JawaPos.com – Menjadi seorang ibu adalah peran luar biasa yang penuh tantangan setiap harinya.
Secara psikologi, kebiasaan kecil yang dilakukan secara konsisten ternyata mampu mengubah kualitas hidup seorang ibu secara signifikan.
Ibu bahagia bukan mereka yang hidupnya sempurna, melainkan mereka yang tahu cara menyelaraskan prioritas dengan nilai-nilai dalam dirinya.
Baca Juga: Takut Tanpa Alasan, Ini 7 Ciri-ciri Orang yang Takut Jarum Suntik Menurut Psikologi
Praktik mindfulness atau kesadaran penuh menjadi salah satu kunci penting yang membantu para ibu hadir secara utuh dalam setiap momen.
Dilansir dari laman YourTango pada Rabu (22/4), berikut tiga kebiasaan sederhana yang terbukti dipraktikkan oleh para ibu yang benar-benar bahagia menjalani hari-harinya.
1. Menyusun ulang prioritas hidup
Banyak orang menjalani hidup tanpa menyadari bahwa cara mereka menghabiskan waktu tidak mencerminkan nilai-nilai terdalam mereka.
Cobalah sebutkan lima hal yang paling berarti bagimu, misalnya waktu bersama keluarga, kesehatan, atau kesenangan.
Setelah itu, bandingkan lima hal tersebut dengan pilihan-pilihan nyata yang kamu buat setiap harinya.
Kemungkinan besar, ada kesenjangan besar antara apa yang kamu anggap penting dan bagaimana kamu benar-benar hidup.
Kamu tidak sendirian dalam situasi ini, karena sebagian besar orang menghadapi ketidakselarasan yang sama dalam hidupnya.
Langkah pertama yang bisa diambil adalah membuat satu pilihan kecil minggu ini yang lebih mencerminkan nilai hidupmu.
Misalnya, tinggalkan sejenak pekerjaan rumah dan gunakan waktu itu untuk benar-benar menikmati momen bersama anak.
Perubahan kecil seperti ini, bila dilakukan secara konsisten, bisa membawa dampak besar dalam beberapa bulan ke depan.
Menyelaraskan cara hidup dengan nilai-nilai diri sendiri adalah fondasi utama dari kebahagiaan yang berkelanjutan.
Ketika hidup mulai terasa berat, kembali periksa apakah pilihanmu masih sejalan dengan apa yang benar-benar kamu jaga.
2. Meluangkan waktu untuk bermain
Bermain bukan hanya milik anak-anak, karena orang dewasa pun membutuhkan ruang untuk bersenang-senang tanpa beban.
Pakar kepemimpinan Brené Brown pernah menyatakan bahwa lawan dari kerja bukan bermain, melainkan depresi.
Pernyataan itu menegaskan betapa pentingnya bermain bagi kesehatan mental dan emosional seseorang.
Saat kamu bermain, pikiran mendapat kesempatan untuk beristirahat dari tekanan dan tanggung jawab yang terus berdatangan.
Hati pun ikut berperan lebih besar, membawa rasa ringan dan kreativitas yang sering kali terkubur oleh rutinitas.
Saat anak sedang melukis, misalnya, cobalah ikut mengambil kuas daripada terus mengerjakan pekerjaan rumah di sekitarnya.
Biarkan kreativitas mengalir secara alami tanpa menghakimi hasil yang kamu buat atau membandingkannya dengan standar tertentu.
Melepaskan kritik terhadap diri sendiri selama bermain adalah cara paling efektif untuk benar-benar menikmati momennya.
Waktu bermain bukan kemewahan, melainkan kebutuhan yang sama pentingnya dengan pekerjaan dan tanggung jawab lainnya.
Dengan memberi ruang untuk bermain, kamu memberi energi segar bagi dirimu untuk menjalani peran lainnya dengan lebih baik.
3. Hadir sepenuhnya di setiap momen
Banyak hari yang berlalu begitu saja tanpa kita benar-benar hadir dan merasakannya secara penuh.
Kita sering menjalani aktivitas secara otomatis, berpindah dari satu tugas ke tugas lain tanpa kesadaran yang nyata.
Kondisi seperti ini membuat kita melewatkan banyak momen berharga yang sebenarnya terjadi tepat di depan mata kita.
Multitasking yang terasa produktif sebenarnya justru membuat kita semakin jauh dari pengalaman nyata yang sedang berlangsung.
Pikiran yang terus berjalan cepat secara harfiah merampas kemampuan kita untuk benar-benar merasakan apa yang ada.
Cara paling sederhana untuk kembali hadir adalah dengan mengaktifkan kelima indera secara sadar di momen sekarang.
Tanyakan pada dirimu: apa yang kamu lihat, rasakan, cium, dengar, dan rasakan di lidahmu saat ini?
Ketika kamu melakukan itu, pikiran tentang daftar tugas atau penyesalan masa lalu otomatis memudar dengan sendirinya.
Menciptakan kehidupan yang penuh kehadiran membutuhkan latihan dan kesabaran, bukan sekadar keinginan sesaat belaka.
Setiap kali kamu merasa kembali berjalan di autopilot, itu adalah tanda untuk kembali ke langkah pertama dan memulai lagi.