← Beranda
Apakah Ada Hubungan Antara Kebiasaan Selfie dengan Tingkat Narcissism yang Dimiliki Seseorang?
Oliviea Novrimada Zahra• Selasa, 9 September 2025 | 07.37 WIB
Ilustrasi orang yang sedang selfie. (Freepik)

JawaPos.com – Selfie telah menjadi bagian dari budaya populer yang tak terpisahkan di era media sosial.

Dari anak muda hingga orang dewasa, semua orang pernah melakukannya.

Foto wajah atau potret diri yang kemudian diunggah di media sosial ini tidak lagi sekadar dokumentasi pribadi, melainkan juga menjadi sarana komunikasi visual dan ekspresi diri.

Namun, di balik keseruan memamerkan senyum atau gaya tertentu, ada fenomena psikologis yang menarik untuk dibahas.

Selfie sering dianggap sebagai bentuk self promotion atau cara menampilkan citra diri terbaik ke hadapan publik.

Hal ini sejalan dengan temuan bahwa media sosial, termasuk aktivitas selfie, kerap dijadikan ladang subur bagi perilaku narcissistic.

Baca Juga: 4 Rahasia Hidup Shio Kuda, Benarkah Kemandirian Mereka Bisa Jadi Kunci Karier Sukses?

Dorongan untuk mencari validasi dari jumlah likes, komentar, hingga jumlah pengikut sering kali membuat selfie dipandang sebagai cerminan sifat keakuan yang berlebihan.

Fenomena ini bukan sekadar opini publik, tetapi juga telah disorot oleh berbagai media populer dunia.

Dalam sebuah laporan yang diterbitkan Time pada tahun 2015, disebutkan bahwa pria yang sering mengunggah selfie cenderung memiliki tingkat narcissism yang lebih tinggi.

Studi tersebut bahkan menyinggung adanya kaitan dengan sifat psikopati, meski dalam kadar yang tidak ekstrem.

Baca Juga: 6 Shio Paling Beruntung pada 9 September 2025: Daya Tarik Cinta dan Kelimpahan Mengalir Deras

Penelitian itu melibatkan 800 pria berusia 18 hingga 40 tahun dan juga menemukan bahwa kecenderungan untuk mengedit foto sebelum mengunggahnya berkorelasi dengan tingkat self objectification.

Dengan kata lain, selfie bukan hanya soal menampilkan wajah ke kamera, melainkan juga berkaitan dengan cara seseorang memandang dirinya sendiri sebagai objek yang harus ditata sedemikian rupa agar terlihat sempurna di mata orang lain.

Tidak hanya Time, situs Psychology Today juga mengangkat fenomena ini dengan sudut pandang berbeda.

Artikel yang dirilis pada April 2025 tersebut menjelaskan bahwa orang dengan kecenderungan narcissistic bukan hanya sibuk dengan selfie mereka sendiri, tetapi juga memperhatikan selfie orang lain.

Namun, mereka tidak melakukannya untuk memberi apresiasi, melainkan untuk membandingkan diri.

Konsep ini dikenal dengan istilah comparative self enhancement, yaitu kecenderungan untuk merasa lebih unggul dengan cara menilai diri sendiri lebih baik dibandingkan orang lain.

Dalam konteks ini, selfie menjadi alat ukur sosial yang digunakan untuk menilai popularitas, daya tarik, dan penerimaan.

Orang dengan sifat narcissistic cenderung lebih peduli pada respons yang diterima dari unggahan mereka sendiri dibandingkan memberi apresiasi pada unggahan orang lain.

Selfie Tak Selalu Identik dengan Narcissism

Meski demikian, tidak semua kebiasaan selfie bisa langsung disamakan dengan sifat narcissistic.

Dalam artikel The New Yorker, dijelaskan bahwa budaya selfie sebenarnya juga lahir dari dorongan untuk meningkatkan harga diri atau self esteem.

Selfie bisa menjadi cara seseorang mengekspresikan identitas, menandai momen berharga, atau bahkan mempererat hubungan sosial dengan berbagi potret kebersamaan.

Bagi sebagian orang, selfie justru menjadi sarana kreatif untuk bereksperimen dengan gaya, pencahayaan, hingga estetika visual.

Jadi, meskipun ada stigma negatif yang melekat, perlu diingat bahwa motivasi orang melakukan selfie sangatlah beragam.

Ada yang memang mencari validasi sosial, tetapi ada pula yang melakukannya untuk bersenang-senang atau sekadar mendokumentasikan kehidupan sehari-hari.

Mengapa Fenomena Ini Penting?

Membahas hubungan antara selfie dan narcissism penting karena dapat menjadi cermin untuk memahami motivasi di balik perilaku digital kita.

Menyadari alasan di balik kebiasaan selfie membuat kita bisa lebih reflektif apakah kita benar-benar ingin berbagi momen atau justru sedang mencari validasi dari orang lain?

Di sisi lain, media sosial dengan segala fitur penghargaan instan berupa likes dan komentar jelas memperkuat kecenderungan narcissistic pada sebagian orang.

Namun, pendekatan yang seimbang juga dibutuhkan. Selfie tidak selalu buruk atau salah.

Jika dimaknai sebagai bentuk ekspresi diri yang sehat, selfie bisa menjadi medium kreatif sekaligus cara memperkuat rasa percaya diri.

Tantangannya adalah bagaimana kita mampu mengontrol diri agar tidak terjebak dalam kebutuhan pengakuan yang berlebihan.

Dari berbagai temuan dan sudut pandang, dapat disimpulkan bahwa memang ada hubungan antara kebiasaan selfie dan sifat narcissistic.

Pria yang sering mengunggah atau mengedit foto diri terbukti memiliki kecenderungan narcissistic yang lebih tinggi.

Selain itu, individu dengan sifat narcissistic cenderung menjadikan selfie sebagai alat untuk membandingkan diri dengan orang lain.

Meski begitu, hubungan ini tidak mutlak. Banyak orang melakukan selfie semata-mata untuk ekspresi kreatif, berbagi momen bersama teman, atau sekadar bersenang-senang.

Selfie bisa mencerminkan narcissism jika dijadikan alat validasi atau dominasi ego, tetapi bisa juga menjadi sarana komunikasi visual yang sehat bila dilakukan dengan kesadaran.

Intinya, selfie hanyalah sebuah alat, dan makna di baliknya bergantung pada cara kita menggunakannya.

EDITOR: Hanny Suwindari