← Beranda
Berhenti Ngantor Tapi Tidak Resign? Kenali Quiet Quitting dan Alasan Banyak Yang Memilih Menjaga Batasan Kerja Tanpa Benar-Benar Resign
Aria Maulana SatriyoKamis, 25 September 2025 | 17.59 WIB
Ilustrasi quiet quitting./Freepik.

JawaPos.com – Quiet quitting atau fenomena karyawan diam-diam berhenti secara emosional dari pekerjaannya adalah tren baru di dunia kerja yang semakin banyak dibicarakan. 

Istilah ini tidak berarti benar-benar berhenti, melainkan kondisi di mana seseorang tetap hadir secara fisik di kantor, tetapi sudah kehilangan motivasi, keterikatan, dan rasa kepedulian terhadap pekerjaannya.

Fenomena ini ternyata bukan hal kecil. Menurut laporan Gallup, hingga 85% karyawan di seluruh dunia bisa digolongkan sebagai quiet quitters, dengan hanya sekitar 15% yang benar-benar terlibat aktif. 

Di Amerika Serikat, angka ini sedikit lebih baik, namun tetap tinggi.

Sekitar 67% pekerja terindikasi melakukan quiet quitting karena tingkat keterlibatan mereka lebih tinggi dibanding rata-rata global. Fenomena ini memunculkan pertanyaan penting. 

Mengapa quiet quitting bisa terjadi begitu luas, apa dampaknya bagi produktivitas, dan bagaimana sebaiknya perusahaan maupun individu menyikapinya?

Baca Juga: 7 Sifat Unik yang Dimiliki Individu yang Suka Memberi Tempat Duduknya di Angkutan Umum

Simak penjelasan berikut yang dilansir dari Paychex dan ActivTrak.

Apa Itu Quiet Quitting?

Quiet quitting adalah kondisi karyawan yang secara perlahan melepaskan keterlibatan emosional maupun profesional dari pekerjaannya, tanpa benar-benar mengajukan resign secara formal. 

Bedanya dengan resign biasa, quiet quitting berlangsung diam-diam sama seperti namanya. 

komunikasi dengan atasan berkurang, antusiasme hilang, dan kontribusi hanya sebatas memenuhi deskripsi kerja yang tertulis.

Dari sudut pandang karyawan, quiet quitting sering kali merupakan bentuk protes sunyi.

Sebuah respon terhadap rasa tidak dihargai, beban kerja berlebihan, atau minimnya peluang berkembang. 

Alih-alih berbicara langsung dengan atasan, banyak karyawan memilih menarik diri perlahan sebagai sinyal ketidakpuasan.

Menariknya, definisi quiet quitting sendiri bervariasi dari setiap pekerja. 

Sebuah survei menemukan bahwa 40% karyawan mengartikannya sebagai bekerja sesuai kontrak saja—datang, mengerjakan tugas pokok, lalu pulang. 

Sementara 24% lainnya memaknainya sebagai cara untuk membatasi jam kerja demi menjaga keseimbangan hidup, khususnya setelah pengalaman bekerja dari rumah selama pandemi. 

Ada pula yang melihatnya sebagai jalan memaksa diri untuk dipecat (23%) atau sekadar tanda menurunnya performa sebelum akhirnya resign (10%).

Data lain menunjukkan, 64% responden mengakui pernah melakukan quiet quitting. 

Fenomena ini paling banyak ditemukan pada pekerja jarak jauh (81%), disusul pekerja hybrid (61%), dan paling rendah pada pekerja kantor penuh waktu (38%). 

Angka ini memberi sinyal bahwa model kerja jarak jauh membuat gejala disengagement lebih sulit dipantau perusahaan sebab tidak terlihat langsung di ruang kerja fisik.

Mengapa Karyawan Melakukan Quiet Quitting?

Umumnya, hal ini berakar pada rendahnya keterlibatan karyawan di tempat kerja. 

Ada sejumlah faktor yang membuat seseorang akhirnya memilih untuk menarik diri perlahan dari pekerjaannya.

1. Gaji yang Tidak Seimbang dengan Beban Kerja 

Salah satu alasan terbesar quiet quitting adalah masalah gaji. 

Banyak karyawan merasa bahwa tambahan jam kerja atau meningkatnya beban sejak era remote working tidak diimbangi dengan kompensasi yang layak. 

Riset Pew Research menunjukkan, sejak 1978, gaji CEO meningkat lebih dari 1.200%, sementara gaji rata-rata pekerja hanya naik sekitar 15,3%. 

