JawaPos.com - Cara seseorang menerima cinta di masa kecil akan sangat memengaruhi bagaimana ia memberi dan menerima cinta saat dewasa.
Hal ini bukan sekadar teori, tetapi pola yang sering terlihat dalam kehidupan nyata.
Lachlan Brown, seorang penulis dan pengamat perilaku manusia, melihat bahwa banyak individu yang tumbuh tanpa kehangatan emosional sering mengalami kesulitan dalam hubungan.
Mereka bisa tampak kuat, mandiri, bahkan sukses, tetapi diam-diam merasa bingung saat berhadapan dengan keintiman.
Baca Juga: Ada Diskon Tarif Tol 30 Persen, Pemudik Diminta Bijak Atur Perjalanan Arus Balik agar Tidak Macet
Ini bukan karena mereka tidak mampu mencintai. Justru sebaliknya—mereka hanya membawa pola lama yang dulu berfungsi sebagai perlindungan, namun kini menjadi penghalang.
Dilansir dari laman The Expert Editor, berikut adalah delapan masalah yang paling sering muncul.
1. Sulit Mengenali Perasaan Sendiri
Lachlan Brown menjelaskan bahwa banyak orang yang tumbuh tanpa validasi emosional kesulitan memahami apa yang sebenarnya mereka rasakan.
Saat kecil, emosi mungkin tidak pernah diberi ruang. Tidak ada yang membantu memberi nama pada perasaan atau mengajarkan cara mengekspresikannya.
Akibatnya, saat dewasa, emosi hadir dalam bentuk yang samar—gelisah, mudah marah, atau bahkan mati rasa.
Dalam hubungan, hal ini bisa menimbulkan kebingungan. Pasangan mungkin merasa ada sesuatu yang salah, tetapi individu tersebut tidak mampu menjelaskannya.
Padahal, kesadaran emosional adalah keterampilan yang bisa dipelajari. Hanya saja, butuh waktu dan latihan untuk membangunnya.
2. Tidak Nyaman dengan Kedekatan Emosional
Ironisnya, seseorang bisa sangat menginginkan hubungan, tetapi justru merasa tidak nyaman saat kedekatan mulai terbangun.
Menurut Lachlan Brown, orang yang terbiasa mandiri secara emosional sejak kecil cenderung mengandalkan diri sendiri sepenuhnya. Mereka belajar bahwa berharap pada orang lain tidak selalu aman.
Ketika pasangan mencoba membuka ruang keintiman, hal itu bisa terasa mengganggu. Mereka mungkin menghindar, mengalihkan topik dengan humor, atau menjaga percakapan tetap dangkal.
Ini bukan berarti mereka tidak peduli. Mereka hanya belum terbiasa merasa aman dalam kedekatan emosional.
3. Terlalu Menganalisis Perubahan Kecil
Jika cinta di masa kecil terasa tidak konsisten, seseorang akan tumbuh dengan kewaspadaan tinggi.
Lachlan Brown melihat bahwa individu seperti ini sangat peka terhadap perubahan kecil—balasan pesan yang lebih singkat, nada bicara yang berbeda, atau keterlambatan respons.
Hal-hal kecil tersebut bisa memicu kecemasan besar. Pikiran mulai dipenuhi pertanyaan: apakah ada yang salah? Apakah hubungan ini akan berakhir?
Padahal, sering kali tidak ada masalah nyata. Namun tubuh dan pikiran bereaksi seolah ancaman itu benar-benar ada.
4. Sulit Mengungkapkan Kebutuhan
Banyak orang yang tumbuh dalam lingkungan emosional dingin belajar untuk tidak menuntut.
Lachlan Brown menjelaskan bahwa mereka terbiasa memendam kebutuhan karena merasa hal itu tidak akan dipenuhi. Akhirnya, mereka tumbuh menjadi pribadi yang tampak “tidak membutuhkan siapa pun.”
Namun dalam hubungan, hal ini bisa menjadi masalah. Kebutuhan yang tidak diungkapkan berubah menjadi kekecewaan tersembunyi.
