← Beranda
8 Alasan Mengapa Beberapa Orang Tidak Bisa Memisahkan Cinta Sejati dari Masalah Toxic dalam Hubungan Mereka Menurut Psikologi
Irfan Ferdiansyah• Minggu, 23 November 2025 | 22.04 WIB
seseorang yang tidak bisa lepas dari hubungantoxic./Freepik/Drazen Zigic

JawaPos.com - Dalam dunia ideal, cinta sejati seharusnya membuat seseorang tumbuh, merasa aman, dan berkembang bersama pasangan.

Namun dalam kenyataan, banyak orang justru kesulitan membedakan cinta yang sehat dari hubungan yang toxic.

Mereka tetap bertahan meski disakiti, menganggap konflik sebagai bukti cinta, atau percaya bahwa penderitaan adalah bagian dari takdir hubungan.

Psikologi menjelaskan bahwa fenomena ini tidak terjadi karena seseorang “lemah”, tetapi karena adanya pola emosional dan kognitif yang kompleks.

Dilansir dari Geediting pada Jumat (21/11), terdapat delapan alasan utama mengapa sebagian orang sulit memisahkan cinta sejati dari dinamika toxic dalam hubungan mereka.

1. Mereka Memiliki Attachment Style yang Tidak Aman

Dalam psikologi, gaya keterikatan seperti anxious attachment membuat seseorang merasa takut ditinggalkan.

Akibatnya, mereka sering memaknai cinta sebagai sesuatu yang harus diperjuangkan mati-matian, meskipun hubungan itu menyakitkan.

Ketika pasangan toxic menarik-ulur perhatian, orang dengan attachment ini justru merasa itu bagian dari intensitas cinta.

2. Trauma Masa Lalu Membentuk Normalisasi Konflik

Orang yang tumbuh dalam keluarga penuh pertengkaran, manipulasi, atau ketidakstabilan emosional cenderung menganggap drama sebagai hal normal.

Ketika mereka dewasa, hubungan toxic terasa “akrab” karena mirip dengan pengalaman masa kecil.

Dalam psikologi disebut repetition compulsion—kecenderungan mengulang pola lama dengan harapan akhir yang berbeda.

3. Mereka Salah Mengartikan Chemistry sebagai Cinta

Intensitas emosional—perasaan deg-deg-an, kecemasan, rindu yang berlebihan—kadang dianggap sebagai bukti cinta sejati.

Padahal hal itu sering berasal dari hormon stres, bukan kasih sayang yang sehat.

Hubungan toxic memang sering penuh pasang-surut, dan naik-turun emosinya membuat seseorang kecanduan.

4. Self-Esteem yang Rendah Membuat Mereka Merasa Tidak Layak Dicintai

Ketika seseorang memiliki harga diri yang rapuh, mereka mudah menerima perlakuan buruk karena merasa tidak pantas mendapatkan yang lebih baik.

Dalam kondisi seperti ini, sedikit perhatian dari pasangan toxic dapat terasa seperti “hadiah besar”, sehingga sulit membedakan cinta dari manipulasi.

5. Harapan Berlebih akan Perubahan Pasangan

Banyak orang terjebak dalam hope syndrome: keyakinan bahwa pasangannya pasti akan berubah suatu hari nanti.

Mereka melihat potensi, bukan realitas.

Keyakinan ini membuat mereka memaafkan perilaku toxic dengan alasan “dia sedang berproses”—padahal seringkali perubahan itu tidak pernah terjadi.

6. Ketakutan Akan Kesepian Lebih Besar daripada Rasa Sakit

Dalam psikologi sosial, manusia memiliki kebutuhan dasar untuk terhubung dengan orang lain.

Ketika ketakutan akan sendirian lebih kuat daripada rasa sakit akibat perlakuan buruk, seseorang akan tetap bertahan.

Mereka merasa hubungan toxic lebih baik daripada tidak punya pasangan sama sekali.

7. Siklus Manipulasi: Gaslighting, Love Bombing, dan Idealization

Hubungan toxic sering berjalan dalam siklus: fase penuh cinta (love bombing), lalu kritik atau kekerasan emosional, kemudian fase penyesalan dan janji manis.

Pola naik-turun ini menyebabkan intermittent reinforcement—bentuk penguatan yang sangat membuat seseorang kecanduan secara emosional, sehingga sulit pergi meski tahu hubungan itu tidak sehat.

8. Mereka Mencampuradukkan Pengorbanan dengan Pembuktian Cinta

Budaya romantisasi “berjuang demi cinta” membuat banyak orang percaya bahwa semakin besar pengorbanan, semakin murni hubungan tersebut.

Akibatnya, mereka melihat toxic sebagai ujian cinta, bukan tanda bahaya.

Dalam psikologi hal ini disebut martyr complex—keinginan menjadi korban demi merasa bernilai.

Kesimpulan: Cinta Sejati Tidak Pernah Mengharuskan Seseorang Kehilangan Dirinya

Cinta sejati membangun, bukan menghancurkan.

Ia memberikan ruang aman untuk berkembang, bukan membuat seseorang cemas dan merasa tidak cukup.

Ketika seseorang sulit memisahkan cinta dari toxic, itu bukan berarti mereka bodoh atau lemah—melainkan ada pola psikologis yang harus dipahami dan dipulihkan.

EDITOR: Hanny Suwindari