← Beranda
Mengapa Ada Orang yang Malas Berinteraksi? Memahami Social Withdrawal, Penyebab, dan Dampaknya Menurut Psikologi
Aria Maulana SatriyoRabu, 24 September 2025 | 01.52 WIB
Ilustrasi seseorang merasa kesepian karena social withdrawal.

JawaPos.com – Mengapa ada orang yang malas berinteraksi? 

Hal ini kerap menjadi pertanyaan ketika kita melihat teman, saudara, atau bahkan diri sendiri lebih memilih menyendiri ketimbang terlibat dalam percakapan sosial. 

Fenomena ini bukan sekadar “introvert” atau tidak suka keramaian, melainkan bisa terkait dengan kondisi psikologis yang lebih dalam, yang dalam istilah psikologi dikenal sebagai social withdrawal.

Baca Juga: Mengapa Ada Orang yang Mudah Jatuh Cinta? Mengenal Emophilia, Fenomena Psikologi yang Bisa Bikin Hubungan Rumit

Riset terbaru di Seoul menemukan bahwa isolasi sosial yang berlangsung selama tiga tahun atau lebih berhubungan signifikan dengan risiko gejala depresi, terutama pada perempuan, dengan odds ratio (OR) mencapai 6,04. 

Artinya, mereka yang mengalami social withdrawal berkepanjangan enam kali lebih berisiko mengalami depresi dibandingkan yang tidak. 

Secara umum, prevalensi perilaku penarikan diri sosial ini diperkirakan sekitar 3,2% di populasi, dengan laki-laki menunjukkan angka lebih tinggi (7,0%) dibandingkan perempuan (2,3%). 

Data ini memberi gambaran bahwa social withdrawal bukan fenomena sepele, melainkan persoalan kesehatan mental yang nyata dan perlu mendapat perhatian serius.

Baca Juga: Jika Anda Mengalami 12 Hal Ini Saat Tumbuh Dewasa, Anda Lebih Kuat dari yang Anda Sadari Menurut Psikologi

Nah agar kita lebih awas terhadap gejala ini, simak penjelasan berikut yang dilansir dari Verywell Mind dan Nurseline Community Service.

Ciri-Ciri Orang yang Mengalami Social Withdrawal

Fenomena social withdrawal atau penarikan diri dari interaksi sosial sering kali muncul perlahan. 

Awalnya terlihat seperti kebutuhan untuk “me time”, tapi lama-lama bisa berkembang menjadi kebiasaan yang berdampak serius pada kesehatan mental. 

Agar tidak salah menilai, penting untuk memahami tanda-tanda awalnya.

1. Mengurangi Interaksi Sosial

Salah satu tanda paling jelas adalah berkurangnya interaksi sosial terhadap teman atau bahkan keluarga. 

Orang yang mengalami social withdrawal cenderung menolak undangan, sering membatalkan rencana, atau berhenti terlibat dalam kegiatan komunitas. 

Kontak dengan keluarga dan teman juga semakin jarang, bahkan sekadar membalas pesan pun bisa terasa berat. Perubahan ini tidak selalu terjadi tiba-tiba, melainkan bertahap. 

Rasa lelah emosional, kecemasan berlebih saat berada di keramaian, atau ketidaknyamanan dalam percakapan sering menjadi alasan utama. 

Jika dibiarkan, pola ini bisa mengeras menjadi isolasi sosial yang semakin sulit dipulihkan.

2. Perubahan Perilaku dan Emosi

Tanda lain yang patut diwaspadai adalah perubahan sikap dan perilaku sehari-hari. 

Seseorang bisa menjadi lebih mudah tersinggung, mengalami perubahan suasana hati drastis, atau terlihat lebih cemas. 

Gangguan tidur—baik terlalu banyak maupun terlalu sedikit—serta perubahan pola makan juga sering muncul. 

Meski sekilas terlihat seperti stres biasa, kombinasi tanda-tanda ini bisa menjadi sinyal adanya masalah yang lebih serius. 

Apalagi jika berlangsung lama dan disertai kecenderungan menjauh dari lingkungan sosial.

3. Komunikasi yang Menurun

Komunikasi adalah jembatan utama dalam hubungan sosial. Namun pada social withdrawal, jembatan ini mulai retak. 

Orang yang mengalaminya biasanya memberikan jawaban singkat, tampak tidak antusias saat diajak bicara, atau bahkan menghindari kontak mata. 

Dalam percakapan kelompok, mereka lebih memilih diam, tidak banyak berkontribusi, dan cepat merasa ingin menyudahi interaksi.

Penurunan komunikasi ini sering memperparah siklus isolasi. Karena merasa tidak dipahami, mereka semakin menutup diri, sehingga orang sekitar pun kesulitan untuk menjangkau.