Kesenjangan ini membuat pekerja merasa tidak adil jika diminta terus “all out” tanpa ada peningkatan penghargaan finansial. 

Misalnya, seorang karyawan marketing yang diminta lembur hampir setiap malam untuk mengejar target klien, tetapi bonus tahunan tak kunjung naik. 

Lama-lama, semangat kerja pun mengendur.

2. Minimnya Kesempatan untuk Berkembang

Selain gaji, peluang karier juga memengaruhi motivasi. Banyak pekerja merasa terjebak di posisi yang sama, meskipun mereka sudah bekerja keras. 

Tidak ada jenjang promosi, kenaikan jabatan, atau bahkan pelatihan untuk pengembangan diri. Akibatnya, mereka kehilangan harapan. 

Seorang staf administrasi, misalnya, bisa merasa percuma jika kontribusinya tidak pernah diakui, bahkan setelah bertahun-tahun loyal pada perusahaan. 

Pada titik tertentu, mereka memilih quiet quitting sebagai cara bertahan tanpa ekspektasi berlebih.

3. Rasa Tidak Dihargai di Tempat Kerja

Lingkungan kerja yang penuh ketidakpercayaan dan apresiasi juga bisa menjadi pemicu. 

Karyawan yang sering dimicromanage, dipertanyakan keputusannya, atau bahkan diabaikan masukannya, cenderung kehilangan keterikatan. 

Bayangkan seorang desainer yang idenya selalu dipotong tanpa pertimbangan, atau seorang staf HR yang laporannya terus diulang-ulang oleh atasan tanpa alasan jelas. 

Situasi seperti ini membuat mereka merasa tidak dihargai, sehingga enggan lagi memberikan usaha lebih.

4. Masalah Pribadi dan Keluarga 

Bagi sebagian pekerja, quiet quitting juga dipengaruhi faktor di luar kantor. Sejak pandemi, misalnya, banyak orang tua yang kesulitan mencari pengasuhan anak. 

Seorang ibu yang harus menjemput anaknya sekolah sore hari mungkin tidak bisa mengikuti rapat tambahan di luar jam kerja. 

Jika perusahaan tidak memberi ruang fleksibilitas, ia akan memilih menurunkan keterlibatan, karena prioritas keluarga lebih utama.

5. Kurangnya Fleksibilitas dan Pilihan

Terakhir, fleksibilitas kerja menjadi isu besar. Setelah terbiasa bekerja dari rumah, banyak karyawan merasakan manfaat keseimbangan hidup. 

Namun, ketika perusahaan kembali menuntut full office tanpa pilihan, semangat kerja bisa menurun drastis. 

Misalnya, seorang karyawan yang sebelumnya bisa bekerja efektif dari rumah sekaligus menjaga orang tuanya, kini harus menghabiskan 3 jam perjalanan setiap hari. 

Kondisi ini membuatnya lelah dan akhirnya memilih quiet quitting sebagai bentuk protes pasif.

Akhir Kata

Fenomena quiet quitting sebenarnya bukan soal malas bekerja atau kurang loyal, melainkan bentuk perlawanan senyap terhadap sistem kerja yang kerap tidak adil. 

Banyak karyawan memilih mundur perlahan bukan karena tidak mampu, tetapi karena lelah memberi terlalu banyak tanpa mendapat penghargaan yang sepadan. 

Di balik itu, ada keresahan akan gaji yang stagnan, kesempatan karier yang buntu, hingga kurangnya penghargaan atas kontribusi mereka.

Realitanya, perusahaan sering kali menuntut engagement tinggi dari karyawan. 

Namun enggan membenahi akar masalah seperti beban kerja berlebihan, kurangnya fleksibilitas, atau minimnya rasa hormat di tempat kerja. 

Akhirnya, quiet quitting menjadi jalan sunyi yang dipilih pekerja untuk bertahan, menjaga kesehatan mental, sekaligus memprotes budaya kerja yang toxic.

Mungkin, alih-alih menyalahkan karyawan yang memilih berhenti “all out,” perusahaan perlu lebih berani mengakui bahwa sistemlah yang membuat banyak orang merasa tidak bernilai. 

Karena pada akhirnya, loyalitas tidak bisa dipaksa tapi ia tumbuh dari rasa adil, penghargaan, dan keseimbangan hidup dan kerja.

EDITOR: Hanny Suwindari