JawaPos.com - Tidak jarang kita melihat orang yang sudah mapan secara finansial, namun masih berperilaku seperti orang yang harus menghitung setiap rupiah.
Mereka bisa saja mengendarai mobil mewah, tetapi tetap antusias saat menemukan promo besar di supermarket. Atau memiliki rumah mahal, namun masih memilih memperbaiki keran bocor sendiri.
Seperti dikutip dari rezeki dan hoki, Minggu (11/01), psikologi menyebut bahwa pola pikir yang terbentuk saat masa kecil di keluarga kelas pekerja (working class) sering kali melekat kuat, bahkan ketika seseorang telah mencapai kesuksesan besar. Berikut sembilan tanda halus yang biasanya muncul.
1. Selalu Melihat Harga Sebelum Kualitas
Orang yang tumbuh di keluarga sederhana terbiasa memastikan apakah sesuatu “mungkin dibeli” sebelum jatuh cinta pada kualitasnya. Kebiasaan ini terbentuk dari masa kecil ketika setiap pengeluaran harus dipertimbangkan matang-matang.
Meski kini mampu membeli barang mahal, refleks melihat label harga tetap muncul secara otomatis.
2. Tidak Nyaman Jika Orang Lain Mengerjakan Hal yang Bisa Ia Lakukan Sendiri
Memanggil tukang atau teknisi dulu berarti ada masalah besar. Itulah sebabnya banyak orang berlatar belakang working class merasa tidak enak membayar orang lain untuk pekerjaan yang bisa dipelajari sendiri dari YouTube.
Bagi mereka, kemandirian bukan soal hemat, melainkan nilai hidup.
3. Tetap Bekerja Meski Tidak Lagi Terpaksa
Banyak orang sukses dari keluarga sederhana sulit berhenti bekerja. Konsep “cukup” terasa asing karena sejak kecil mereka diajarkan bahwa kerja keras adalah satu-satunya cara bertahan.
Istirahat sering terasa seperti risiko, bukan hadiah.
4. Sangat Sensitif Terhadap Pemborosan Makanan
Membuang sisa makanan terasa seperti dosa besar. Ketika terbiasa melihat orang tua menghemat hingga tetes terakhir, makanan menjadi simbol kerja keras dan pengorbanan.
Maka, membiarkan makanan terbuang sama dengan tidak menghargai usaha.
5. Curiga Terhadap Jalan Pintas dan Uang Instan
Skema cepat kaya, janji sukses instan, dan peluang tanpa usaha sering dianggap mencurigakan. Mereka telah melihat terlalu banyak orang terjebak janji palsu.
Karena itu, kerja keras masih dianggap satu-satunya jalan yang masuk akal.
6. Meremehkan atau Merasa Bersalah atas Kesuksesan
Banyak orang yang “berhasil” justru merasa tidak pantas atas kekayaannya. Mereka menyebutnya keberuntungan, bukan hasil kerja.
Ini berasal dari rasa bersalah karena keluar dari kondisi yang masih dialami keluarga atau teman masa kecil mereka.
7. Tetap Suka Mengerjakan Segalanya Sendiri (DIY)
Mulai dari memperbaiki perabot hingga renovasi kecil, semuanya dilakukan sendiri. Bukan karena tidak mampu membayar tukang, tetapi karena ada kebanggaan dalam kemandirian.
Itu adalah identitas yang sulit dilepaskan.
8. Hubungan yang Rumit dengan Kemewahan
Mereka bisa membeli barang mahal, tetapi merasa aneh menikmatinya. Liburan mewah tetap dibarengi rasa bersalah.
Kemewahan terasa sekaligus pantas dan tidak pantas.
9. Selalu Menyimpan Dana Darurat Besar
Bagi mereka, dana darurat bukan sekadar strategi finansial, melainkan rasa aman emosional. Trauma melihat tagihan menumpuk atau listrik hampir diputus membuat kebutuhan akan cadangan uang menjadi sangat kuat.
Orang yang tumbuh dalam ketidakpastian finansial cenderung menyimpan lebih banyak tabungan cair dibanding saran pakar keuangan.