← Beranda
9 Momen Ketika Orang Dewasa Memilih Pergi Begitu Saja Menurut Psikologi, Kapankah Itu?
Irfan FerdiansyahJumat, 29 Mei 2026 | 20.25 WIB
seseorang yang memilih pergi begitu saja./Magnific/senivpetro

JawaPos.com - Dalam hidup, tidak semua orang memilih bertahan ketika menghadapi masalah, hubungan yang rumit, atau lingkungan yang melelahkan.

Ada saat-saat tertentu ketika seseorang yang sudah dewasa justru memutuskan untuk pergi diam-diam tanpa banyak penjelasan. Bukan karena mereka lemah, tetapi karena secara psikologis mereka merasa itu adalah cara terbaik untuk menjaga diri.

Menariknya, keputusan untuk “pergi begitu saja” sering kali bukan tindakan impulsif. Banyak orang dewasa memikirkannya lama, memendam emosi terlalu lama, lalu akhirnya memilih menghilang dari situasi yang dianggap tidak lagi sehat.

Dilansir dari Expert Editor pada Rabu (27/5), terdapat sembilan momen ketika orang dewasa biasanya memilih pergi begitu saja menurut psikologi.

1. Ketika Mereka Merasa Tidak Lagi Dihargai

Salah satu kebutuhan dasar manusia adalah merasa dihargai. Dalam psikologi sosial, penghargaan emosional menjadi bagian penting dari hubungan yang sehat, baik dalam keluarga, pertemanan, maupun pekerjaan.

Ketika seseorang terus-menerus merasa diabaikan, pendapatnya tidak dianggap, atau keberadaannya hanya dicari saat dibutuhkan, lama-kelamaan muncul kelelahan emosional. Pada titik tertentu, orang dewasa tidak lagi ingin memperjuangkan tempat yang bahkan tidak memberi mereka rasa berarti.

Alih-alih marah besar, banyak orang justru memilih diam lalu pergi perlahan. Mereka berhenti menghubungi, berhenti menjelaskan, dan berhenti hadir.

2. Saat Komunikasi Selalu Berakhir Menjadi Konflik

Psikologi hubungan menjelaskan bahwa komunikasi yang sehat seharusnya menciptakan rasa aman. Namun, ada hubungan yang setiap percakapannya justru berubah menjadi perdebatan, sindiran, atau saling menyalahkan.

Ketika seseorang merasa setiap penjelasan hanya akan memicu pertengkaran baru, otak mulai mengasosiasikan hubungan tersebut dengan stres. Akibatnya, sistem pertahanan diri aktif.

Banyak orang dewasa akhirnya memilih pergi karena mereka lelah menjelaskan sesuatu yang tidak pernah benar-benar didengarkan.

3. Ketika Mereka Sudah Terlalu Lama Mengalah

Dalam banyak hubungan, ada orang yang selalu menjadi pihak yang memahami, memaafkan, dan menurunkan ego lebih dulu. Pada awalnya, mereka melakukannya demi menjaga hubungan tetap utuh.

Namun secara psikologis, mengalah terus-menerus tanpa keseimbangan bisa memicu emotional exhaustion atau kelelahan batin. Mereka mulai merasa hubungannya berjalan sepihak.

Yang sering mengejutkan adalah: orang yang paling sabar justru sering menjadi orang yang pergi tanpa banyak kata. Sebab ketika kesabaran habis, mereka biasanya sudah tidak punya energi untuk berdebat lagi.

4. Saat Mereka Menyadari Kehadirannya Tidak Membawa Perubahan

Ada kalanya seseorang berusaha keras memperbaiki hubungan, suasana kerja, atau dinamika keluarga. Mereka mencoba bicara baik-baik, memberi solusi, bahkan mengorbankan banyak hal.

Namun ketika semua usaha terasa sia-sia, muncul perasaan tidak berdaya. Dalam psikologi, kondisi ini sering dikaitkan dengan learned helplessness — keadaan ketika seseorang merasa apa pun yang dilakukan tidak akan mengubah keadaan.

Di titik ini, pergi terasa lebih masuk akal daripada terus bertahan dalam situasi yang stagnan.

