JawaPos.com – Pernahkah kamu merasa sudah belajar keras, tapi hasilnya tak kunjung maksimal, sementara temanmu tampak lebih mudah memahami materi?
Atau sebaliknya, kamu santai saja, tapi ternyata lebih cepat paham dibanding teman yang rajin mencatat?
Fenomena ini sering membuat orang salah kaprah, seolah-olah keberhasilan belajar hanya ditentukan oleh rajin atau malas.
Padahal, ada faktor lain yang lebih mendalam, yaitu kepribadian.
Cara kita memproses informasi, menyukai jenis aktivitas tertentu, hingga bagaimana otak kita merasa nyaman saat belajar, ternyata erat kaitannya dengan karakter dasar yang kita miliki.
Kepribadian dan Gaya Belajar Punya Hubungan yang Jarang Disorot
Selama ini, kita terbiasa menilai keberhasilan belajar dari seberapa tekun seseorang membaca buku, membuat rangkuman, atau mendengarkan guru di kelas.
Namun, penelitian modern menunjukkan bahwa kepribadian punya pengaruh besar terhadap gaya belajar.
Global Launch misalnya, mengungkap bahwa seseorang dengan kepribadian ekstrovert biasanya lebih suka belajar lewat interaksi sosial, seperti diskusi kelompok atau presentasi.
Sebaliknya, seorang introvert cenderung menyerap ilmu dengan baik melalui refleksi pribadi, membaca, atau mendengarkan dengan fokus dalam suasana tenang.
Dengan kata lain, keberhasilan belajar tidak selalu ditentukan oleh jam belajar panjang, melainkan oleh kesesuaian metode dengan kepribadian masing-masing.
Baca Juga: Suka Rapihin Feed Instagram? Hati-Hati, Bisa Jadi Tanda OCD Tersembunyi!
Temuan Big Five dan Gaya Belajar
Selain teori MBTI yang populer, ada pula teori kepribadian Big Five yang memberikan gambaran lebih luas.
Model ini mencakup lima dimensi yaitu keterbukaan pada pengalaman (openness), kesadaran atau kedisiplinan (conscientiousness), ekstroversi (extraversion), keramahan (agreeableness), dan kestabilan emosi atau neurotisisme (neuroticism).
Simply Convivial menunjukkan bahwa orang yang memiliki tingkat conscientiousness tinggi biasanya lebih teratur dan disiplin, sehingga cocok dengan gaya belajar sistematis.
Sementara itu, mereka yang tinggi dalam openness cenderung lebih menikmati eksplorasi ide baru dan belajar melalui pemahaman mendalam, bukan sekadar menghafal.
Hal ini membuktikan bahwa keberhasilan belajar bukan hanya urusan niat dan kerja keras, melainkan juga bagaimana karakter pribadi kita selaras dengan metode yang digunakan.
Waspadai Mitos Gaya Belajar yang Beredar
Meski teori gaya belajar sudah lama populer, khususnya model VARK yang membagi tipe menjadi visual, auditori, membaca/menulis, dan kinestetik, para ahli menegaskan bahwa konsep ini bukanlah penentu mutlak kesuksesan.
Menurut Verywell Mind, tidak ada bukti ilmiah kuat bahwa menyesuaikan gaya mengajar dengan preferensi VARK seseorang benar-benar meningkatkan hasil belajar.
Bahkan, majalah Wired pernah mengulas bahwa kepercayaan terhadap mitos gaya belajar lebih banyak bertahan karena kebiasaan, bukan karena bukti riset yang solid.
Artinya, gaya belajar hanyalah pintu masuk untuk memahami diri, bukan satu-satunya kunci.
Yang lebih penting adalah fleksibilitas dalam memadukan metode belajar sesuai situasi dan kebutuhan, dengan tetap memperhatikan faktor kepribadian.
Mengenal Diri untuk Belajar yang Lebih Efektif
Setelah mengetahui bahwa kepribadian memengaruhi cara belajar, langkah berikutnya adalah mengenali diri sendiri.
Cobalah refleksi sederhana, apakah kamu lebih nyaman belajar dengan suasana tenang atau melalui percakapan dengan teman?
Apakah kamu tipe yang rapi, disiplin, dan senang mencatat, atau justru lebih suka bereksperimen dengan mencoba hal baru?
Jawaban atas pertanyaan-pertanyaan itu bisa menjadi petunjuk gaya belajar mana yang sejalan dengan kepribadianmu.
Dengan pemahaman ini, kamu bisa mengatur strategi belajar yang lebih efektif, misalnya membuat jadwal rutin, menyiapkan ruang belajar sesuai kebutuhan, atau mengombinasikan membaca dengan praktik langsung.
Intinya, mengenali diri sendiri akan membuat proses belajar terasa lebih ringan, menyenangkan, dan tentu saja lebih berhasil.
Belajar ternyata bukan sekadar soal rajin atau malas, melainkan juga bagaimana kepribadian kita berperan dalam menentukan cara yang paling nyaman dan efektif untuk menyerap ilmu.
Baik melalui kerangka MBTI maupun Big Five, penelitian membuktikan bahwa setiap orang memiliki kecenderungan berbeda dalam menghadapi proses belajar.
Meskipun mitos gaya belajar seperti VARK masih banyak dipercaya, kunci sebenarnya ada pada kemampuan kita memahami diri sendiri dan menyesuaikan metode belajar dengan kepribadian.
Jadi, sebelum menyalahkan diri karena merasa kurang pintar atau malas, coba kenali dulu siapa dirimu.
Bisa jadi, kamu hanya belum menemukan gaya belajar yang paling cocok dengan kepribadianmu.