← Beranda
8 Tips Mengenali Orang yang Melakukan Kebohongan Patologis, Psikologi Ungkapkan Hal Ini
Setyo Adi NugrohoRabu, 25 Maret 2026 | 19.43 WIB
Ilustrasi berbohong.

JawaPos.com - Ada perbedaan mendasar antara kebohongan kecil dan kebohongan patologis.

Pembohong patologis secara mendasar akan sering memutarbalikkan fakta dengan natural. 

Perilaku mereka sangat membingungkan dan membuat orang lain percaya pada kebohongan yang disampaikan.

Baca Juga: 8 Kebohongan Paling Umum dalam Resume yang Sering Berujung pada Mendapatkan Pekerjaan

Namun, sebenarnya apa itu kebohongan patologis?

Definisi kebohongan patologis

Kebohongan patologis adalah pola perilaku berbohong yang kompulsif dan berulang, seringkali tanpa motif yang jelas atau keuntungan pribadi.

Dilansir dari Webmd.com, kebohongan patologis berbeda dengan kebohongan biasa yang dilakukan untuk tujuan tertentu.

Pembohong patologis berbohong secara rumit dan tidak masuk akal, bahkan jika kebohongan tersebut merugikan diri sendiri.

Perilaku ini bisa terkait dengan gangguan kepribadian tertentu, seperti antisosial dan narsistik.

Pembohong patologis seringkali tidak menunjukkan penyesalan atas kebohongan mereka, dan kebohongan mereka dapat menyebabkan kerusakan signifikan pada hubungan dan kehidupan mereka. 

Untuk memahami cirinya lebih mendalam, dilansir dari Geediting, mari mengetahui delapan cara mengenali seorang pembohong patologis!

  1. Tidak konsisten dalam menyampaikan cerita

Pembohong patologis memiliki jaringan kebohongan yang rumit, dan melacak semuanya bisa sangat sulit.

Hari ini mereka mungkin menceritakan satu kisah, tetapi keesokan harinya ada versi baru dari kisah tersebut. 

Perubahan narasi yang tak konsisten ini menjadi tanda seseorang yang memiliki perilaku pembohong patologis. 

  1. Terlalu banyak detail berlebih

Pembohong patologis sering memberikan detail yang berlebihan dalam cerita mereka, seolah berusaha terlalu keras untuk membuat cerita yang dapat dipercaya.

Detail yang disampaikan oleh mereka bukan untuk melengkapi cerita, tetapi menutupi kebohongan dengan kebohongan baru lainnya. 

  1. Perubahan dalam bahasa tubuh

Ketika mereka menyampaikan kebohongan, mereka akan menampakkan perubahan dalam bahasa tubuhnya.

Hal ini dapat Anda ketahui dari kontak mata, gelisah, berkeringat atau melakukan gerakan gelisah.

  1. Defensif 

Pembohong patologis sering bersikap defensif ketika dihadapkan dengan pertanyaan atau kontradiksi.

Mereka mungkin menyalahkan orang lain, mengubah topik pembicaraan, atau bahkan meluncurkan serangan balik.

Sikap defensif ini adalah upaya untuk mengalihkan perhatian dari ketidakjujuran mereka.

  1. Kurang koneksi emosional

Cerita seorang pembohong terkadang terdengar dramatis atau menarik, tetapi rasanya kurang ada kaitan emosional.

Tampak seperti membaca sebuah hal yang dikarang ketimbang membagikan sebuah pengalaman nyata.

  1. Tidak menyesal

Seorang pembohong patologis tidak menunjukkan penyesalan atas kebohongan yang disampaikan.

Kurangnya penyesalan ini membuat mereka mampu merangkai kebohongan baru setiap harinya. 

  1. Riwayat perilaku menipu

Riwayat seorang pembohong akan konsisten berbohong untuk menutupi keburukanny. Pola perilaku ini menjadi tanda penting untuk menghindari mereka.

Jika Anda mencurigai kejujuran seseorang, pertimbangkan perilaku masa lalu mereka. Kebohongan yang dilakukan berulang kali merupakan indikator kuat dari kebohongan patologis. 

  1. Berbohong tentang hal penting

Pembohong patologis tak hanya berbohong tentang hal sepele saja. Kebiasaan berbohong tersebut juga terbawa pada hal yang penting, seperti mengarang peristiwa, hubungan, hingga pengalaman tanpa dasar.

Kemampuan berbohong ini menunjukkan masalah psikologi yang dialami oleh pembohong patologis.

Kesimpulan

Mengenali seseorang yang mengidap perilaku berbohong patologis akan membuat Anda lebih memahami perilaku mereka.

Kembali ingat bahwa, kebohongan patologis adalah perilaku berbohong berulang tanpa tujuan yang jelas. 

Dengan memahami tanda yang telah dijelaskan, Anda dapat melindungi diri dari dampak kebohongan patologis dan membangun hubungan yang lebih sehat dan jujur. 

EDITOR: Setyo Adi Nugroho