← Beranda
Kenapa Kita Kecanduan Scroll Media Sosial? Berikut Penjelasan Psikologi di Balik Doomscrolling Menurut Para Ahli
Aria Maulana SatriyoJumat, 22 Agustus 2025 | 16.01 WIB
Ilustrasi doomscrolling (Freepik)
 
JawaPos.com — Doomscrolling adalah terminologi baru yang muncul pada sekitar tahun 2020 saat pandemi. 

Agar lebih paham terhadap konteks kata ini, Pernahkah kalian scrolling sosial media hingga lupa waktu? 

Berdasarkan akun TikTok @aljazeeraenglish, Doomscrolling pada awalnya merujuk pada aktivitas menyerap banyak informasi atau berita buruk dan negatif. 

Baca Juga: Jika Anda Mampu Melakukan 12 Hal Ini Tanpa Memposting ke Media Sosial, Mental Anda Lebih Kuat dari 95 Persen Orang

Namun seiring waktu, makna kata ini bergeser secara semantik yang kini mengacu pada tindakan mengonsumsi informasi dalam format video vertikal secara berlebihan.

Dilansir dari April ABA pada Januari 2025, terdapat sekitar 210 juta orang (sekitar 4–5% pengguna global) yang mengalami kecanduan media sosial. 

Hal ini menimbulkan pertanyaan dari para psikolog. Kenapa sosial media begitu sulit dilepaskan dari perhatian kita? 

Baca Juga: Resep Tom and Jerry Cheesecake ala Chef Luvita Ho, Dessert Unik Berbentuk Keju Segitiga yang Viral di Media Sosial

Bagaimana Otak Mencerna Sosial Media

Saya yakin, banyak dari kalian yang secara otomatis membuka sosial media ketika bangun atau sebelum tidur. 

Mungkin juga saat sedang bekerja, Anda berniat untuk membaca pesan yang masuk. Alih-alih kembali bekerja, Anda “tidak sengaja” membuka sosial media dan kembali nge-scroll. 

Hal ini bukan tanpa sengaja, sosial media memang memiliki desain yang merangsang dopamin – atau yang sering disebut zat bahagia – di otak untuk terus digunakan. 

Saat nge-scroll secara tidak langsung otak Anda penasaran “kira-kira video yang akan ditampilkan selanjutnya apa ya?” 

Mungkin video yang ditampilkan berikutnya adalah video yang bagus, mungkin juga tidak. Efek unpredictability dari sosial media membuat penggunanya semakin kecanduan.

Dilansir dari Neuro Times pada Maret 2025, dalam konteks kecanduan aktivitas nge-scroll memiliki efek yang sama dengan judi atau penyalahgunaan zat seperti psikotropika pada otak.

Tak heran, seseorang bisa terus menelusuri linimasa hingga berjam-jam tanpa sadar waktu berlalu.

Dampak Doomscrolling Pada Kesehatan Mental

Secara natural, tubuh kita selalu menjaga keseimbangan tubuh atau yang sering disebut dalam medis sebagai proses homeostasis.

Ketika seorang individu terus terpapar sebuah zat – seperti kafein dan nikotin – badan akan melakukan penyesuaian agar efek yang dirasakan berkurang.

proses juga terjadi pada zat dopamine yang membantu kita merasakan perasaan senang dan bahagia.

Jika, seseorang terus terpapar adiksi – dalam konteks ini sosial media – otak akan membuat toleransi terhadap dopamin dengan tujuan agar badan tidak kaget akan stimulasi. 

Tidak terdengar berbahaya, tetapi mengingat bahwa dopamin berkontribusi cukup penting terhadap kebahagiaan, akibatnya adalah seseorang akan lebih mudah depresi dan cemas. 

Ketika sudah di level kecanduan, seorang doomscroller juga akan merasa gelisah ketika tidak melihat sosial media. 

Akibatnya, seorang individu yang memiliki adiksi terhadap sosial media akan memiliki tingkat fokus dan rentang perhatian yang rendah. 

Akhir Kata

Tidak dapat dipungkiri sosial media memang memiliki dampak yang signifikan pada kehidupan kita.

Berhenti dari doomscrolling pun tidak harus menghentikan penggunaan sosial media sepenuhnya. 

Anda dapat mencoba untuk mengaktifkan fitur pada gawai untuk membatasi penggunaan sebuah aplikasi. 

Selain itu, mengimplementasikan “waktu tanpa gadget” dapat membantu Anda untuk mengurangi adiksi terhadap sosial media .

Beberapa penelitian telah membuktikan bahwa sinar biru yang dihasilkan oleh gawai Anda dapat menyebabkan tidur yang kurang berkualitas.

Sehingga dengan menerapkan beberapa cara ini, Anda dapat meningkatkan kualitas hidup dan performa Anda. 

EDITOR: Setyo Adi Nugroho