← Beranda
Wawasannya Luas, 7 Keistimewaan Ini Dimiliki oleh Orang yang Pandai dalam Banyak Bahasa Menurut Psikologi
Setyo Adi Nugroho• Rabu, 25 Maret 2026 | 19.53 WIB
Ilustrasi orang yang pandai bahasa daripada hitungan. (Freepik)

JawaPos.com - Ada pesona tersendiri bagi mereka yang menguasai banyak bahasa. Dengan fasih dalam banyak bahasa, seseorang tak hanya mampu berkomunikasi dengan orang lokal di negara lain.

Kemampuan untuk fasih dalam berbagai bahasa ternyata membentuk cara berpikir, memahami dan berinteraksi secara lebih luas. 

Menurut psikologi, seseorang yang fasih dalam beberapa bahasa sering menunjukkan beberapa ciri khas yang membedakan mereka.

Dilansir dari Geediting, mari mengetahui beberapa ciri unik yang dimiliki oleh seseorang yang fasih dalam beberapa bahasa!

Baca Juga: Tidak Bisa Membedakan Mana yang Jujur dan Bohong? 9 Tanda Ini Bisa Dijadikan Acuan Menurut Psikologi

  1. Fleksibilitas kognitif

Menurut psikologi, kemampuan seseorang yang fasih dalam beberapa bahasa meningkatkan fleksibilitas kognitif. 

Artinya, kemampuan untuk beralih antara pemikiran konsep yang berbeda, atau memikirkan banyak konsep sekaligus. 

Individu multibahasa terbiasa beralih antar bahasa, latihan mental yang mengasah fleksibilitas kognitif mereka. 

Seperti kata psikolog Jean Piaget, tujuan pendidikan bukan hanya menambah pengetahuan, tetapi menciptakan kemungkinan bagi anak untuk menemukan dan menciptakan hal baru.

  1. Peningkatan sensitivitas budaya

Menjadi seseorang yang fasih dalam berbagai bahasa, membuat seseorang ikut memahami budaya dengan lebih mendalam.

Kemampuan berbicara bahasa asing dengan fasih akan membawa seseorang menjadi lebih memahami bagaimana cara berpikir masyarakat lokal.

Dengan begitu, Anda bisa lebih memahami budaya mereka lebih baik pula. Alhasil, tak hanya fasih dalam bahasa, tetapi kepekaan dalam budaya juga akan meningkat.

  1. Pengambilan keputusan yang lebih baik

Semakin banyak bahasa yang kita kuasai, semakin banyak alat yang kita miliki untuk menganalisis sebuah keputusan yang akan dibuat.

Saat kita berbicara bahasa yang berbeda, pikiran kita memproses informasi secara berbeda. 

Ketangkasan mental ini meningkatkan keterampilan pengambilan keputusan. 

Daniel Kahneman, psikolog dan pemenang Nobel, menjelaskan gagasan tentang berpikir cepat dan lambat. Fasih dalam banyak bahasa memungkinkan kita memanfaatkan kedua sistem ini.

  1. Ahli multitasking

Sebuah studi mendukung gagasan bahwa mereka yang . Peneliti menemukan bahwa orang multibahasa lebih baik dalam mengerjakan banyak tugas dibandingkan dengan orang monolingual. 

Beralih antar bahasa berfungsi sebagai latihan otak. Ketangkasan mental yang diperoleh dari mengelola banyak bahasa dapat diterjemahkan ke dalam kemampuan multitasking dunia nyata.

  1. Daya ingat yang kuat

Mempelajari bahasa baru tentu membutuhkan kemampuan untuk mengingat ribuan kosa kata baru agar fasih.

Studi menunjukkan bahwa mempelajari bahasa baru hingga fasih akan meningkatkan daya ingat. 

Latihan mengingat banyak kosakata akan meningkatkan fungsi memori keseluruhan. 

  1. Toleransi terhadap ambiguitas

Menjadi multibahasa seringkali berarti berurusan dengan ambiguitas. Namun, daripada menyebabkan kebingungan, ambiguitas ini sebenarnya meningkatkan toleransi kita terhadap ketidakpastian. 

Dengan terlibat secara teratur dengan sifat bahasa yang tidak pasti, kita menjadi lebih nyaman dengan ambiguitas secara umum. 

Ini mengarah pada pendekatan yang lebih berpikiran terbuka dan mudah beradaptasi terhadap ketidakpastian hidup.

  1. Perhatian terhadap detail

Saat belajar bahasa baru, setiap aksen, intonasi, dan aturan tata bahasa diperhitungkan. 

Perhatian konstan terhadap detail linguistik ini dapat diterjemahkan ke dalam kesadaran yang lebih tinggi di bidang kehidupan lainnya.

Seperti kata William James, seni menjadi bijaksana adalah seni mengetahui apa yang harus diabaikan. 

Dalam perjalanan multibahasa, mengetahui detail mana yang harus difokuskan dan mana yang harus diabaikan sangat penting, yang selanjutnya mengasah keterampilan observasi kita.

EDITOR: Setyo Adi Nugroho