JawaPos.com – Psikologi menjelaskan bahwa karyawan terbaik di tempat kerja justru sering menjadi orang yang paling banyak menanggung beban dan frustrasi.
Frustrasi yang mereka rasakan bukan karena kurang kompeten, melainkan karena terlalu banyak dibebankan tanpa mendapat pengakuan yang sepadan.
Gallup mencatat bahwa hanya 20 persen karyawan secara global yang benar-benar terlibat dengan pekerjaannya, sementara sisanya berjuang dalam diam.
Dilansir dari laman YourTango pada Sabtu (30/5), berikut sembilan alasan mengapa karyawan terbaik di tempat kerja justru sering menjadi yang paling frustrasi berdasarkan sudut pandang psikologi.
1. Menanggung tanggung jawab melebihi jabatan mereka
Setidaknya 77 persen karyawan mengambil pekerjaan di luar deskripsi tugas mereka, dan karyawan terbaik adalah yang paling sering dimintai hal tersebut.
Mereka tidak selalu keberatan dengan tambahan tanggung jawab, namun tidak pernah mendapat kompensasi atau pengakuan yang layak atas kerja ekstra tersebut.
Ketika kelebihan beban terus terjadi tanpa manfaat yang sepadan, rasa tidak puas mulai menumpuk dan perlahan-lahan berubah menjadi kekecewaan yang dalam.
2. Menyadari ketidakefisienan yang tidak disadari orang lain
Karyawan berprestasi tinggi sering menjadi yang pertama menyadari sistem kerja yang sudah usang dan kebijakan manajemen yang tidak lagi relevan.
Ketika masalah-masalah tersebut diabaikan atau tidak ditindaklanjuti, pekerjaan mereka menjadi semakin berat dan frustrasi semakin menumpuk.
Tidak peduli seberapa sering mereka mengangkat masalah ke manajemen, tanpa solusi nyata kualitas kerja yang mereka hasilkan pun ikut terdampak secara signifikan.
3. Hampir tidak punya waktu untuk benar-benar beristirahat
Karyawan berprestasi tinggi sering dipenuhi pekerjaan terus-menerus tanpa ruang untuk bersantai atau memutuskan koneksi dari tekanan pekerjaan.
Tanpa waktu untuk benar-benar memulihkan diri, stres terus menumpuk hingga melampaui batas yang mampu ditanggung tubuh dan pikiran.
Karyawan terbaik tidak akan bisa menghasilkan karya berkualitas tanpa ada waktu untuk mengisi ulang energi dan menjalani kehidupan pribadi mereka.
4. Lebih sering diinterupsi dibanding rekan kerja lainnya
Karyawan terbaik sering mengalami kesulitan menyelesaikan pekerjaan mereka bukan karena menunda, melainkan karena terus-menerus ditarik untuk menangani hal lain.
Rekan kerja dan manajer cenderung berasumsi bahwa karena mereka kompeten, mereka pasti selalu punya waktu untuk mengambil tugas tambahan siapapun.
Akibatnya, pekerjaan utama mereka sering tertunda dan mereka harus lembur hanya untuk menyelesaikan tugas yang seharusnya sudah beres dari tadi.
5. Terlibat dalam terlalu banyak rapat yang tidak efisien
Sekitar 93 persen pekerja tidak puas dengan format rapat di tempat kerja mereka, sementara 45 persen menganggap rapat berlangsung terlalu lama.
Karyawan yang produktif dan disukai manajemen justru paling sering diikutsertakan dalam rapat-rapat yang menyita waktu kerja produktif mereka.
Banyak rapat yang sebenarnya bisa diselesaikan melalui email, namun tetap dilakukan dan menggerogoti waktu yang seharusnya digunakan untuk menyelesaikan pekerjaan nyata.
6. Ikut bertanggung jawab atas hasil kerja tim secara keseluruhan
Karyawan terbaik sering kali dibebani ekspektasi untuk memastikan hasil kerja seluruh tim berjalan dengan baik, meski itu bukan bagian dari jabatan mereka.
Ketika sesuatu tidak berjalan sesuai harapan, merekalah yang paling sering menanggung konsekuensinya meskipun manajemen seharusnya yang bertanggung jawab.
Situasi ini menimbulkan kepahitan terhadap atasan yang tidak menjalankan fungsi pengawasan mereka dengan benar dan melempar tanggung jawab ke bawah.
7. Jarang mendapatkan dukungan karena dianggap selalu bisa mengatasi segalanya
Karena hasil kerja mereka selalu dinilai baik, manajer cenderung berasumsi bahwa mereka tidak memerlukan bantuan atau arahan tambahan apapun.
Bahkan ketika mereka mendapat tugas tanpa instruksi yang jelas dan mencoba meminta bantuan, dukungan yang tersedia sangat terbatas atau bahkan tidak ada.
Prestasi masa lalu tidak otomatis berarti seseorang mampu menangani semua tantangan baru tanpa panduan, dan asumsi ini adalah sumber frustrasi yang nyata.
8. Jarang mendapat kredit karena pekerjaan mereka terlihat mudah
Karyawan terbaik sering tidak mendapat pengakuan yang layak karena cara mereka menyelesaikan tugas sulit terlihat sangat mudah dan tanpa usaha.
Manajer sering berasumsi bahwa tugas tersebut tidak membutuhkan banyak upaya, padahal di baliknya ada kerja keras yang sangat signifikan.
Tanpa pengakuan yang sepadan, perasaan tidak dihargai mulai mengakar dan membuat mereka merasa dimanfaatkan oleh tempat kerja yang seharusnya mengapresiasi mereka.
9. Lebih jelas melihat kesenjangan dalam kepemimpinan
Keterlibatan mendalam pada pekerjaan membuat karyawan terbaik dengan cepat mengenali tanda-tanda manajemen yang tidak terorganisir dan tidak kompeten.
Mereka terpaksa memperhatikan masalah kepemimpinan ini karena dampaknya langsung mempengaruhi beban kerja dan ekspektasi yang diletakkan di pundak mereka.
Ketika manajemen lemah dan tidak memiliki keterampilan yang dibutuhkan, dampaknya akhirnya dirasakan oleh seluruh orang yang ada di lingkungan kerja tersebut.