4. Terlalu Banyak Menghabiskan Waktu Sendiri

Menyendiri sesekali tentu wajar, bahkan bisa menyegarkan pikiran. Namun, saat kesendirian berubah menjadi pola hidup yang dominan, ini bisa menjadi tanda social withdrawal. 

Seseorang dengan gejala ini lebih suka menolak ajakan keluar rumah, menghindari tempat umum, atau memilih pekerjaan yang bisa dikerjakan sendirian.

Semakin lama, kebiasaan ini bisa memutus keterhubungan dengan orang lain, menciptakan lingkaran kesepian dan tekanan emosional. 

Dari sinilah risiko gangguan kesehatan mental seperti depresi mulai meningkat.

5. Kehilangan Minat pada Hobi dan Aktivitas

Indikator penting lainnya adalah hilangnya ketertarikan pada hal-hal yang dulu membawa kebahagiaan. 

Misalnya, berhenti ikut olahraga, tidak lagi menggambar, atau meninggalkan klub yang dulu disukai. 

Kehilangan minat ini bukan hanya soal kegiatan, tetapi juga tanda menurunnya motivasi dan energi emosional. 

Padahal, hobi dan aktivitas sosial punya peran besar menjaga kesehatan mental. 

Saat seseorang berhenti melakukannya, ruang untuk interaksi dan koneksi juga ikut hilang, membuat mereka semakin terisolasi.

Penyebab Social Withdrawal yang Perlu Dipahami

Fenomena social withdrawal tidak muncul begitu saja. Ada berbagai faktor psikologis, lingkungan, hingga kepribadian yang bisa membuat seseorang menjauh dari interaksi sosial. 

Penelitian membagi penyebab social withdrawal ke dalam tiga tipe utama: shyness (rasa malu), avoidance (menghindar), dan unsociability (kurang minat bersosialisasi). 

Dua tipe pertama terbukti memiliki risiko besar terhadap kesehatan mental, sedangkan tipe ketiga masih perlu banyak kajian lebih lanjut.

Mari kita bahas lebih rinci beberapa penyebab yang sering terjadi.

1. Kondisi Kesehatan Mental

Social withdrawal sering menjadi gejala dari masalah kesehatan mental seperti kecemasan, depresi, PTSD, autisme, hingga skizofrenia. 

Ketika gejala ini muncul bersamaan dengan rasa tidak berdaya atau kesulitan berfungsi dalam kehidupan sehari-hari, penting sekali untuk mencari bantuan profesional. 

Tanpa penanganan, isolasi sosial justru memperburuk kondisi mental yang mendasarinya.

2. Shyness atau Rasa Malu Berlebihan

Individu yang pemalu cenderung menghindari situasi sosial karena merasa canggung atau cemas. 

Sayangnya, perilaku ini sering dipandang sebagai kekurangan oleh orang lain sehingga berujung pada penolakan sosial. 

Akibatnya, lingkaran setan terbentuk dengan kondisi semakin sering ditolak, semakin dalam pula rasa malu dan kecenderungan untuk menarik diri.

3. Trauma dan Pengalaman Buruk

Bagi penyintas trauma, interaksi sosial bisa memunculkan rasa takut, kewaspadaan berlebih, atau bahkan emosi yang tidak terkendali. 

Menghindari situasi sosial menjadi semacam mekanisme perlindungan, walau dalam jangka panjang justru mengunci mereka dalam isolasi.

4. Rendahnya Harga Diri

Orang dengan kepercayaan diri yang rendah seringkali takut ditolak atau merasa tidak layak berhubungan dengan orang lain. 

Perasaan ini tidak hanya memperkuat social withdrawal, tapi juga bisa memicu atau memperparah kecemasan serta depresi.

5. Dinamika Keluarga dan Lingkungan

Hubungan keluarga yang disfungsional, adanya riwayat penyakit psikiatri, atau pengalaman masa kecil yang penuh tekanan—termasuk perlakuan kasar—semuanya dapat menjadi akar social withdrawal. 

Dalam beberapa kasus, seseorang juga memilih menjauh sebagai cara untuk melindungi diri dari konflik keluarga.

6. Kepribadian dan Preferensi

Tidak semua social withdrawal disebabkan oleh masalah psikologis. Ada orang yang memang lebih nyaman menghabiskan waktu sendirian, misalnya para introvert. 

Namun, ketika kecenderungan ini berlangsung terus-menerus, orang lain bisa menganggapnya sebagai penolakan. 

Akhirnya, interaksi semakin berkurang hingga menimbulkan kesepian yang merugikan kesehatan mental maupun fisik.

7. Penolakan Sosial

Tidak sedikit orang yang terpaksa menarik diri karena dikeluarkan dari kelompok sosial, mengalami diskriminasi, atau dianggap “berbeda”. 

