JawaPos.com – Psikologi menjelaskan bahwa menjadi workaholic bukan hanya soal kecintaan pada pekerjaan, melainkan pola kerja berlebihan yang merusak berbagai aspek kehidupan.
Tanda-tanda seseorang yang hidupnya hanya berputar pada kerja berlebihan bisa terlihat dari cara mereka berinteraksi dan merespons lingkungan sekitarnya.
Riset membuktikan bahwa produktivitas tinggi membutuhkan keseimbangan hidup, bukan dedikasi penuh yang justru berujung pada kerusakan emosional dan relasional.
Dilansir dari laman YourTango pada Kamis (4/6), berikut empat tanda nyata seseorang yang hidup dan bernapas hanya untuk pekerjaan berdasarkan sudut pandang psikologi yang perlu diwaspadai.
Baca Juga: 9 Hal yang Tidak Diposting Orang Cerdas di Media Sosial Menurut Psikologi
1. Terlalu serius menanggapi umpan balik dan kritik
Setiap orang melakukan beberapa hal dengan baik dan membutuhkan peningkatan di area lainnya, karena tidak ada yang sempurna dalam pekerjaan apapun.
Orang yang terlalu berkomitmen pada pekerjaan cenderung kesulitan menerima umpan balik yang membangun tanpa merasa harga diri mereka terancam.
Di suatu titik, sebagian dari mereka meyakini bahwa nilai diri mereka ditentukan sepenuhnya oleh seberapa sempurna hasil kerja yang mereka hasilkan.
Ketika umpan balik datang, gambaran diri mereka sebagai pekerja sempurna terasa hancur meski umpan balik itu sebenarnya adalah peluang pertumbuhan yang berharga.
Secara objektif, kritik dan umpan balik adalah kesempatan emas untuk memahami apa yang perlu dilakukan lebih banyak atau lebih sedikit ke depannya.
Ketidakmampuan menerima masukan dengan lapang dada justru menghambat perkembangan profesional dan mencerminkan kerapuhan emosional yang dalam.
2. Menolak untuk memutus koneksi dari pekerjaan
Seseorang yang selalu sibuk dengan urusan kerja bahkan di tengah kumpul keluarga atau teman tidak memberikan kebaikan kepada siapapun, termasuk diri sendiri.
Gambaran yang terbentuk dalam pikiran mereka adalah bahwa mereka terlihat proaktif dan berdedikasi, padahal efeknya justru sebaliknya bagi orang sekitar.
Tanpa jeda untuk benar-benar memutus koneksi dari pekerjaan, pikiran kreatif dan inovatif tidak akan pernah punya ruang untuk muncul dan berkembang.
Padahal, ide-ide segar dan inovatif justru sangat diperlukan untuk terus sukses dalam pekerjaan itu sendiri dalam jangka panjang.
Data awal 2025 mencatat bahwa tingkat stres terkait karier mencapai titik tertinggi sepanjang sejarah, dengan hampir 74 persen tenaga kerja AS mengalami gejala burnout.
Ketidakmampuan memutus koneksi bukan tanda dedikasi sejati, melainkan jalan cepat menuju kelelahan total yang justru menurunkan performa secara keseluruhan.
3. Menjadikan karier sebagai seluruh identitas diri
Mengidentifikasi diri terlalu erat dengan satu peran atau identitas tunggal manapun adalah fondasi yang rapuh dan penuh risiko dalam kehidupan seseorang.
Setiap orang menjalankan banyak peran dalam sehari, dan menjalani semua peran itu hampir sepenuhnya hanya di tempat kerja adalah tanda ketidakseimbangan yang serius.
Memiliki gambaran diri yang sangat sempit dan hanya terpusat pada identitas profesional secara umum tidak sehat bagi kesejahteraan mental jangka panjang.
Pertanyaan penting yang perlu direnungkan adalah apa yang benar-benar ingin dilakukan jika waktu dan uang bukan hambatan sama sekali.
Apa yang benar-benar peduli di luar pekerjaan, dan aktivitas apa yang memberikan kegembiraan tulus yang tidak ada hubungannya dengan target profesional?
Tanpa jawaban yang jelas atas pertanyaan-pertanyaan ini, seseorang telah membiarkan karier menyempitkan seluruh dimensi kemanusiaan mereka menjadi satu hal semata.
Baca Juga: 11 Hal yang Dilakukan Suami Tanpa Disadari hingga Istri Merasa Diabaikan Menurut Psikologi
4. Kesulitan membangun dan mempertahankan hubungan yang sehat
Pekerjaan datang dan pergi, namun hubungan dengan orang-orang yang dicintai adalah bagian paling bermakna dari kehidupan seseorang sebagai manusia seutuhnya.
Ketika seseorang terlalu terobsesi dengan pekerjaan, investasi waktu, energi, dan perhatian untuk hubungan di luar karier menjadi sangat minim dan tidak terprioritaskan.
Terapis keluarga Linda dan Charlie Bloom menjelaskan bahwa workaholism bisa menjadi ancaman nyata bagi hubungan dan pernikahan seseorang secara serius.
Berbeda dengan kecanduan lain, obsesi terhadap kerja justru sering dianggap sebagai sesuatu yang patut dikagumi dan dihargai oleh masyarakat luas.
Padahal di balik citra kekaguman itu, orang-orang terdekat mereka perlahan merasa diabaikan, tidak diprioritaskan, dan kehilangan koneksi yang pernah ada.
Mengakui bahwa kerja berlebihan merusak hubungan adalah langkah pertama yang paling penting menuju keseimbangan hidup yang sesungguhnya bermakna.
Baca Juga: 7 Kebiasaan Orang Tua Sabar saat Menghadapi Anak Rewel Menurut Psikologi