← Beranda
Overthinking Bisa Menguras Energi Hidupmu, Psikologi Jelaskan Dampak hingga Strategi Menghentikannya
Lavinia Tiara Malika• Selasa, 26 Agustus 2025 | 13.42 WIB
Ilustrasi orang yang overthinking

JawaPos.com – Pernah merasa kelelahan meski seharian hanya duduk diam dan berpikir tentang banyak hal? Fenomena itu bisa jadi tanda overthinking.

Dalam psikologi, overthinking adalah kondisi ketika seseorang terjebak pada siklus berpikir berlebihan hingga berdampak pada kesehatan mental dan fisik.

Menurut Verywell Mind (2023), overthinking terjadi saat seseorang terlalu fokus pada kesalahan masa lalu atau khawatir berlebihan terhadap masa depan. Alih-alih menemukan solusi, pikiran justru berputar tanpa henti dan menguras energi.

Baca Juga: 7 Cara Berhenti Overthinking, Bikin Hidup Lebih Tenang dan Bahagia

Mengapa Overthinking Menguras Energi?

American Psychological Association (APA, 2022) menjelaskan, ketika otak terus-menerus berpikir tanpa jeda, tubuh merespons seolah sedang menghadapi ancaman.

Akibatnya, hormon stres seperti kortisol meningkat dan memicu kelelahan, gangguan tidur, hingga menurunnya imunitas tubuh.

Artikel di Halodoc (2023) menambahkan, overthinking dapat membuat seseorang kehilangan fokus, merasa gelisah, bahkan mengalami psikosomatis. Hal ini menunjukkan bahwa energi yang seharusnya digunakan untuk aktivitas produktif justru habis untuk meladeni pikiran yang berputar.

Baca Juga: Berhenti Overthinking! Ini Rahasia Mindfulness Bikin Hidup Lebih Tenang dan Bahagia

Dampak Psikologis dan Fisik

  1. Gangguan tidur. Pikiran yang tidak berhenti membuat sulit tidur nyenyak.

  2. Menurunnya produktivitas. Terlalu lama menganalisis menyebabkan sulit mengambil keputusan.

  3. Kecemasan dan depresi. Riset di Psychology Today (2022) mengaitkan overthinking dengan peningkatan risiko gangguan kecemasan.

  4. Kelelahan fisik. Menurut Medical News Today (2021), aktivitas otak yang berlebihan juga menyerap energi tubuh.

Siapa yang Rentan Mengalami Overthinking?

Penelitian di RSI Surabaya (2022) menunjukkan bahwa orang dengan perfeksionisme tinggi, kurang percaya diri, atau memiliki riwayat trauma cenderung lebih mudah terjebak dalam overthinking. Selain itu, era digital dan derasnya informasi di media sosial ikut memperparah kondisi ini.

Mengapa Kita Mudah Terjebak dalam Overthinking?
Psikolog menjelaskan bahwa otak manusia memiliki kecenderungan alami untuk mencari kepastian. Saat menghadapi masalah tanpa jawaban jelas, otak terus berputar mencari solusi. Namun, alih-alih menyelesaikan, hal ini justru menciptakan “perangkap kognitif” yang membuat energi mental terkuras.

Menurut penelitian yang dipublikasikan di Journal of Behavioral Decision Making (2019), individu yang sering overthinking cenderung mengalami penurunan fungsi eksekutif otak, termasuk kesulitan membuat prioritas dan mengambil keputusan cepat. Hal ini menjelaskan mengapa banyak orang merasa stuck meski sudah lama memikirkan suatu masalah.

Strategi Psikologi untuk Mengelola Overthinking
Selain mindfulness dan self-awareness, beberapa teknik psikologi terbukti efektif:

  • Reframing. Mengubah sudut pandang terhadap masalah. Misalnya, bukan “Saya gagal”, melainkan “Saya sedang belajar dari kesalahan.”

  • Journaling. Menulis isi pikiran membantu menyalurkan energi mental dan memberi jarak emosional.

  • Teknik relaksasi tubuh. Seperti latihan pernapasan dalam atau progressive muscle relaxation, yang menurunkan hormon stres.

  • Membangun rutinitas sehat. Tidur cukup, olahraga, dan mengurangi konsumsi kafein terbukti membantu menstabilkan pikiran.

Pentingnya Dukungan Sosial
Studi dari APA (2022) menegaskan, berbicara dengan orang terdekat bisa memecah siklus overthinking. Mendapat perspektif baru dari orang lain membantu melihat masalah secara lebih objektif. Bahkan sekadar mendengar kalimat “kamu tidak sendirian” dapat meringankan beban mental.

Overthinking memang sering dianggap bagian dari kepribadian, padahal ia bisa dikelola dengan strategi yang tepat. Pikiran yang sehat adalah yang seimbang antara logika dan ketenangan batin. Dengan melatih mindfulness, membangun rutinitas sehat, serta mencari dukungan sosial, energi yang biasanya terkuras karena overthinking bisa dialihkan menjadi kekuatan untuk berkembang. Pada akhirnya, bukan banyaknya pikiran yang menentukan kualitas hidup, melainkan bagaimana kita mengelola pikiran itu agar tetap memberi ruang bagi ketenangan, produktivitas, dan kebahagiaan.

EDITOR: Setyo Adi Nugroho