Penolakan ini bisa terjadi di sekolah, tempat kerja, hingga dalam lingkaran pertemanan. 

Dampaknya bukan hanya rasa terasing, tapi juga meningkatnya kerentanan terhadap masalah psikologis.

8. Faktor Perkembangan dan Usia

Anak-anak dan remaja bisa mengalami social withdrawal akibat bullying, tekanan teman sebaya, atau masalah akademis. 

Sementara itu, pada lansia, isolasi sering terjadi karena pensiun, kehilangan pasangan, hidup sendiri, atau penyakit kronis. 

Data menunjukkan sekitar 25% orang berusia di atas 65 tahun mengalami isolasi sosial, sebuah angka yang cukup mengkhawatirkan.

9. Stres yang Berkepanjangan

Stres berat juga dapat mendorong seseorang untuk menarik diri sebagai bentuk coping. 

Sayangnya, menghindari interaksi justru memperburuk stres karena dukungan emosional dari orang lain berkurang. 

Kondisi ini membuat individu semakin sulit beradaptasi dengan tantangan yang ada.

Dampak Social Withdrawal bagi Kesehatan dan Kehidupan

Menarik diri dari interaksi sosial tidak hanya sekadar soal kehilangan teman atau relasi, tapi bisa berkembang menjadi fenomena yang jauh lebih serius. 

Dalam literatur psikologi, dikenal istilah social withdrawal syndrome atau yang lebih populer disebut hikikomori. 

Kondisi ini pertama kali dicatat di Jepang, ketika seseorang menutup diri di rumah selama enam bulan atau lebih dan hampir tidak berkomunikasi dengan orang lain. 

Menariknya, kasus serupa kini juga ditemukan di berbagai negara lain, menunjukkan bahwa masalah ini bersifat lintas budaya.

Penelitian terbaru bahkan mengungkap adanya penanda biologis yang terkait dengan sindrom ini, membuka jalan bagi metode identifikasi dan perawatan yang lebih baik di masa depan. 

Artinya, social withdrawal bukan hanya persoalan psikologis, melainkan juga memiliki aspek medis yang nyata.

1. Risiko Kesehatan Fisik yang Serius

Menurut Centers for Disease Control and Prevention (CDC), isolasi sosial dapat meningkatkan risiko kematian dini, penyakit jantung, hingga stroke. 

Ketika seseorang jarang bergerak, tidak menjaga pola makan, dan kurang terhubung dengan dukungan sosial, tubuh pun kehilangan perlindungan alami terhadap penyakit.

2. Dampak pada Fungsi Otak

Social withdrawal juga berkaitan dengan meningkatnya risiko demensia. 

Minimnya stimulasi sosial dan kognitif membuat otak kurang terlatih, sehingga penurunan fungsi kognitif terjadi lebih cepat. 

Ini terutama menjadi perhatian pada lansia, di mana kesepian kerap beriringan dengan penurunan daya ingat.

3. Kesehatan Mental yang Terancam

Tidak kalah penting, menarik diri dari pergaulan dapat memicu atau memperburuk depresi, kecemasan, hingga risiko bunuh diri. 

Ketika seseorang kehilangan ruang aman untuk berbagi cerita atau mencari dukungan emosional, perasaan sepi dan tidak berharga pun semakin kuat.

Cara Mengatasi Social Withdrawal

Meski terlihat menakutkan, social withdrawal bukanlah jalan tanpa ujung. Ada beberapa langkah sederhana yang bisa membantu proses pemulihan. 

Teknik relaksasi seperti pernapasan dalam, yoga, atau meditasi dapat meredakan kecemasan yang biasanya mendorong orang untuk menarik diri. 

Selain itu, cobalah mulai dari langkah kecil, misalnya menghubungi satu atau dua orang terdekat yang bisa menjadi tempat aman untuk kembali berinteraksi.

Bergabung dalam kelompok dukungan sebaya juga dapat memberi ruang untuk berbagi pengalaman tanpa rasa dihakimi. 

Saat rasa panik muncul, latihan anchoring—menyadari benda, suara, atau tekstur di sekitar—dapat membantu menenangkan diri dan kembali ke momen sekarang. 

Tak kalah penting, belajarlah untuk bersikap welas asih pada diri sendiri, menerima bahwa proses ini butuh waktu.

Dan bila gejala terasa semakin berat, jangan ragu untuk mencari bantuan profesional. 

Seorang psikolog atau psikiater dapat memberikan diagnosis, strategi, hingga terapi yang sesuai, sehingga proses keluar dari isolasi bisa berlangsung lebih sehat dan terarah. (Aria Maulana Satriyo) 

EDITOR: Setyo Adi Nugroho