JawaPos.com – Merasa lelah meskipun telah berusaha atau selalu overthinking adalah hal yang dialami banyak orang di tengah kesibukan sehari-hari.
Ini membuat seseorang sulit untuk tidur atau merasa stres karena terlalu banyak hal yang dipikirkan.
Bahkan pembicaraan diri sendiri ketika siang hari membuat seseorang sulit untuk merasa tenang karena memikirkan pandangan orang lain.
Seseorang yang selalu overthinking seperti ini cenderung berusaha menebak pikiran orang lain agar merasa aman dan memegang kendali.
Baca Juga: 7 Kebiasaan Pagi Orang Super Sukses yang Jarang Disadari namun Terbukti Efektif Ubah Hidup Anda
Namun kecenderungan ini justru membuat seseorang sulit merasa berkembang dan sering terobsesi pada penilaian orang lain.
Faktanya orang yang bahagia dalam hidup justru mampu melepaskan segala sesuatu yang telah terjadi dan belajar untuk lebih baik.
Dilansir dari Your Tango, ada tiga pola pikir yang bisa diterapkan agar mencapai kehidupan yang lebih bahagia dan tenang.
1. Berhenti Menjadi Pembaca Pikiran
Beberapa orang seringkali menghabiskan waktu berjam-jam hanya untuk mencoba menebak apa yang ada di kepala orang lain.
Mereka seperti membuat asumsi bahwa orang lain tidak suka dengan baju mereka, atau orang lainnya sedang marah karena pesan mereka tidak dibalas.
Justru pemikiran seperti ini membuat seseorang sulit untuk merasa aman dan bahagia karena mencoba menebak-nebak hal yang tidak penting.
Sadarilah bahwa kita tidak punya kendali atas pikiran orang lain, dan ketika kita merasa salah kita bisa belajar untuk lebih berhati-hati.
Saat kita mulai merasa cemas tentang apa yang dipikirkan orang, segera tarik perhatian kita kembali ke diri sendiri.
Ingatlah satu hal penting dalam hidup bahwa yang orang lain pikirkan tidak mengubah siapa diri kita sebenarnya.
2. Fokus pada Jalan dan Urusan Pribadi
Beberapa orang cenderung terbiasa mendapat pengakuan dari orang lain, atau mengetahui apa yang dilakukan orang lain.
Ini karena beberapa orang tidak ingin merasa tertinggal, sehingga membuat orang lain justru fokus pada progress orang lain.
Selain itu, beberapa orang sering merasa belum cukup mengenal diri sendiri, entah itu potensi dan kelebihan dalam diri.
Ketika seseorang tidak memiliki pijakan yang kuat tentang siapa diri sendiri, mereka cenderung membiarkan orang lain yang mendefinisikannya.
Justru kedamaian dan kebahagiaan sejati datang dari pemahaman dan fokus akan diri sendiri daripada orang lain.
Jadi, cobalah untuk meluangkan waktu untuk menyendiri tanpa gangguan teknologi atau melihat sosial media.
Tanpa media sosial, tanpa musik, dan tanpa distraksi kita akan jauh lebih fokus pada refleksi dan pemahaman diri sendiri.
Gunakan waktu ini untuk bermeditasi, menulis jurnal, atau sekadar melamun agar dapat mencapai potensi terbesar dalam diri kita.
Semakin kita akrab dengan pikiran dan perasaan kita sendiri, semakin sedikit keinginan kita untuk bertanya pada dunia atau urusan orang lain.
3. Mulai Persiapan, Bukan Pencitraan
Kebanyakan orang cenderung ingin membangun citra diri yang baik meskipun mereka harus bersikap munafik.
Faktanya menjadi diri sendiri justru dapat memberikan rasa aman dan tenang daripada berpura-pura.
Namun, seringkali sebelum bertemu orang baru atau pergi ke acara sosial, beberapa orang sibuk menyiapkan ‘topeng’ atau pencitraan agar terlihat sempurna.
Mereka seperti memandang diri sendiri melalui kacamata orang lain agar dihormati dan dihargai.
Ini justru berakibat sebaliknya, karena membuat kita cenderung overthinking dan merasa tidak aman di lingkungan sosial.
Mulailah melihat orang lain melalui diri sendiri, bukan sebaliknya agar terhindar dari sikap pura-pura.
Jadi pahamilah bahwa kekuatan sejati muncul saat kita berhenti menjadi penonton bagi diri kita sendiri dan mulai menjadi orang yang autentik.
Baca Juga: 11 Kebiasaan Halus Wanita yang Membuat Hubungan Sulit Bertahan Lama