Jawapos.com - Status sosial sering kali menjadi salah satu faktor yang membentuk cara seseorang memandang diri sendiri.
Meskipun konsep “kelas sosial” terus berubah, perasaan minder—merasa tidak cukup kaya, tidak cukup berpendidikan, atau tidak cukup mapan—masih menjadi realitas banyak orang.
Menariknya, ketidakpercayaan diri terhadap posisi sosial sering muncul bukan melalui kata-kata, melainkan melalui kebiasaan yang dilakukan secara tidak sadar.
Dilansir dari Geediting pada Minggu (9/11), menurut psikologi sosial, individu yang merasa rendah diri di lingkungan sosial tertentu rentan melakukan serangkaian perilaku kompensasi—entah dengan menutupi diri, menghindar, atau justru berusaha tampil “lebih” dari yang sebenarnya.
Berikut 8 kebiasaan yang paling umum terjadi.
1. Terlalu Sering Membandingkan Diri dengan Orang Lain
Seseorang yang tidak yakin dengan kelas sosialnya cenderung terus mengukur harga dirinya berdasarkan pencapaian atau penampilan orang lain.
Mereka mungkin merasa tersaingi terhadap hal-hal kecil—mulai dari pekerjaan, liburan, hingga gaya hidup.
Obsesi membandingkan diri ini berasal dari perjalanan psikologis untuk menemukan “tempat” yang aman dalam struktur sosial. Ironisnya, semakin sering membandingkan diri, semakin menurun rasa percaya diri.
2. Menghindari Lingkungan yang Dianggap “Lebih Tinggi”
Alih-alih berkembang, banyak orang memilih menjauhi lingkungan yang menurut mereka lebih elit.
Bukan karena tidak tertarik, melainkan karena takut dianggap rendah, tidak pantas, atau tidak mampu mengikuti budaya sosial lingkungan tersebut.
Dalam psikologi, ini disebut self-exclusion—perilaku menghilangkan peluang sosial untuk melindungi ego dari penolakan.
3. Terlalu Berusaha Menunjukkan “Aset” yang Dimiliki
Beberapa orang justru melakukan kebalikan: mereka menonjolkan hal-hal materi yang dimiliki untuk terlihat lebih tinggi statusnya.
Gawai terbaru, perhiasan mencolok, atau cerita-cerita keberhasilan kadang dibagikan bukan untuk kebanggaan positif, melainkan sebagai tameng.
Mereka ingin terlihat mampu agar tidak dipandang rendah, sekalipun secara internal tetap merasa kecil.
4. Merasa Tidak Pantas Beropini
Sering kali, mereka merasa pendapatnya kurang valid dibanding orang lain. Ini bukan sekadar introversi; melainkan keyakinan mendalam bahwa status sosial menentukan nilai suara seseorang.
Padahal, dalam komunikasi interpersonal, tingkat pendidikan atau kelas ekonomi bukanlah penentu kualitas opini.
Namun persepsi inferior membuat mereka menahan diri, takut salah, atau takut ditertawakan.
5. Menolak Kesempatan karena Takut Gagal
Diundang ke acara profesional? Ditawari projek berkelas?
Banyak yang secara otomatis menolak karena merasa tidak akan bisa tampil layak.
Menurut teori self-handicapping, orang menghalangi diri sendiri dari peluang untuk menghindari kemungkinan gagal.
Dengan tidak mencoba, mereka merasa aman dari risiko dipermalukan.
6. Sulit Menerima Pujian
Pujian sederhana—“kerjamu bagus”—bisa terasa mengancam.
Mereka merasakan disonansi antara apa yang orang lain lihat dengan apa yang mereka yakini tentang dirinya.
Akibatnya, pujian membuat mereka tidak nyaman, bahkan tidak percaya.
Responsnya sering berupa merendahkan diri atau menyebut keberuntungan sebagai penyebab keberhasilan.
7. Cenderung Membiarkan Diri Diperlakukan Tidak Adil
Karena merasa statusnya “lebih rendah”, mereka cenderung menerima perlakuan buruk, tidak berani bersuara, atau menganggap itu sesuatu yang “wajar”.
Dalam psikologi, ini terkait dengan low self-worth—perasaan bahwa diri tidak layak dihormati.
Padahal, komunikasi asertif adalah hak setiap individu.
8. Merasa Bersalah Saat Menghabiskan Uang untuk Diri Sendiri
Meskipun punya kemampuan finansial, mereka sering merasa bersalah ketika membeli sesuatu untuk diri sendiri.
Hal ini biasanya tumbuh dari keyakinan bahwa diri tidak cukup layak menerima kenyamanan atau kemewahan.
Akibatnya, kebutuhan emosional terabaikan karena muncul konflik internal antara keinginan dan rasa tidak pantas.
Mengapa Hal Ini Terjadi?
Rasa tidak percaya diri terhadap kelas sosial biasanya berakar dari kombinasi:
Pola asuh
Lingkungan
Pengalaman diejek atau diremehkan
Trauma ekonomi
Sistem sosial yang hierarkis
Akibatnya, seseorang menyerap keyakinan keliru bahwa nilai dirinya ditentukan oleh materi, jabatan, atau gelar.
Bagaimana Mengatasinya?
Sadari pola yang muncul
Latih afirmasi positif tentang diri
Fokus pada kompetensi diri, bukan penilaian sosial
Bangun lingkungan yang suportif
Belajar menerima pujian
Tetapkan batasan dalam relasi sosial
Dengan menyadari bahwa nilai manusia tidak ditentukan oleh label sosial, kita dapat membangun identitas yang lebih sehat.
Kesimpulan
Ketidakpercayaan diri terhadap kelas sosial bukan hanya tentang uang atau status, tetapi tentang bagaimana seseorang memaknai dirinya di hadapan orang lain.
Orang yang merasa inferior cenderung memunculkan kebiasaan unik—mulai dari menghindar, meniru, hingga menutupi kekurangan.
Namun, yang terpenting adalah menyadari bahwa kelas sosial bukan penentu harga diri.
Setiap orang memiliki nilai, potensi, dan jalannya sendiri.
Begitu keyakinan ini tertanam, rasa percaya diri pun akan tumbuh, memungkinkan seseorang berkembang tanpa harus terus merasa kecil.