← Beranda
11 Kebiasaan yang Diam-diam Menghancurkan Kehidupan Gen Z Tanpa Mereka Sadari, Apa Saja?
Rabbany Wanadriani• Rabu, 20 Mei 2026 | 03.04 WIB
ilustrasi orang yang bermain ponsel. Sumber foto: Freepik

JawaPos.com – Generasi Z tumbuh di lingkungan digital di mana gagasan tradisional tentang pekerjaan, hubungan, dan kebahagiaan telah lama bergeser.

Kaum muda saat ini lebih peduli tentang kesehatan mental, berjuang untuk kebebasan, dan berusaha untuk hidup secara sadar.

Namun terlepas dari itu, kebiasaan tertentu dalam Generasi Z diam-diam berbahaya dan menghambat realisasi potensi penuh mereka, seperti dilansir mixnews.

1. Kehadiran online yang konstan

Sebagian besar anak muda menghabiskan 7 hingga 9 jam sehari di ponsel mereka, antara pekerjaan, media sosial, dan obrolan.

Mereka dapat membalas email pekerjaan sambil mengobrol dengan teman-teman pada saat yang bersamaan.

Meskipun komunikasi yang terus-menerus memberikan rasa terhubung, kelebihan informasi ini merusak jiwa, mengurangi efektivitas, dan melemahkan keterampilan komunikasi dalam kehidupan nyata.

2. Berbelanja sebagai penghilang stres

Banyak orang berbelanja setelah seharian bekerja keras untuk mengatasi stres.

Namun, pengeluaran impulsif untuk makanan, pakaian, layanan pesan antar, atau lainnya pada akhirnya akan merusak stabilitas keuangan dan tidak menyelesaikan masalah yang sebenarnya.

Pembelian-pembelian ini pada dasarnya adalah pencarian kenyamanan jangka pendek.

3. Menarik diri ke dalam diri sendiri

Isolasi digital, kecemasan, dan ketakutan akan kedewasaan membuat banyak orang menghindari kontak sosial.

Namun, hal ini justru memperdalam kesepian.

Sebaliknya, komunikasi di kehidupan nyata mendukung stabilitas emosional, meningkatkan kesejahteraan, dan memperkuat ketahanan mental.

4. Penundaan

Menunggu motivasi sebelum bertindak adalah jebakan umum bagi generasi Z.

Para psikolog mencatat bahwa tindakanlah yang memicu motivasi. Kebiasaan menunggu inspirasi bisa merusak produktivitas dan disiplin internal.

5. Mekanisme mengatasi emosi yang tidak sehat

Jadwal yang terlalu padat, aktivitas fisik yang berlebihan, dan menghindari kesendirian mungkin tampak seperti produktivitas, tetapi pada kenyataannya, hal itu hanya mengalihkan perhatian dari masalah internal.

Tanpa introspeksi diri dan pemrosesan emosi yang mendalam, risiko kelelahan meningkat.

6. Menyerah pada kecemasan

Generasi Z terbuka tentang kesehatan mental, tetapi terkadang membiarkan emosi mengendalikan keputusan mereka.

Penting untuk belajar bagaimana mengenali dan memproses emosi daripada menjadi sandera emosi tersebut.

7. Pengaturan diri impulsif

Dalam upaya meredakan ketegangan, kaum muda sering kali beralih ke makan berlebihan, mengisolasi diri, atau pengeluaran yang tidak perlu, ini cara cepat namun tidak stabil untuk menenangkan diri.

8. Penyalahgunaan kartu kredit

Generasi Z aktif menggunakan kartu kredit tetapi sering kali kurang memiliki pengetahuan dan keterampilan keuangan yang memadai.

Hal ini menyebabkan mereka berutang, terutama mengingat tingginya biaya hidup dan pendidikan.

9. Doomscrolling

Keinginan untuk selalu mendapatkan informasi menyebabkan kelebihan informasi negatif.

Terus-menerus membaca berita yang menyedihkan menyebabkan kelelahan dan memperburuk depresi serta kecemasan.

Generasi Z sering kesulitan menyaring informasi dan menetapkan batasan.

10. Kurangnya jaring pengaman finansial

Karena pendapatan yang rendah dan pengeluaran yang tinggi, sulit bagi kaum muda untuk menabung.

Namun, ketiadaan tabungan menciptakan kecemasan yang terus-menerus. Masalah ini diperparah oleh rendahnya literasi keuangan.

11. Kehilangan identitas pribadi karena tren

Algoritma media sosial membentuk pola perilaku dan generasi Z sering mulai berpikir dengan cara yang dipinjam: mengikuti influencer, meniru tren TikTok.

Akibatnya, keyakinan pribadi mereka menjadi kabur dan mulai kehilangan jati diri.

EDITOR: Hanny Suwindari