← Beranda
Jika Anda Dapat Mengidentifikasi Kesalahan Tata Bahasa dalam 9 Kalimat Ini, Kemampuan Berbahasa Anda DI Atas Rata-Rata Menurut Psikologi
Irfan FerdiansyahJumat, 23 Januari 2026 | 19.35 WIB
seseorang yang lebih cocok menjadi pemimpin./Freepik/benzoix

JawaPos.com - Bahasa bukan sekadar alat komunikasi. Dalam psikologi kognitif, bahasa adalah jendela yang memperlihatkan bagaimana otak bekerja—bagaimana kita memproses informasi, mengenali pola, dan membuat keputusan dalam hitungan milidetik.

Menariknya, kemampuan seseorang dalam mendeteksi kesalahan tata bahasa sering kali berkaitan erat dengan ketajaman pemrosesan bahasa di otak.

Sejumlah penelitian psikologi linguistik menunjukkan bahwa orang yang cepat menyadari kesalahan kecil dalam struktur kalimat memiliki language processing ability yang lebih tinggi dibandingkan mayoritas populasi.

Bahkan, kemampuan ini tidak selalu bergantung pada tingkat pendidikan formal, melainkan pada kepekaan otak terhadap pola bahasa.

Dilansir dari Geediting pada Jumat (23/1), jika Anda mampu menemukan kesalahan dalam 9 kalimat di bawah ini tanpa membaca ulang berkali-kali, besar kemungkinan kemampuan pemrosesan bahasa Anda lebih tajam daripada sekitar 91% penutur asli.

Mari kita uji bersama.

1. “Dia tidak menyadari bahwa dirinya telah melakukan kesalahan yang sangat fatal sekali.”

Kesalahan: Redundansi
Kata “sangat” dan “sekali” memiliki fungsi penegasan yang sama. Menggunakan keduanya bersamaan membuat kalimat tidak efektif.

Seharusnya:
“Dia tidak menyadari bahwa dirinya telah melakukan kesalahan yang sangat fatal.”

Kesalahan: Pengulangan jamak
Kata “para” sudah menunjukkan bentuk jamak, sehingga tidak perlu diikuti pengulangan kata “siswa-siswa”.

Seharusnya:
“Para siswa diwajibkan untuk mengumpulkan tugas besok pagi.”

3. “Ia pergi ke toko untuk membeli daripada kebutuhan sehari-hari.”

Kesalahan: Penggunaan kata depan yang tidak tepat
Kata “daripada” tidak tepat digunakan dalam konteks ini.

Seharusnya:
“Ia pergi ke toko untuk membeli kebutuhan sehari-hari.”

4. “Hasil penelitian ini menunjukkan bahwasanya metode tersebut kurang efektif.”

Kesalahan: Pilihan kata berlebih
Kata “bahwasanya” secara tata bahasa tidak salah, tetapi dalam bahasa Indonesia baku modern dianggap tidak efisien.

Seharusnya:
“Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa metode tersebut kurang efektif.”

5. “Dia adalah seorang yang paling terbaik di kelasnya.”

Kesalahan: Superlatif ganda
Kata “paling” dan “terbaik” memiliki makna tingkat tertinggi yang sama.

Seharusnya:
“Dia adalah siswa terbaik di kelasnya.”
atau
“Dia adalah seorang yang paling baik di kelasnya.”

6. “Walaupun hujan deras, tetapi mereka tetap melanjutkan perjalanan.”

Kesalahan: Konjungsi ganda
Kata “walaupun” dan “tetapi” tidak boleh digunakan bersamaan dalam satu struktur kalimat.

Seharusnya:
“Walaupun hujan deras, mereka tetap melanjutkan perjalanan.”
atau
“Hujan deras, tetapi mereka tetap melanjutkan perjalanan.”

7. “Ia sangat suka sekali membaca buku psikologi.”

Kesalahan: Penegasan berlebihan
Sama seperti sebelumnya, “sangat” dan “sekali” tidak perlu digunakan bersamaan.

Seharusnya:
“Ia sangat suka membaca buku psikologi.”

8. “Setiap orang-orang memiliki cara berpikir yang berbeda.”

Kesalahan: Ketidaksesuaian subjek
Kata “setiap” bersifat tunggal, sedangkan “orang-orang” jamak.

Seharusnya:
“Setiap orang memiliki cara berpikir yang berbeda.”

9. “Tujuan utama daripada penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh stres.”

Kesalahan: Struktur frasa tidak baku
Penggunaan “daripada” kembali tidak tepat dalam konteks ini.

Seharusnya:
“Tujuan utama penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh stres.”

Mengapa Otak Anda Bisa Cepat Menyadari Kesalahan Ini?

Dalam psikologi kognitif, kemampuan ini berkaitan dengan implicit language monitoring—proses bawah sadar di mana otak terus memeriksa konsistensi struktur bahasa. Orang dengan kemampuan ini biasanya:

Cepat mengenali pola yang menyimpang

Lebih sensitif terhadap detail linguistik

Memiliki memori kerja verbal yang kuat

Cenderung teliti dalam membaca dan mendengar

Menariknya, kemampuan ini sering muncul pada orang yang gemar membaca, menulis, atau terbiasa berpikir analitis—bahkan tanpa latar belakang linguistik formal.

Kesimpulan: Lebih dari Sekadar Tata Bahasa

Mendeteksi kesalahan tata bahasa bukan hanya soal “pandai berbahasa”. Menurut psikologi, ini adalah refleksi dari ketajaman otak dalam memproses informasi kompleks secara cepat dan akurat

. Jika Anda berhasil menemukan sebagian besar kesalahan di atas tanpa bantuan penjelasan, selamat—kemampuan pemrosesan bahasa Anda kemungkinan berada di atas rata-rata.

Dan yang lebih penting, kemampuan ini dapat terus diasah. Semakin sering Anda membaca dengan sadar, menulis dengan reflektif, dan berpikir kritis terhadap bahasa, semakin tajam pula cara kerja otak Anda.

EDITOR: Hanny Suwindari