← Beranda
Jika Anda Masih Percaya 8 Mitos tentang Hubungan Ini, Anda Akan Terus Terluka Menurut Psikologi
Irfan Ferdiansyah• Senin, 22 September 2025 | 13.40 WIB
Ilustrasi pasangan (Freepik)

JawaPos.com - Hubungan asmara seringkali dipandang sebagai sesuatu yang indah, penuh warna, dan menjadi sumber kebahagiaan.

Namun di balik itu, banyak orang yang justru terluka berulang kali karena mereka masih terjebak dalam mitos tentang cinta dan hubungan.

Psikologi modern menunjukkan bahwa keyakinan yang keliru tentang bagaimana hubungan seharusnya berjalan dapat menimbulkan ekspektasi tidak realistis, konflik yang tak berkesudahan, bahkan membuat seseorang terjebak dalam pola toxic relationship.

Jika Anda ingin hubungan yang sehat, saatnya membuka mata dan hati.

Dilansir dari Geediting pada Minggu (21/9), terdapat delapan mitos tentang hubungan yang sebaiknya tidak lagi Anda percayai—karena jika terus dipegang, Anda hanya akan semakin terluka.

1. "Jika Dia Cinta, Dia Tahu Apa yang Saya Rasakan Tanpa Perlu Diberitahu"

Banyak orang percaya bahwa pasangan sejati bisa membaca pikiran satu sama lain.

Padahal, psikologi menekankan bahwa komunikasi adalah kunci.

Tidak ada manusia yang bisa selalu menebak perasaan pasangannya dengan tepat.

Mengharapkan pasangan memahami tanpa diberitahu hanya akan menimbulkan kekecewaan.

Hubungan sehat justru dibangun dari keterbukaan, bukan tebak-tebakan.

2. "Cinta Saja Sudah Cukup untuk Menjalani Hubungan"

Cinta memang penting, tetapi menurut teori psikologi Sternberg tentang cinta, hubungan juga membutuhkan komitmen dan keintiman.

Cinta tanpa usaha, komunikasi, dan tanggung jawab bersama ibarat mobil tanpa bahan bakar—penuh semangat di awal, tetapi akan berhenti di tengah jalan.

3. "Pasangan yang Baik Tidak Pernah Bertengkar"

Banyak orang menganggap pertengkaran adalah tanda hubungan tidak sehat.

Faktanya, konflik adalah hal wajar dan justru bisa memperkuat hubungan jika diselesaikan dengan sehat.

Menurut penelitian psikologi hubungan, pasangan yang menghindari konflik cenderung menumpuk masalah hingga akhirnya meledak.

Yang penting bukan seberapa sering bertengkar, melainkan bagaimana cara menyelesaikannya.

4. "Hubungan yang Bahagia Selalu Membuat Kita Merasa Positif"

Tidak ada hubungan yang 100% bahagia setiap waktu.

Bahkan pasangan yang paling harmonis pun mengalami stres, kebosanan, atau frustrasi.

Menurut psikologi emosi, perasaan negatif sesekali justru normal dan bisa menjadi pengingat bahwa ada hal yang perlu diperbaiki.

Jika Anda berharap hubungan selalu menyenangkan, Anda akan mudah kecewa.

5. "Jika Pasangan Saya Benar-benar Sayang, Dia Akan Berubah Demi Saya"

Mitos ini paling sering membuat seseorang bertahan dalam hubungan yang tidak sehat.

Psikologi perilaku menunjukkan bahwa perubahan hanya mungkin terjadi jika seseorang memang mau dan sadar, bukan karena dipaksa atau demi orang lain.

Jika Anda berharap pasangan berubah sesuai keinginan, kemungkinan besar Anda akan terus terluka karena realita jarang seindah harapan.

6. "Kecemburuan adalah Bukti Cinta"

Cemburu sering dipandang sebagai tanda sayang.

Namun psikologi menekankan bahwa cemburu berlebihan lebih dekat dengan rasa takut dan kontrol, bukan cinta.

Hubungan yang sehat justru ditandai dengan kepercayaan.

Jika Anda membenarkan cemburu sebagai bukti cinta, Anda berisiko terjebak dalam hubungan penuh kecurigaan dan drama.

7. "Jika Hubungan Ditakdirkan, Semuanya Akan Mengalir dengan Mudah"

Keyakinan pada “takdir cinta” membuat banyak orang menyerah pada usaha.

Padahal, psikologi menunjukkan bahwa hubungan bahagia adalah hasil kerja sama dua pihak.

Menyelesaikan masalah, kompromi, dan membangun kebiasaan sehat adalah bentuk usaha nyata.

Jika hanya pasrah pada takdir, hubungan Anda bisa runtuh karena minim perawatan.

8. "Hubungan Sejati Harus Selalu Membuat Kita Lengkap"

Mitos terakhir adalah keyakinan bahwa pasangan harus mengisi semua kekurangan kita.

Faktanya, menurut psikologi kepribadian, kebahagiaan sejati datang dari individu yang sudah utuh terlebih dahulu.

Jika Anda berharap pasangan menjadi sumber identitas atau kebahagiaan utama, Anda akan mudah terluka ketika kenyataan tidak sesuai.

Pasangan seharusnya melengkapi, bukan menggantikan diri Anda yang sebenarnya.

Kesimpulan: Saatnya Melepaskan Mitos, Membangun Realita

Delapan mitos di atas sering terlihat manis dan romantis, tetapi jika terus dipercayai, justru akan membawa luka mendalam.

Psikologi menekankan bahwa hubungan sehat dibangun atas dasar komunikasi, saling menghargai, usaha bersama, dan kejujuran pada diri sendiri.

Mungkin sulit untuk mengubah cara pandang yang sudah lama tertanam, tetapi dengan menyadari mitos-mitos ini, Anda bisa mulai menciptakan hubungan yang lebih realistis dan menyehatkan.

Ingatlah: cinta bukan tentang dongeng yang selalu indah, melainkan perjalanan nyata yang membutuhkan kerja sama, keberanian, dan kedewasaan.

EDITOR: Hanny Suwindari