← Beranda
Mengungkap 8 Frasa yang Mengisyaratkan Orang Tua Sulit Mengekspresikan Cinta Sejati
Aunur RahmanMinggu, 28 September 2025 | 21.02 WIB
Ilustrasi seorang anak kecil sedang duduk sendirian di sudut ruangan dengan ekspresi sedih, mencerminkan isolasi emosional./Freepik

JawaPos.com - Tumbuh dewasa dengan orang tua yang kaku terkadang membuat kita kesulitan memahami perasaan mereka.

Seringkali, apa yang mereka katakan tidak sesuai dengan harapan untuk mendapatkan afeksi secara tulus dan terbuka. Butuh waktu bertahun-tahun bagi seorang anak untuk menyadari hal ini.

Melansir dari Geediting.com Minggu (28/9), beberapa ungkapan yang sering diucapkan justru menjadi tanda. Ungkapan ini menunjukkan adanya kesulitan orang tua dalam menyampaikan rasa cinta yang sehat. Mari kita simak delapan frasa umum yang menjadi petunjuk tersebut.

1. "Berhenti menangis atau Ayah/Ibu beri alasan untuk menangis"

Ungkapan ini mengajarkan anak bahwa menunjukkan emosi adalah sebuah kelemahan. Ini juga mengirim pesan bahwa mengekspresikan rasa sakit hanya akan mendatangkan masalah baru. Anak belajar untuk menekan emosi, yang berpotensi memicu kecemasan saat dewasa.

2. "Karena saya bilang begitu"

Frasa ini memang mudah dan cepat bagi orang tua yang kelelahan. Namun, ini menutup pintu dialog serta menghentikan proses komunikasi yang tulus. Cinta yang sehat harusnya diikuti dengan kesabaran dan keinginan untuk membimbing.

3. "Kamu terlalu sensitif"

Mendengar ini berulang kali dapat membuat anak meragukan naluri dan perasaannya sendiri. Pesan ini mengikis kepercayaan diri emosional. Orang tua yang ekspresif seharusnya bertanya apa yang mengganggu anaknya, bukan melabeli mereka "berlebihan".

4. "Kenapa kamu tidak seperti adik/kakakmu?"

Perbandingan ini mungkin dimaksudkan untuk memotivasi, tetapi sering kali menciptakan rasa tidak aman yang mendalam. Cinta yang tulus tidak seharusnya bersyarat. Frasa ini membuat anak merasa harus selalu bersaing.

5. "Saya mengorbankan segalanya untukmu"

Pernyataan ini mengubah cinta menjadi sebuah transaksi atau utang budi yang berat. Anak merasa berhutang budi, bukan disayangi secara cuma-cuma. Kasih sayang yang dipersenjatai dengan rasa bersalah bukanlah kepedulian.

6. "Kamu akan mengerti setelah dewasa"

Frasa ini sering digunakan saat anak meminta koneksi emosional tetapi justru mendapatkan tembok. Kalimat ini menutup percakapan, menghindar dari kerentanan, dan menciptakan jarak yang lebar. Jarak emosional ini sayangnya tidak selalu menyusut seiring bertambahnya usia.

7. "Kamu tahu kan, Ayah/Ibu sayang kamu?"

Ungkapan ini sering muncul sebagai pengganti afeksi langsung dan keintiman fisik yang hangat. Orang tua mengandalkan asumsi dan kepraktisan, padahal cinta seharusnya tidak ditebak-tebak. Cinta harus ditunjukkan secara teratur dan jelas kepada anak.

8. "Anak lain bahkan lebih menderita"

Satu di antara cara orang tua meremehkan perasaan anak adalah dengan perbandingan ini. Ini mengajarkan anak bahwa penderitaan mereka tidak layak mendapat empati. Frasa ini membuat mereka merasa harus menyimpan rasa sakit sendiri.

Mengenali frasa-frasa ini menjadi pencerahan bahwa cinta orang tua memang rumit dan berlapis. Kita harus memahami bahwa kata-kata ini seringkali merupakan pengganti dari sentuhan, pelukan, atau pujian yang hilang. Orang tua mungkin hanya meniru cara mereka dibesarkan.

Kesadaran ini dapat membantu kita memaafkan masa lalu dan membangun cara berkomunikasi yang lebih baik untuk masa depan. Cinta sejati harus terasa nyaman dan aman untuk diterima.

EDITOR: Setyo Adi Nugroho