← Beranda
Merusak Kepercayaan dan Hubungan Sosial Anda, 6 Dampak Buruk Memiliki Kebiasaan Berbohong yang Jarang Diketahui
Alfi YudaKamis, 4 September 2025 | 04.49 WIB
Ilustrasi kebiasaan berbohong./Pexels.

JawaPos.com - Tidak ada seorang pun di dunia ini yang merasa senang ketika mendapati sahabat, pasangan, keluarga, atau teman dekat melakukan kebohongan. Secara umum, berbohong memang dikenal sebagai perbuatan yang tidak baik.

Ada sebagian orang yang mungkin melakukannya dengan alasan tertentu, misalnya untuk menjaga perasaan orang lain yang dikenal dengan istilah “white lies”.

Meski demikian, kenyataannya hampir semua orang pasti pernah berbohong, baik anak-anak maupun orang dewasa.

Tindakan ini biasanya muncul ketika seseorang merasa terdesak, ingin terlihat sempurna, berharap mendapat pujian, atau ingin menutupi kekurangannya.

Sayangnya, kebiasaan berbohong yang dilakukan berulang kali dapat berdampak buruk, baik bagi diri sendiri maupun orang lain di sekitarnya.

Menurut penjelasan dari unair.ac.id, kebiasaan berbohong yang sulit dihentikan bahkan sampai menjadi bagian dari kepribadian, bisa termasuk tanda adanya gangguan psikologis.

Artinya, perilaku ini tidak lagi sekadar kebiasaan, melainkan sudah masuk ke dalam ranah kesehatan mental yang memerlukan perhatian.

Berdasarkan ulasan dari alodokter.com, kebiasaan berbohong juga dapat dipicu oleh kondisi medis tertentu.

Misalnya, gangguan pada otak akibat cedera fisik, kelainan hormon, atau masalah neurologis yang dapat memengaruhi cara seseorang berpikir dan berperilaku.

Hal ini menunjukkan bahwa kebiasaan berbohong tidak selalu murni karena faktor lingkungan atau pilihan pribadi saja.

Pada dasarnya, siapa pun bisa terjebak dalam kebiasaan ini. Untuk mengurangi risiko dari kebiasaan ini, penting bagi setiap orang untuk memahami dampak buruk memiliki kebiasaan berbohong.

1. Kehilangan Jati Diri

Orang yang terbiasa berbohong perlahan akan kehilangan jati dirinya. Hal ini terjadi karena terlalu sering memikirkan bagaimana orang lain menilai dirinya.

Demi memenuhi ekspektasi lingkungan, ia memilih jalan pintas dengan berkata tidak jujur.

Akibatnya, identitas diri asli semakin tersamarkan karena lebih banyak hidup di balik kebohongan.

2. Menimbulkan Masalah Baru

Setiap kebohongan biasanya akan menuntut kebohongan lain untuk menutupinya. Inilah yang membuat hidup menjadi semakin rumit.

Dampak buruk berbohong tidak hanya sebatas hilangnya kepercayaan, tetapi juga bisa mengakibatkan hubungan sosial retak, kehilangan teman, hingga terhambatnya karier. Seperti pepatah lama, “hanya karena nila setitik, rusak susu sebelanga.”

3. Sulit Dipercaya Orang Lain

Tidak ada orang yang senang dibohongi. Begitu seseorang dikenal suka berbohong, ia akan dicap memiliki sifat buruk dan sulit dipercaya.

Orang lain pun enggan menjalin kerja sama, bahkan sekadar berteman, karena khawatir akan kembali dibohongi. Kondisi ini bisa membuat pelaku berbohong terisolasi dalam lingkungannya sendiri.

4. Selalu Merasa Cemas

Kebohongan yang disimpan sering membuat seseorang merasa tidak tenang. Rasa cemas dan khawatir akan terus menghantui jika kebohongannya terbongkar.

Kondisi ini bisa berdampak pada kesehatan mental, menurunkan kualitas tidur, mengurangi produktivitas, hingga membuat seseorang sering salah bicara karena pikirannya penuh rasa takut.

5. Menjadi Agresif

Orang yang sering berbohong biasanya juga akan curiga berlebihan pada orang lain. Ia beranggapan bahwa orang lain pun mungkin melakukan kebohongan terhadap dirinya.

Dari rasa curiga ini, bisa muncul sikap agresif yang ditunjukkan dalam hubungan sosial. Bahkan, tidak jarang berakhir pada konflik yang memperburuk keadaan.

6. Kebohongan yang Menjadi Kebiasaan Buruk

Sekali berbohong, seseorang cenderung akan terus melanjutkannya agar tidak ketahuan.

Jika dibiarkan, perilaku ini bisa berubah menjadi kebiasaan buruk yang melekat dalam kehidupan sehari-hari.

Ketika sudah menjadi bagian dari pola hidup, kebiasaan berbohong semakin sulit dihilangkan dan dampak buruknya makin besar bagi diri sendiri maupun orang lain.

EDITOR: Hanny Suwindari