JawaPos.com – Kelelahan mental dan rasa frustasi karena pekerjaan seringkali dianggap wajar di era sekarang.
Banyak orang mengalami hal ini namun mereka secara tidak sadar mengabaikan karena merasa itu adalah bagian dari produktivitas.
Ini karena budaya kerja yang menuntut seseorang untuk selalu produktif membuat banyak orang merasa harus terus bekerja tanpa henti.
Menariknya, banyak orang yang berhasil pulih dari burnout tidak selalu mengambil liburan panjang atau mengganti pekerjaan.
Sebaliknya, mereka hanya menghentikan beberapa kebiasaan yang selama ini dianggap sebagai tanda produktivitas.
Baca Juga: Intip 6 Trik Menghindari Bercak Keringat di Baju saat Cuaca Panas
Faktanya, kebiasaan yang dianggap produktif justru membuat energi mental terkuras dan menurunkan kualitas kerja.
Dilansir dari Silicon Canals, terdapat enam kebiasaan produktif yang justru secara perlahan dapat menyebabkan kelelahan mental dan rasa frustasi.
1. Melakukan Banyak Pekerjaan Sekaligus
Banyak orang percaya bahwa multitasking membuat pekerjaan selesai lebih cepat dan bentuk produktivitas sejati.
Namun kenyataannya, otak manusia tidak dirancang untuk fokus pada beberapa tugas kompleks secara bersamaan.
Baca Juga: 6 Cara Cerdas Menjaga Hewan Peliharaan Tetap Sejuk di Cuaca Panas
Penelitian menunjukkan bahwa berpindah-pindah tugas justru menguras energi mental dan membuat pekerjaan selesai lebih lama.
Dan ketika seseorang terus berpindah fokus, otak membutuhkan waktu untuk menyesuaikan diri kembali.
Orang yang berhasil mengatasi kelelahan mental biasanya mulai fokus pada satu pekerjaan dalam satu waktu.
Metode kerja yang lebih fokus ini sering disebut sebagai deep work, yaitu bekerja dengan konsentrasi penuh tanpa gangguan.
2. Selalu Berusaha Menerima Segala Hal
Dalam dunia kerja, banyak orang merasa harus menerima semua peluang atau permintaan agar terlihat profesional dan sikap dedikasi.
Baca Juga: Jaga Tingkat Energi Anda di Cuaca Panas dengan 7 Makanan Terbaik Ini
Namun kebiasaan ini justru sering membuat seseorang memiliki terlalu banyak tanggung jawab yang di luar kemampuannya.
Ini membuat mereka harus mengorbankan waktu dan energi menjadi terbagi sehingga pekerjaan terasa semakin berat.
Orang yang berhasil terlepas dari rasa frustasi kerja biasanya mulai belajar menolak pada hal-hal yang tidak menjadi prioritas mereka.
Dengan cara ini, seseorang bisa fokus pada pekerjaan yang benar-benar penting untuk diri mereka dan tujuan pribadi.
3. Terjebak Perfeksionisme
Perfeksionisme sering dianggap sebagai kualitas positif yang mementingkan hasil kerja sempurna.
Ini karena banyak orang berpikir bahwa hasil terbaik hanya bisa dicapai jika semuanya dilakukan dengan sempurna.
Namun faktanya, perfeksionisme yang berlebihan sering membuat seseorang menunda pekerjaan atau menghabiskan terlalu banyak waktu untuk hal kecil.
Hal ini justru meningkatkan stres dan menurunkan produktivitas tanpa mereka sadari sejak awal.
Orang yang berhasil keluar dari kelelahan kerja biasanya lebih fokus pada kemajuan daripada kesempurnaan.
Mereka memahami bahwa pekerjaan yang selesai dengan baik jauh lebih berharga daripada pekerjaan yang terus ditunda karena ingin sempurna.
4. Bekerja Tanpa Beristirahat
Istirahat sangat penting dan menjadi bagian dari produktivitas yang justru sering diabaikan banyak orang.
Sedangkan, budaya kerja modern sering memuji orang yang mampu bekerja berjam-jam tanpa berhenti.
Ini membuat banyak orang bahkan merasa bangga jika bisa bekerja sepanjang hari tanpa jeda waktu.
Padahal, otak manusia membutuhkan waktu istirahat untuk menjaga fokus dan kreativitas saat bekerja.
Tanpa jeda untuk istirahat yang cukup, kualitas pekerjaan akan menurun dan kelelahan mental akan meningkat.
Orang yang berhasil menjaga produktivitas jangka panjang biasanya bekerja dalam periode fokus yang diselingi dengan waktu istirahat singkat.
5. Selalu Membandingkan dengan Orang Lain
Media sosial membuat banyak orang sangat mudah melihat pencapaian orang lain daripada menghargai diri mereka sendiri.
Kondisi ini tanpa disadari sering membuat seseorang merasa tertinggal dan rendah daripada orang lain.
Perbandingan sosial yang terus-menerus dapat menimbulkan tekanan mental yang besar atau bahkan rasa frustasi yang mendalam.
Banyak orang merasa harus bekerja lebih keras agar tidak kalah dari orang lain, tapi justru itu dapat mengorbankan kesejahteraanya.
Kita perlu menyadari untuk berhenti membandingkan diri dengan orang lain dan mulai fokus pada perkembangan diri mereka sendiri.
6. Selalu Cepat Membalas Pesan atau Email
Di era digital, banyak orang merasa harus selalu siap membalas pesan, email, atau notifikasi kerja kapan saja.
Kebiasaan ini membuat seseorang sulit mendapatkan waktu fokus dan tidak pernah benar-benar beristirahat.
Padahal, batasan yang jelas antara waktu kerja dan waktu pribadi sangat penting untuk menjaga kesehatan mental.
Oleh karena itu, kita perlu menjaga keseimbangan hidup dan tetapkan waktu tertentu untuk mengecek pesan atau email, sehingga bisa melindungi waktu fokus kita.