5. Ketika Batas Kesabaran Mereka Dilanggar Berkali-kali

Orang dewasa yang matang biasanya memberi toleransi dan kesempatan. Tetapi jika batas pribadinya terus dilanggar — misalnya dibohongi, diremehkan, dimanfaatkan, atau tidak dihormati — mereka akhirnya mengambil jarak.

Psikologi modern menekankan pentingnya boundaries atau batas emosional. Orang yang sehat secara mental tahu bahwa menjaga jarak bukan berarti jahat, melainkan bentuk perlindungan diri.

Karena itu, keputusan pergi sering kali muncul setelah berbagai peringatan tidak pernah dianggap serius.

6. Saat Mereka Merasa Kehilangan Diri Sendiri

Hubungan atau lingkungan yang tidak sehat bisa membuat seseorang berubah menjadi pribadi yang asing bagi dirinya sendiri. Mereka menjadi lebih mudah cemas, tidak percaya diri, terus merasa bersalah, atau hidup dalam tekanan.

Secara psikologis, manusia membutuhkan identitas diri yang stabil. Ketika sebuah hubungan mulai merusak rasa aman terhadap diri sendiri, otak akan mencari jalan keluar.

Itulah sebabnya banyak orang dewasa akhirnya memilih pergi demi menemukan kembali ketenangan dan versi terbaik dari dirinya.

7. Ketika Mereka Sudah Tidak Punya Energi untuk Menjelaskan

Ada fase ketika seseorang sebenarnya masih peduli, tetapi terlalu lelah untuk terus menjelaskan apa yang dirasakan.

Mereka sudah mencoba berbicara berkali-kali, namun respons yang diterima selalu sama: disepelekan, dipatahkan, atau tidak dipahami.

Akhirnya, mereka memilih diam. Bukan karena tidak punya alasan, melainkan karena merasa penjelasan apa pun tidak akan mengubah keadaan.

Dalam psikologi, ini sering berkaitan dengan emotional withdrawal, yaitu penarikan diri secara emosional setelah mengalami kekecewaan berulang.

8. Saat Mereka Mulai Memilih Ketenangan daripada Drama

Semakin dewasa seseorang, biasanya prioritas hidup ikut berubah. Banyak orang mulai sadar bahwa ketenangan mental jauh lebih penting daripada mempertahankan hubungan yang penuh drama.

Mereka tidak lagi ingin membuktikan diri, memenangkan perdebatan, atau memaksa orang lain mengerti.

Pilihan pergi sering kali lahir dari kesadaran sederhana: tidak semua hal harus diperjuangkan sampai habis.

Kadang, menjaga kesehatan mental jauh lebih penting daripada tetap tinggal demi hubungan yang terus melukai.

9. Ketika Mereka Akhirnya Menerima Bahwa Tidak Semua Orang Bisa Berubah

Salah satu bentuk kedewasaan emosional adalah menerima kenyataan bahwa tidak semua orang ingin berubah, meskipun sudah diberi kesempatan.

Banyak orang bertahan terlalu lama karena berharap keadaan membaik. Mereka percaya seseorang akan sadar, memahami, atau menghargai usaha mereka suatu hari nanti.

Namun ketika harapan itu terus berulang tanpa hasil, muncul penerimaan. Dan penerimaan sering kali menjadi awal dari keputusan untuk pergi.

Bukan karena membenci, melainkan karena mereka sadar bahwa memaksakan hubungan yang tidak sehat hanya akan menyakiti diri sendiri lebih lama.

Penutup

Dalam psikologi, keputusan seseorang untuk pergi tidak selalu berarti mereka tidak peduli. Justru sering kali, orang yang pergi diam-diam adalah mereka yang sudah terlalu lama bertahan.

Mereka telah mencoba memahami, memperbaiki, dan memberi kesempatan. Namun ketika rasa lelah lebih besar daripada harapan, pergi menjadi bentuk perlindungan diri yang paling masuk akal.

Karena pada akhirnya, menjadi dewasa bukan hanya tentang bertahan. Tetapi juga tentang tahu kapan harus melepaskan sesuatu yang terus menguras ketenangan hidup.

EDITOR: Hanny Suwindari