← Beranda
11 Tanda Psikologi Ibu Toxic yang Diam-diam Senang saat Anak Sengsara, Ini Efek Kesehatan Mental
Mohammad Maulana IqbalMinggu, 31 Mei 2026 | 20.55 WIB
Tanda psikologi ibu toxic yang diam-diam bahagia saat anaknya sengsara berimplikasi kesehatan mental / foto : Magnific/ freepik

JawaPos.com – Ibu toxic adalah kenyataan yang menyakitkan dan secara psikologi meninggalkan luka mendalam pada kesehatan mental anak hingga dewasa.

Tanda-tanda perilakunya tidak selalu terlihat jelas, namun pola yang berulang secara konsisten bisa dikenali jika kamu tahu apa yang harus dicermati.

Memahami ciri-ciri ibu toxic penting agar kamu bisa melindungi diri dan menetapkan batasan yang sehat dalam hubungan tersebut.

Dilansir dari laman YourTango pada Minggu (31/5), berikut sebelas tanda bahwa ibumu secara diam-diam merasa bahagia justru ketika kamu sedang mengalami kesulitan dalam hidupmu.

Baca Juga: 4 Ucapan Red Flag Pria yang Secara Psikologi Menandakan Ia Tidak Bisa Dipercaya dalam Hubungan

1. Selalu meremehkan pencapaianmu

Ibu yang baik selalu bangga dengan keberhasilan anaknya, tetapi ibu toxic justru cepat meremehkan pencapaian besar yang sudah kamu raih.

Ia menyalahkan keberuntungan atau mengklaim bahwa semua itu tidak akan terwujud tanpa kontribusinya, bukan karena kemampuanmu sendiri.

Profesor Raj Raghunathan mengingatkan bahwa paparan terus-menerus terhadap negativitas semacam ini lama-kelamaan bisa membuatmu menjadi tidak peduli atau penuh kecemasan.

2. Menghambat kemandirianmu

Ibu toxic menikmati ketergantungan anaknya karena itu memberinya rasa kontrol yang ia butuhkan atas kehidupanmu.

Ia tidak menginginkan kamu tumbuh menjadi pribadi yang mandiri dan berdiri sendiri, karena kemandirian berarti ia kehilangan kendali.

Alih-alih mendorongmu berkembang, ia justru secara halus menyabotase setiap langkah yang kamu ambil menuju kebebasan dan kepercayaan diri.

3. Membuatmu merasa bersalah karena bahagia tanpanya

Ketika kamu menjalani hidup dengan baik tanpa kehadirannya, ibu toxic akan membalikkan situasi dan menjadikanmu pihak yang bersalah.

Ia membuat kamu meragukan pilihan-pilihan hidup yang sebenarnya sudah tepat dan sehat untuk perkembangan dirimu sendiri.

Tujuannya adalah memastikan kamu terus merasa berhutang budi kepadanya, sehingga kamu tidak pernah benar-benar bisa lepas darinya.

4. Terus-menerus mengingatkan kesalahanmu di masa lalu

Ibu toxic tidak pernah membiarkan kesalahan masa lalumu benar-benar berlalu karena itu adalah alat kendali yang paling mudah ia gunakan.

Ia menyimpan catatan setiap kegagalanmu dan mengeluarkannya di waktu-waktu yang paling menyakitkan untuk menjatuhkan kepercayaan dirimu.

Baginya tidak ada yang namanya pertumbuhan atau perbaikan diri, karena membiarkanmu maju berarti ia kehilangan kekuasaannya atas hidupmu.

5. Selalu bersaing denganmu dalam setiap percakapan

Ibu toxic yang dipenuhi rasa tidak aman akan menjadikan hampir setiap percakapan sebagai arena kompetisi yang tidak perlu dan melelahkan.

Dari meremehkan pencapaianmu hingga sengaja melebih-lebihkan kehidupannya sendiri, tujuannya adalah membuatmu merasa lebih kecil darinya.

Terapis Dan Neuharth menjelaskan bahwa narsisis tidak berpikir dua kali untuk menyakiti orang lain demi mencapai apa yang mereka inginkan.

6. Merusak kepercayaan dirimu yang sedang tumbuh

Ibu toxic tidak tahan melihat anaknya berkembang dan merasa percaya diri, karena itu mengancam posisi superioritas yang ia pertahankan.

Ia akan mempermalukan, mengungkit masa lalu, atau meremehkanmu tanpa alasan jelas demi menjatuhkan kepercayaan diri yang sedang kamu bangun.

Selama tindakannya berhasil mengikis harga dirimu, ia tidak akan berhenti mencari cara baru untuk membuat kamu merasa kecil.

7. Marah besar ketika kamu menetapkan batasan yang sehat

Ibu yang benar-benar mendukungmu akan menghormati batasanmu meskipun itu berarti ada jarak yang perlu dijaga di antara kalian.

Sebaliknya, ibu toxic akan bereaksi dengan cara yang berlebihan seperti menangis, berteriak, atau berperan sebagai korban ketika kamu berkata tidak.

Semua reaksi dramatis itu dirancang untuk membuat kamu merasa bersalah dan akhirnya mengalah demi menyenangkan hatinya semata.

8. Menyebarkan kegagalanmu tapi menyembunyikan keberhasilanmu

Ibu toxic dengan antusias berbagi cerita tentang kegagalan dan masalahmu kepada keluarga atau teman-temannya, tetapi menutup mulut soal pencapaianmu.

Akibatnya, orang-orang di sekitar hanya mendengar sisi terburuk dari dirimu sehingga citra yang terbentuk tidak pernah mencerminkan siapa kamu sebenarnya.

Ini adalah strategi halus untuk memastikan kamu tidak pernah mendapat pengakuan yang layak dari orang-orang yang seharusnya mendukungmu.

9. Sengaja memberikan saran yang buruk

Terapis Karyl McBride menjelaskan bahwa iri hati membuat ibu yang tidak sehat secara emosional memberikan saran buruk demi menjaga harga dirinya yang rapuh.

Dengan menginginkanmu gagal, ia memastikan bahwa kamu tetap membutuhkan dan bergantung padanya tanpa pernah benar-benar bisa maju sendiri.

Berbeda dengan ibu yang peduli, ibu toxic tidak pernah benar-benar memberikan panduan yang jujur dan terbaik untukmu.

10. Kamu selalu merasa terkuras setelah berinteraksi dengannya

Interaksi dengan ibu seharusnya meninggalkan rasa hangat dan terhubung, bukan perasaan lelah dan penuh keraguan tentang dirimu sendiri.

Jika setiap pertemuan dengannya membuatmu merasa dikritik, tidak dihargai, dan tidak dipahami, itu adalah tanda yang sangat serius.

Ketika tidak ada tanda-tanda perubahan atau penghormatan terhadap batasanmu, menciptakan jarak demi kesehatan mentalmu adalah langkah yang perlu dipertimbangkan.

11. Secara aktif menyabotase hubungan sehatmu dengan orang lain

Ibu toxic melihat hubungan dekat yang kamu bangun dengan orang lain sebagai ancaman langsung terhadap kendali yang ia miliki atasmu.

Ketakutan terbesarnya adalah kamu menjadi dekat dan bergantung pada orang lain selain dirinya, sehingga ia berusaha merusak hubungan itu.

Menetapkan batasan yang jelas atau perlahan menciptakan jarak adalah langkah yang perlu diambil untuk melindungi kesehatan mentalmu jangka panjang.

EDITOR: Setyo Adi Nugroho