JawaPos.com - Memiliki pasangan yang selalu memberikan kata-kata dan tindakan manis membuat seseorang merasa sangat dicintai. Secara psikologis, seseorang yang seringkali memberikan pujian dan kata-kata manis secara berlebihan cenderung memiliki sifat manipulatif.
Sifat manipulatif dalam hubungan romantis merupakan suatu bentuk relasi. Satu pihak mencoba untuk mengendalikan pihak lainnya melalui kontrol bahasa dan kuasa. Kemampuan manipulator dalam memberikan pujian dan perhatian membuat pelaku bisa memperoleh keuntungan atas kerentanan yang dialami korban.
Keuntungan yang dimaksud bisa sangat beragam. Mulai dari segi materi, seksualitas, hingga pemenuhan ego dan kepuasan pribadi bagi sang manipulator.
Sementara, korbannya akan kehilangan kepercayaan diri, merasa tidak bernilai, mengisolasi diri dari lingkungan sosial, hingga membuat korban merasa bersalah.
Dalam hubungan romantis, hal ini sangat berbahaya dan jelas merugikan salah satu pihak. Sebab, manipulator akan terus mengeksploitasi kondisi psikologis korban terus menerus hingga ia tak lagi berdaya.
Dikutip dari Dark Psychology dan jurnal berjudul A Study On Love Bombing, Narcissism And Emotional Abuse Among Young Adults In Relationship And Situationship, terdapat tiga taktik manipulasi yang seringkali dilakukan dalam hubungan romantis.
-
Love Bombing
Love bombing didefinisikan sebagai komunikasi yang berlebihan di awal hubungan untuk secara pasif memperoleh kekuasaan dan kendali atas kehidupan pasangan (Strutzenberg, 2016).
Dalam hubungan romantis, love bombing merupakan strategi yang dilakukan oleh seseorang dengan tingkat narsisme yang tinggi dan harga diri yang rendah.
Pada awal hubungan, pelaku tak hanya akan membangun komunikasi manis dan intens, melainkan juga memberi perhatian berlebih untuk menciptakan rasa ketergantungan emosional pada pasangan. Untuk memahami pola love bombing, seseorang perlu menanamkan kepekaan yang tinggi.
Jika pasangan Anda menunjukkan beberapa karakter seperti keinginan untuk mendominasi, rasa takut kehilangan dengan framing ‘terlalu mencintai’, hingga berulang kali menyampaikan pengalaman traumatisnya di masa lalu, Anda patut berpikir ulang untuk melanjutkan hubungan dengannya.
Menurut jurnal psikologi, ketika seorang manipulator berhasil membuat Anda luluh dan merasa sangat dicintai, hubungan hanya akan berkembang menuju fase dominasi, manipulasi emosional, dan sering kali diakhiri dengan kekerasan verbal atau fisik.
Itulah mengapa korban seringkali terjebak dalam siklus hubungan romantis yang abusive karena terlanjur bergantung secara emosional.
-
Gaslighting
Gaslighting merupakan bentuk manipulasi yang dilakukan dengan menyangkal fakta dan memutarbalikkan kenyataan untuk meragukan ingatan atau kewarasan seseorang. Salah satu jenis kekerasan psikologis ini bertujuan untuk membuat korban merasa ‘gila’ dengan menciptakan lingkungan interpersonal yang seolah nyata.
Dalam pandangan sosiologis, akar dari perilaku gaslighting adalah ketimpangan sosial, termasuk gender, dan dilakukan dalam hubungan intim yang sarat akan nilai-nilai kekuasaan. Ini menunjukkan adanya ketimpangan struktural yang dilakukan terhadap korban untuk memanipulasi realitas mereka.
Contoh sederhananya, Anda benar-benar mengingat apa yang dikatakan pasangan Anda.
Suatu ketika, Anda membahas apa yang ia sampaikan. Namun responnya justru menyangkal dan menganggap Anda hanya mengada-ada. Anda pun mulai meragukan ingatan dan mempertanyakan setiap keputusan yang Anda ambil. Itulah mengapa gaslighting menjadi bentuk manipulasi psikologis yang paling merusak mental.
Baca Juga: Dampak Burnout dan Ciri-cirinya pada Hubungan Romantis, Salah Satunya Mudah Kesal dengan Pasangan
-
Silent Treatment
Silent treatment atau pendiaman merupakan suatu bentuk pengabaian komunikasi terhadap pasangan. Bentuk silent treatment paling umum adalah memberikan respons singkat dan dingin, atau tidak membalas pesan dan panggilan Anda sama sekali.
Selain itu, tidak melakukan kontak mata dan memalingkan wajah selepas adu argumen juga termasuk dalam contoh silent treatment. Hal ini menjadi semakin buruk apabila digunakan oleh pasangan Anda setiap waktu, terutama ketika suasana hatinya sedang tidak baik. Jika dibiarkan, ini akan menjadi cara untuk mempertahankan kekuasaan atau kontrol atas pasangan.
Namun, silent treatment masih dapat diperbaiki dengan komunikasi yang jujur dan terbuka, serta kesepakatan kedua belah pihak untuk tidak menggunakan silent treatment sebagai metode penyelesaian konflik. Meski seringkali sulit untuk diidentifikasi, kita dapat mengurangi risiko menjadi korban dengan belajar memahami pola-pola manipulasi.
Jangan menolak tanda peringatan dari dalam hati dan orang-orang disekitar yang mendeteksi perilaku manipulatif dari pasangan Anda. Terkadang, seseorang hanya perlu menjadi pemberani untuk melindungi diri dari manipulator.
Jika belum terlambat, ada baiknya untuk menghindari hubungan tersebut. Sebab kehadirannya hanya akan merugikan korban.