JawaPos.com – Tren work from home atau kerja dari rumah ternyata tidak hanya soal fleksibilitas waktu, tetapi juga menjadi pelarian dari kebiasaan kerja kantor yang menjengkelkan.
Psikologi menjelaskan bahwa lingkungan sosial di tempat kerja memiliki dampak besar terhadap kenyamanan dan produktivitas seseorang setiap harinya.
Survei yang dilakukan Indeed dan dilaporkan Fortune mengungkap bahwa satu dari lima pekerja sengaja menghindari kantor demi menjauhi rekan kerja yang mengganggu.
Bahkan 25 persen manajer senior mengaku enggan mematuhi kebijakan masuk kantor karena tidak tahan dengan perilaku staf yang menjengkelkan.
Dilansir dari laman YourTango pada Minggu (19/4), dijelaskan empat kerja kantor menyebalkan yang jadikan work from home pilihan terbaik menurut Psikologi.
1. Bergosip di lingkungan kantor
Gosip menjadi keluhan utama yang paling banyak disebutkan dalam survei terhadap lebih dari seribu pekerja dan lima ratus atasan di Inggris.
Sebenarnya, tidak semua bentuk gosip bersifat negatif karena membicarakan hal-hal ringan dan netral bisa mempererat hubungan antar rekan kerja.
Namun ketika gosip mulai menyentuh hal-hal yang bersifat menyerang atau merugikan orang tertentu, dampaknya menjadi sangat merusak.
Lingkungan kerja yang dipenuhi gosip beracun menciptakan suasana penuh ketidakpercayaan dan persaingan tidak sehat yang melelahkan secara mental.
Semakin lama pola gosip ini berjalan, semakin sulit bagi siapapun untuk melepaskan diri dari pusaran percakapan yang tidak produktif tersebut.
Bagi banyak pekerja, berada di rumah berarti terbebas dari lingkaran gosip yang menguras energi dan mengganggu fokus kerja secara keseluruhan.
Menetapkan batasan yang jelas dengan rekan kerja adalah kunci utama untuk melindungi ketenangan batin di lingkungan profesional manapun.
Tanpa batasan tersebut, seseorang akan terus terseret ke dalam dinamika sosial yang justru memperburuk pengalaman bekerja setiap harinya.
2. Terlalu banyak berbagi informasi pribadi
Lebih dari 20 persen pekerja yang disurvei mengeluhkan rekan kerja yang terlalu sering berbagi informasi pribadi yang tidak relevan dengan pekerjaan.
Mengobrol singkat soal rencana akhir pekan saat menunggu kopi adalah hal wajar yang masih dalam batas norma sosial yang sehat.
Namun berbeda cerita ketika seseorang mulai menceritakan urusan pribadi yang sangat rinci dan tidak diminta kepada semua orang di sekitarnya.
Di era media sosial, batas antara kehidupan pribadi dan profesional semakin kabur karena orang tahu banyak tentang kehidupan rekan kerjanya.
Hal ini membuat banyak pekerja merasa tidak nyaman karena menerima informasi yang jauh melebihi apa yang perlu mereka ketahui.
Bekerja dari rumah membebaskan seseorang dari situasi canggung di mana mereka harus pura-pura tertarik pada cerita pribadi yang tidak relevan.
Tidak adanya kontak fisik langsung menciptakan filter alami yang menjaga batas profesional tetap terjaga tanpa harus menyinggung siapapun.
Kondisi ini menjadi salah satu alasan kuat mengapa banyak pekerja merasa lebih nyaman dan lebih fokus saat bekerja dari kenyamanan rumah.
3. Perilaku menggoda yang tidak pada tempatnya
Flirting atau perilaku menggoda di lingkungan kerja adalah salah satu kebiasaan yang tidak pernah sesuai dalam konteks profesional manapun.
Perilaku ini seringkali disamarkan sebagai candaan ringan atau perhatian biasa, padahal tanpa persetujuan kedua pihak bisa sangat tidak nyaman.
Tanpa adanya persetujuan yang jelas dan aktif dari kedua belah pihak, situasi ini dengan cepat berubah menjadi tidak menyenangkan dan mengganggu.
Setiap orang berhak hadir di tempat kerja tanpa harus khawatir bahwa batas-batas pribadinya akan dilanggar oleh siapapun di sekitarnya.
Rasa tidak aman yang ditimbulkan oleh perilaku semacam ini secara langsung menurunkan konsentrasi, kenyamanan, dan produktivitas seseorang.
Lingkungan kerja yang aman secara emosional adalah hak dasar setiap pekerja, bukan sesuatu yang harus diperjuangkan dengan susah payah.
Bekerja dari rumah menghilangkan paparan terhadap situasi tidak nyaman semacam ini secara otomatis tanpa perlu konfrontasi apapun.
Tidak adanya interaksi fisik langsung memberikan rasa aman yang memungkinkan seseorang bekerja dengan lebih tenang dan lebih produktif.
4. Dipotong bicara atau tidak diberi kesempatan berbicara
Hampir semua orang pernah berada dalam rapat bersama rekan kerja yang tidak bisa menahan diri untuk terus memotong pembicaraan orang lain.
Perilaku memotong bicara membuat seseorang merasa tidak didengar, tidak dihargai, dan tidak relevan dalam diskusi yang sedang berlangsung.
Dampak ini menjadi semakin parah ketika pelakunya adalah atasan atau manajer karena adanya ketimpangan kuasa yang tidak seimbang.
Data menunjukkan bahwa 76 persen pekerja yang dipaksa kembali ke kantor sedang mempertimbangkan untuk mengundurkan diri dari pekerjaan mereka.
Selain dipotong bicara, 46 persen pekerja juga merasa frustrasi ketika rekan kerja mengklaim kredit atas pekerjaan yang mereka lakukan sendiri.
Pencurian kredit ini secara langsung menghambat kemajuan karier seseorang dan menciptakan rasa tidak adil yang menumpuk dari waktu ke waktu.
Sebanyak 34 persen pekerja juga menyebut micromanagement sebagai kebiasaan menjengkelkan lain yang mendorong mereka memilih bekerja dari jarak jauh.
Rapat virtual memberikan solusi praktis karena jauh lebih mudah meminta semua peserta mematikan mikrofon daripada menghentikan orang yang terus memotong bicara.