatkan bahkan jika niatnya adalah untuk relaksasi.
5. Memulai proyek-proyek acak di tengah malam
Kurang tidur secara langsung menurunkan suasana hati dan meningkatkan kecemasan, sehingga mengorbankan tidur untuk aktivitas produktif adalah paradoks yang merugikan diri sendiri.
Membersihkan rumah atau memulai proyek kecil tengah malam adalah cara seseorang mengisi keheningan yang sebenarnya sangat dibutuhkan oleh otak untuk memulihkan diri.
Meskipun aktivitas itu tampak produktif, itu hanyalah strategi penghindaran yang semakin menjauhkan mereka dari istirahat yang sesungguhnya mereka perlukan.
6. Bekerja terlalu larut malam
Bagi mereka yang stres terkait pekerjaan, terus bekerja hingga larut malam terasa seperti cara untuk mengendalikan ketidakpastian yang menakutkan di hari berikutnya.
Namun ketika ketenangan yang dicari dari kerja keras ini datang dengan mengorbankan tidur, seseorang sebenarnya sedang merusak kesehatan dan ketahanan mentalnya secara bertahap.
Tidak ada produktivitas sejati yang bisa dibangun di atas fondasi tidur yang terus-menerus dikurbankan demi rasa aman yang sifatnya sementara.
7. Melamunkan kehidupan yang berbeda
Di malam hari, orang yang terjebak dalam situasi yang tidak menyenangkan sering membuat janji-janji pada diri sendiri tentang perubahan yang akan dilakukan besok.
Namun ketika kenyataan pagi hari tidak sesuai dengan imajinasi malam, kesenjangan itu justru menciptakan lebih banyak rasa malu dan kecemasan dari sebelumnya.
Melamunkan kehidupan yang berbeda tanpa tindakan nyata hanya memperdalam perasaan terjebak dan tidak berdaya yang sudah ada.
8. Membayangkan semua hal yang bisa salah
Meskipun tampak seperti cara bersiap-siap, terus memikirkan skenario terburuk sebenarnya hanya menambah lapisan stres yang tidak perlu di atas kecemasan yang sudah ada.
Pikiran yang difokuskan terus-menerus pada hal-hal negatif secara bertahap melatih ulang pikiran bawah sadar untuk menjadikan negativitas sebagai pandangan dunia default.
Bahkan tanpa percaya pada konsep manifestasi, cara kita berpikir sangat memengaruhi bagaimana kita mengalami dan merespons realitas di sekitar kita.
9. Membiarkan televisi menyala sepanjang malam
Studi dari The Gerontologist menemukan bahwa suara latar dari televisi bisa berfungsi sebagai pengalih perhatian bagi mereka yang berjuang dengan kecemasan atau turbulensi emosional.
Membiarkan tayangan terus berjalan adalah cara untuk mencegah keheningan yang terasa terlalu berat untuk ditanggung oleh sistem saraf yang sudah kelelahan.
Namun kebiasaan ini menghalangi otak untuk masuk ke fase istirahat yang dalam sehingga kualitas tidur dan kesehatan mental terus terkikis dari malam ke malam.
Baca Juga: 10 Hal yang Paling Membuat Orang Cerdas Frustrasi saat Percakapan Menurut Psikologi