JawaPos.com - Pernah memperhatikan bagaimana sebagian orang justru semakin pemarah seiring bertambahnya usia, sementara yang lain terlihat lebih tenang dan puas menjalani hidup?
Pertanyaan itu juga pernah saya renungkan, terutama setelah pensiun dini di usia 62 tahun. Perusahaan tempat saya bekerja melakukan perampingan, dan tiba-tiba saya memiliki banyak waktu luang tanpa tahu harus melakukan apa.
Namun ada satu hal yang mengejutkan saya: orang-orang lanjut usia yang paling bahagia bukanlah mereka yang mempertahankan semua kebiasaan dan pola pikir sejak muda. Justru merekalah yang tahu apa saja yang perlu dilepaskan.
Dilansir dari laman Geediting, Selasa (06/01), berbagai riset psikologi menunjukkan bahwa kebahagiaan di usia lanjut sering kali ditentukan bukan oleh apa yang dimiliki, melainkan oleh kebiasaan apa yang berhasil ditinggalkan. Berikut sembilan kebiasaan yang umumnya dilepas oleh orang-orang yang tetap bahagia di usia senja.
1. Keinginan untuk Selalu Benar
Orang yang bahagia di usia tua tidak menjadikan setiap percakapan sebagai ajang debat. Mereka memahami bahwa menjaga hubungan jauh lebih berharga daripada sekadar membuktikan diri paling benar.
Psikologi menunjukkan bahwa kebutuhan untuk selalu menang dalam argumen sering kali berujung pada konflik dan jarak emosional. Melepaskannya justru mendatangkan ketenangan.
2. Perfeksionisme Berlebihan
Banyak orang menghabiskan hidupnya untuk mengejar kesempurnaan, padahal hasil akhirnya jarang sebanding dengan stres yang ditanggung. Di usia lanjut, mereka yang bahagia mulai menerima konsep “cukup baik”.
Dalam psikologi, pendekatan ini dikenal sebagai satisficing—memilih hasil yang memadai daripada mengejar kesempurnaan yang melelahkan.
3. Kebiasaan Membandingkan Diri dengan Orang Lain
Membandingkan hidup dengan orang lain ibarat mengonsumsi makanan cepat saji bagi jiwa: terlihat menarik, tetapi kosong nutrisinya. Orang yang bahagia di usia senja menyadari bahwa setiap orang menjalani jalur hidup yang berbeda.
Mereka berhenti membandingkan pencapaian, harta, atau gaya hidup karena sadar bahwa tidak ada seorang pun yang benar-benar mengetahui keseluruhan cerita hidup orang lain.
4. Menyimpan Barang yang Sudah Tidak Memberi Manfaat
Banyak lansia bahagia merasakan kelegaan setelah merapikan dan melepaskan barang-barang yang tak lagi digunakan. Mereka memahami bahwa kenangan tidak tersimpan di benda, melainkan dalam pengalaman.
Psikologi menunjukkan bahwa keterikatan berlebihan pada barang justru dapat membebani emosi dan pikiran.
5. Keinginan Mengendalikan Segalanya
Seiring bertambahnya usia, orang bahagia menyadari bahwa tidak semua hal bisa dikendalikan. Mereka memilih fokus pada hal yang masih bisa diatur: sikap, respons, dan keputusan pribadi.
Fleksibilitas ini membuat mereka lebih mudah beradaptasi dengan perubahan dan kekecewaan kecil dalam hidup.
6. Menghindari Kenyataan tentang Proses Menua
Orang yang bahagia tidak berpura-pura tetap muda. Mereka menerima keterbatasan fisik yang datang seiring usia tanpa membiarkannya mendefinisikan jati diri.
Penerimaan ini membuka ruang untuk menemukan aktivitas dan kesenangan baru yang sesuai dengan kondisi saat ini.
7. Menolak atau Meremehkan Pujian
Alih-alih merendahkan diri secara berlebihan, orang bahagia di usia senja belajar menerima pujian dengan sederhana—cukup dengan mengucapkan terima kasih.
Psikologi menunjukkan bahwa menerima apresiasi membantu membangun citra diri yang sehat dan rasa syukur atas perjalanan hidup yang telah dilalui.
8. Terjebak dalam Penyesalan Masa Lalu
Setiap orang memiliki kesalahan dan penyesalan. Bedanya, orang bahagia berhenti memutar ulang kegagalan lama dalam pikirannya.
Mereka memahami bahwa terus menyesali masa lalu hanya akan menghalangi langkah ke depan dan menguras energi emosional.
9. Mempertahankan Hubungan yang Menguras Energi
Orang bahagia di usia lanjut memberi izin pada diri sendiri untuk membatasi hubungan yang tidak sehat atau tidak seimbang. Ini bukan berarti memutuskan semua hubungan, melainkan memilih interaksi yang saling menghargai.
Psikologi menegaskan bahwa kualitas hubungan jauh lebih penting daripada jumlahnya, terutama di usia senja.