← Beranda
7 Cara Berdamai dengan Suara Kritis dalam Kepala saat Karier Terasa Tertinggal
Emilia Nailun NajaMinggu, 5 April 2026 | 01.18 WIB
Ilustrasi perempuan yang merasa minder karena tidak puas dengan pencapainnya. (Freepik)

 

 

JawaPos.com-Di tengah derasnya arus informasi digital, pencapaian orang lain kini bisa terlihat setiap saat. Dari promosi jabatan hingga pencapaian finansial, semuanya seolah hadir tanpa jeda di layar. Tanpa disadari, kondisi ini memicu kebiasaan membandingkan diri, terutama dalam hal karier.

Perbandingan tersebut kerap memunculkan suara kritis dalam diri, yang mempertanyakan posisi, kemampuan, bahkan arah hidup yang sedang dijalani. Jika tidak dikelola, hal ini bisa berkembang menjadi kecemasan yang berkepanjangan.

Dalam sebuah wawancara, psikolog klinis Ratih Ibrahim menjelaskan bahwa kondisi ini berkaitan erat dengan paparan digital yang terus aktif serta kebiasaan membandingkan diri secara tidak sadar.

Agar tidak berlarut-larut, penting untuk mengelola kondisi ini secara lebih sadar. Berikut beberapa langkah yang bisa dilakukan:

1. Batasi paparan yang memicu perbandingan

Tidak semua konten perlu dikonsumsi setiap saat. Terlalu sering melihat pencapaian orang lain justru bisa memicu pikiran untuk terus membandingkan. Menyaring akun atau informasi yang diikuti dapat membantu menjaga fokus tetap pada diri sendiri.

 

2. Gunakan gadget secara lebih terarah

Sering kali gadget digunakan tanpa tujuan yang jelas, terutama saat senggang. Kebiasaan ini membuat paparan informasi menjadi tidak terkontrol. Menentukan waktu penggunaan dan memberi jeda dari layar bisa membantu pikiran beristirahat dari arus perbandingan.

 

3. Kembali mengenali diri sendiri

Memahami kemampuan, minat, dan batasan diri penting untuk menjaga arah hidup tetap realistis. Tanpa itu, seseorang mudah terjebak mengikuti standar orang lain yang belum tentu sesuai dengan kondisi pribadinya.

 

4. Fokus pada proses, bukan hanya hasil

Terlalu terpaku pada hasil akhir sering kali menambah tekanan. Padahal, setiap orang memiliki proses yang berbeda. Dengan fokus pada apa yang sedang dijalani saat ini, beban pikiran bisa terasa lebih ringan dan perkembangan lebih terlihat.

 

5. Kelola respons terhadap pikiran negatif

Pikiran yang membandingkan diri mungkin tetap muncul. Namun, yang terpenting adalah bagaimana meresponsnya. Menguji pikiran tersebut secara rasional dapat membantu melihat situasi dengan lebih objektif dan tidak terbawa emosi.

 

6. Alihkan perhatian ke aktivitas lain

Mengurangi paparan digital bisa dilakukan dengan mengisi waktu lewat aktivitas lain, seperti olahraga, membaca, atau hobi. Aktivitas ini membantu memutus pola perbandingan yang terus berulang.

 

7. Jaga koneksi dengan lingkungan terdekat

Interaksi langsung dengan keluarga atau teman dapat memberikan perspektif yang lebih seimbang. Dukungan dari lingkungan nyata sering kali menjadi pengingat bahwa hidup tidak selalu perlu dibandingkan dengan orang lain.

Baca Juga: 5 Shio Ini Akan Melewati Masa Sulit dengan Pencapaian Besar di Pertengahan Tahun 2026

Pada akhirnya, setiap perjalanan karier bersifat unik. Membandingkan diri secara terus-menerus hanya akan mengaburkan fokus dari apa yang benar-benar penting: berkembang sesuai ritme diri sendiri. (*)

EDITOR: Dinarsa Kurniawan