Mereka berharap pasangan mengerti tanpa harus diberi tahu. Ketika itu tidak terjadi, muncul perasaan tidak dihargai.
Padahal, hubungan yang sehat membutuhkan komunikasi yang jelas dan jujur.
5. Merasa Bertanggung Jawab atas Emosi Orang Lain
Salah satu pola yang paling melelahkan adalah merasa harus menjaga perasaan semua orang.
Menurut Lachlan Brown, anak yang tumbuh dengan orang tua dingin sering belajar menjadi “penjaga suasana.” Mereka berusaha menghindari konflik dan menjaga keseimbangan emosional di rumah.
Saat dewasa, pola ini terbawa ke hubungan. Mereka menahan emosi sendiri demi menjaga pasangan tetap nyaman.
Akibatnya, mereka kelelahan secara emosional karena terus-menerus mengelola dua sisi perasaan sekaligus.
Padahal, hubungan yang sehat membutuhkan keseimbangan, bukan pengorbanan sepihak.
6. Menganggap Intensitas sebagai Cinta
Bagi sebagian orang, hubungan yang tenang terasa asing.
Lachlan Brown mengamati bahwa individu yang terbiasa dengan ketidakpastian emosional cenderung mengaitkan cinta dengan intensitas—emosi yang naik turun, konflik, dan drama.
Hubungan yang stabil justru terasa membosankan atau kurang “hidup.”
Padahal, cinta yang sehat tidak selalu penuh gejolak. Justru stabilitas, konsistensi, dan rasa aman adalah fondasi utama hubungan jangka panjang.
Namun bagi mereka yang terbiasa dengan kekacauan, ketenangan membutuhkan waktu untuk terasa nyaman.
7. Takut Bergantung Secara Emosional
Ketergantungan sering dianggap sebagai kelemahan, terutama bagi mereka yang pernah merasa tidak didukung.
Lachlan Brown menjelaskan bahwa banyak orang membuat “aturan tak terlihat” untuk tidak bergantung pada siapa pun.
Dalam hubungan, ini terlihat sebagai kemandirian ekstrem. Mereka menjaga jarak, bahkan ketika sebenarnya membutuhkan kedekatan.
Di balik sikap tersebut, ada ketakutan mendalam—bahwa bergantung pada seseorang berarti membuka peluang untuk disakiti.
Padahal, ketergantungan yang sehat adalah bagian penting dari hubungan yang saling mendukung.
8. Sulit Percaya bahwa Cinta Akan Bertahan
Bahkan dalam hubungan yang baik, ada keraguan yang sulit dijelaskan.
Lachlan Brown melihat bahwa individu dengan latar belakang emosional dingin sering memiliki ekspektasi bahwa hubungan tidak akan bertahan lama.
Mereka mungkin menahan diri, tidak sepenuhnya terbuka, atau selalu menyiapkan “jalan keluar.”
Ini bukan karena mereka pesimis, tetapi karena pengalaman masa lalu membentuk keyakinan bahwa cinta itu rapuh.
Padahal, ada perbedaan besar antara menerima ketidakpastian hidup dan terus-menerus mengantisipasi kehilangan.
Lachlan Brown menekankan bahwa semua pola ini bukanlah tanda kelemahan, melainkan bentuk adaptasi.
Dulu, pola-pola tersebut membantu seseorang bertahan dalam lingkungan yang minim dukungan emosional. Namun saat dewasa, pola yang sama bisa menjadi penghalang dalam membangun hubungan yang sehat.
Kunci utamanya bukan menyalahkan masa lalu, melainkan menyadari kapan pola lama muncul dan perlahan memilih respons yang berbeda.
Dengan kesadaran, latihan, dan kasih sayang terhadap diri sendiri, hubungan yang lebih sehat dan aman bukanlah hal yang mustahil.
Karena pada akhirnya, setiap orang berhak merasakan cinta yang utuh—bukan hanya sekadar bertahan, tetapi benar-benar terhubung.