← Beranda
Orang yang Berulang Kali Terjebak dalam Hubungan Toxic yang Sama Memiliki 8 Ciri Kepribadian Ini Menurut Psikologi
Irfan FerdiansyahSabtu, 31 Januari 2026 | 06.27 WIB
seseorang yang berulang terjebak hubungan toxic./Freepik/Wavebreak Media

JawaPos.com - Tidak sedikit orang yang bertanya pada dirinya sendiri, “Kenapa aku selalu bertemu pasangan yang salah?”

Hubungan boleh berganti, wajah pasangan boleh berbeda, tetapi polanya terasa sama: manipulatif, penuh drama, melelahkan secara emosional, bahkan menyakitkan.

Dalam psikologi, fenomena ini bukan soal nasib buruk semata. Pola hubungan yang beracun sering kali berkaitan dengan dinamika kepribadian, pengalaman masa lalu, dan cara seseorang memaknai cinta serta dirinya sendiri.

Penting untuk ditegaskan: memiliki ciri-ciri ini bukan berarti seseorang “pantas” disakiti. Justru sebaliknya, memahami ciri-ciri ini adalah langkah awal untuk memutus siklus dan membangun hubungan yang lebih sehat.

Dilansir dari Geediting pada Selasa (27/1), terdapat delapan ciri kepribadian yang menurut psikologi sering ditemukan pada orang yang berulang kali terjebak dalam hubungan beracun yang serupa.

1. Empati yang Terlalu Tinggi (Over-Empathy)

Orang dengan empati tinggi mampu memahami perasaan orang lain secara mendalam. Sayangnya, dalam hubungan beracun, empati ini sering berubah menjadi pembenaran terhadap perilaku buruk pasangan.

Mereka cenderung berpikir:

“Dia bersikap kasar karena masa lalunya.”

“Dia sebenarnya baik, cuma lagi terluka.”

“Kalau aku cukup sabar, dia akan berubah.”

Dalam psikologi, kondisi ini membuat seseorang lebih mudah mengabaikan batasan diri sendiri demi menyelamatkan orang lain.

Baca Juga: Dorong Model Embedded Finance di Indonesia, SUPA Perluas Akses Kredit dengan Skema PAS

2. Harga Diri yang Bergantung pada Validasi Orang Lain

Banyak orang yang terjebak dalam hubungan beracun tidak benar-benar merasa “cukup” tanpa pengakuan dari pasangan.

Ciri ini tampak dalam:

Takut ditinggalkan berlebihan

Merasa bernilai hanya jika dibutuhkan

Mengukur harga diri dari seberapa besar mereka “berkorban”

Akibatnya, hubungan yang tidak sehat justru terasa penting, karena menjadi sumber validasi emosional.

3. Pola Kelekatan Tidak Aman (Insecure Attachment)

Menurut teori attachment, pengalaman masa kecil membentuk cara kita menjalin hubungan saat dewasa.

Orang dengan anxious attachment atau fearful attachment sering:

Terobsesi dengan kedekatan tetapi takut ditinggalkan

Menoleransi perilaku buruk demi mempertahankan hubungan

Merasa hubungan yang tenang justru “kurang menantang”

Hubungan beracun sering terasa familiar bagi sistem saraf mereka, meski menyakitkan.

4. Keyakinan Bawah Sadar Bahwa Cinta Harus Menyakitkan

Bagi sebagian orang, cinta yang sehat terasa asing. Tanpa disadari, mereka membawa skrip internal seperti:

“Cinta itu perjuangan”

“Kalau tidak sakit, berarti tidak serius”

“Hubungan memang seharusnya naik turun ekstrem”

Psikologi menyebut ini sebagai internalized relationship beliefs, yaitu keyakinan lama yang membentuk pilihan pasangan secara otomatis.

5. Kesulitan Menetapkan dan Menjaga Batasan (Boundaries)

Salah satu ciri paling konsisten dalam hubungan beracun adalah batasan yang kabur atau tidak ditegakkan.

Orang dengan ciri ini sering:

Merasa bersalah saat berkata “tidak”

Takut dianggap egois

Lebih fokus pada kebutuhan pasangan daripada dirinya sendiri

Tanpa batasan yang jelas, hubungan mudah berubah menjadi relasi yang timpang dan melelahkan.

6. Kecenderungan Menjadi “Penyelamat” (Rescuer Complex)

Beberapa orang secara tidak sadar tertarik pada pasangan yang “bermasalah” karena merasa hidup mereka bermakna saat bisa memperbaiki orang lain.

Dalam psikologi, ini sering dikaitkan dengan:

Kebutuhan untuk merasa dibutuhkan

Ketakutan menghadapi kekosongan emosional sendiri

Identitas diri yang terbentuk dari peran menolong

Sayangnya, hubungan semacam ini jarang setara dan sering berakhir dengan kelelahan emosional.

7. Takut Kesepian Lebih Besar daripada Takut Disakiti

Bagi sebagian orang, kesepian terasa lebih menakutkan daripada hubungan yang menyakitkan.

Mereka mungkin berpikir:

“Lebih baik bersama siapa pun daripada sendirian.”

“Setidaknya aku tidak sendiri.”

“Nanti juga membaik.”

Psikologi menunjukkan bahwa ketakutan akan kesepian kronis dapat menurunkan standar hubungan secara drastis.

8. Kesulitan Mengenali Red Flag Sejak Awal

Ini bukan karena kurang cerdas, melainkan karena red flag sering terasa seperti “chemistry” bagi orang yang terbiasa dengan hubungan intens dan tidak stabil.

Tanda-tandanya:

Cemburu dianggap tanda cinta

Drama dianggap bukti kepedulian

Intensitas cepat disalahartikan sebagai kedekatan emosional

Tanpa kesadaran, pola ini terus berulang dengan pasangan yang berbeda.

Penutup: Pola Bisa Dipelajari, dan Bisa Diubah

Psikologi menegaskan satu hal penting:
apa yang dipelajari, bisa dipelajari ulang.

Memiliki ciri-ciri di atas bukanlah vonis seumur hidup. Dengan kesadaran, refleksi diri, terapi, dan pengalaman emosional yang lebih sehat, seseorang bisa:

Membangun batasan yang lebih kuat

Memilih pasangan dengan sadar, bukan dari luka lama

Mengalami cinta yang tenang, aman, dan saling menghargai

Jika kamu merasa artikel ini “kena”, itu bukan tanda kelemahan.
Itu tanda bahwa kamu mulai sadar — dan kesadaran adalah awal dari perubahan.

EDITOR: Hanny Suwindari