← Beranda
Jika Seseorang Melakukan 7 Hal Ini Setelah Anda Berbagi Kabar Baik, Sebenarnya Mereka Tidak Ikut Berbahagia untuk Anda Menurut Psikologi
Irfan FerdiansyahJumat, 23 Januari 2026 | 20.32 WIB
seseorang yang tidak ikut bahagia setelah mendengar kabar baik./Freepik/azerbaijan_stockers

JawaPos.com - Berbagi kabar baik seharusnya menjadi momen yang hangat. Entah itu tentang promosi kerja, kelulusan, kabar bahagia dalam hubungan, atau pencapaian kecil yang sudah lama Anda perjuangkan.

Secara naluriah, kita berharap orang-orang terdekat ikut tersenyum, memberi selamat, atau setidaknya menunjukkan ketulusan.

Namun dalam psikologi sosial, respons seseorang terhadap kabar baik orang lain sering kali lebih jujur daripada kata-kata mereka. Tidak semua orang yang berkata “wah, selamat ya” benar-benar ikut berbahagia.

Sebagian justru menyimpan rasa iri, tidak nyaman, atau bahkan terancam—dan itu bocor lewat perilaku halus yang sering kita abaikan.

Dilansir dari Geediting pada Jumat (23/1), jika setelah Anda berbagi kabar baik seseorang melakukan hal-hal berikut, bisa jadi secara emosional mereka tidak benar-benar senang untuk Anda.

1. Langsung Mengalihkan Pembicaraan ke Diri Mereka

Anda baru saja bercerita tentang pencapaian yang membuat Anda bangga, tapi beberapa detik kemudian, topiknya sudah berubah total—tentang masalah mereka, pencapaian mereka, atau cerita yang sama sekali tidak relevan.

Dalam psikologi, ini sering dikaitkan dengan kurangnya empati dan kebutuhan untuk tetap menjadi pusat perhatian.

Bukan berarti mereka jahat, tetapi secara emosional mereka tidak siap memberi ruang untuk kebahagiaan Anda. Kabar baik Anda terasa “mengganggu” posisi mereka dalam percakapan.

2. Memberi Selamat, Tapi Terasa Dingin dan Formal

Ucapan seperti, “Oh… ya, selamat,” tanpa ekspresi, tanpa antusiasme, dan tanpa pertanyaan lanjutan sering kali lebih bermakna daripada yang terlihat.

Psikologi afektif menunjukkan bahwa emosi positif yang tulus biasanya mendorong respons lanjutan—senyum, rasa ingin tahu, atau dorongan untuk merayakan. Ketika responsnya datar, itu bisa menjadi tanda bahwa secara emosional mereka tidak ikut merasakan kebahagiaan tersebut.

3. Langsung Mencari Sisi Negatif atau Risiko

Alih-alih ikut senang, mereka justru berkata:

“Tapi kerjanya pasti makin capek, kan?”

“Semoga nggak bikin kamu stres.”

“Ya bagus sih, tapi biasanya awalnya doang.”

Dalam psikologi, ini disebut defensive pessimism terhadap kebahagiaan orang lain. Kadang muncul dari rasa iri yang tidak disadari, kadang dari ketidaknyamanan melihat orang lain melangkah maju. Fokus pada potensi masalah menjadi cara halus untuk “menurunkan” euforia Anda.

4. Membandingkan dengan Orang Lain (atau Diri Mereka)

Respons seperti:

“Oh, si A juga dapat yang sama.”

“Dulu aku juga pernah begitu.”

“Sebenarnya kalau B lebih besar lagi…”

Perbandingan ini sering kali menjadi sinyal kompetisi sosial terselubung. Alih-alih mengakui pencapaian Anda sebagai sesuatu yang unik, mereka merelatifkannya agar terasa tidak terlalu istimewa. Dalam psikologi, ini adalah cara halus untuk melindungi harga diri mereka sendiri.

5. Terlihat Tidak Hadir Secara Emosional

Mereka mendengarkan, tapi:

sibuk dengan ponsel,

matanya kosong,

responsnya sekadarnya.

Psikologi komunikasi menekankan bahwa kehadiran emosional jauh lebih penting daripada sekadar mendengar kata-kata. Ketika seseorang benar-benar ikut berbahagia, tubuh mereka ikut “hadir”: bahasa tubuh terbuka, kontak mata, dan respons spontan. Ketidakhadiran ini sering menandakan jarak emosional.

6. Mengganti Kebahagiaan Anda dengan “Nasihat”

Alih-alih merayakan, mereka langsung memberi nasihat panjang:

“Kamu harus hati-hati.”

“Jangan terlalu senang dulu.”

“Ingat, hidup itu naik turun.”

Meski terdengar bijak, psikologi melihat ini sebagai cara meredam emosi positif. Nasihat yang datang terlalu cepat sering kali bukan soal kepedulian, melainkan ketidaknyamanan melihat orang lain merasa sangat bahagia.

7. Tidak Pernah Mengungkit atau Merayakannya Lagi

Setelah momen itu berlalu, mereka tidak pernah:

menanyakan kelanjutannya,

mengucapkan selamat lagi,

atau ikut merayakan dalam bentuk apa pun.

Dalam hubungan yang sehat, kabar baik biasanya menjadi memori bersama. Ketika seseorang benar-benar ikut berbahagia, mereka akan mengingat dan mengakuinya kembali. Jika tidak, bisa jadi pencapaian Anda tidak pernah benar-benar “dianggap” penting oleh mereka.

Kesimpulan: Tidak Semua Orang Siap Menyambut Kebahagiaan Kita

Psikologi mengajarkan satu hal penting: reaksi orang lain terhadap kabar baik kita lebih banyak bicara tentang kondisi batin mereka, bukan tentang nilai kebahagiaan kita.

Jika Anda menemukan tanda-tanda di atas, bukan berarti Anda harus marah atau menjauh secara dramatis. Cukup sadari bahwa tidak semua orang mampu ikut berbahagia atas pencapaian orang lain—terutama jika itu menyentuh rasa iri, ketidakamanan, atau luka yang belum selesai dalam diri mereka.

Yang terpenting, jangan mengecilkan kebahagiaan Anda hanya agar orang lain merasa nyaman. Kebahagiaan yang sehat tidak perlu disembunyikan, dan pencapaian Anda tetap layak dirayakan—terutama oleh diri Anda sendiri.

EDITOR: Hanny Suwindari