← Beranda
Mudah Tersinggung? Ini 5 Langkah Mengatasi Perasaan Baper
Arin Sutriorini• Jumat, 13 Juni 2025 | 06.43 WIB
Ilustrasi saat seseorang merasa baper. (Freepik)

JawaPos.com – Pernahkah merasa tersinggung hanya karena komentar kecil atau sikap seseorang?

Perasaan seperti ini sering disebut "baper" atau membawa perasaan.

Merasa tersinggung saat menerima komentar, kritik, atau saat pesan tidak dibalas adalah hal yang wajar.

Namun jika terus dibiarkan, kebiasaan ini bisa berdampak pada kesehatan mental, hubungan sosial, dan perkembangan diri.

Dalam dunia yang serba cepat dan komunikasi yang sering kali terburu-buru, kemampuan untuk tidak baper menjadi keterampilan emosional yang penting.

Dikutip dari Times of India, lima cara ini disebut dapat mengatasi perasaan baper pada seseorang.

1. Menyadari Setiap Orang Hidup dalam Realitasnya Sendiri
Salah satu alasan utama mudah merasa tersinggung adalah menganggap orang lain memandang dunia dengan cara yang sama.

Padahal, setiap orang memiliki latar belakang, kepercayaan, dan pengalaman emosional yang berbeda.

Tindakan atau ucapan yang terdengar menyakitkan sering kali lebih mencerminkan kondisi batin mereka dibandingkan dengan situasi sebenarnya.

Saat seseorang bersikap kasar atau tidak peduli, besar kemungkinan itu berasal dari masalah pribadi yang sedang mereka hadapi.

Menyadari hal ini bisa menjadi langkah awal untuk tidak terlalu melibatkan emosi secara pribadi dalam setiap interaksi.

2. Berhenti Sejenak Sebelum Memberi Respons
Reaksi pertama terhadap kritik atau konflik biasanya bersifat emosional.

Kebiasaan berhenti sejenak sebelum merespons dapat membantu mengalihkan dari reaksi spontan menuju refleksi yang lebih tenang.

Dengan memberi jeda, otak rasional diberi waktu untuk memproses situasi dengan lebih jernih.

Tanyakan dalam hati, apakah situasi ini benar-benar tentang diri sendiri, atau mungkin orang tersebut sedang mengalami hari yang buruk.

Kebiasaan kecil ini dapat memberikan pengaruh besar terhadap cara memahami dan menghadapi interaksi sosial yang menantang.

3. Membangun Kesadaran Diri dan Menguatkan Nilai Diri
Rasa tidak percaya diri dapat membuat seseorang lebih mudah menganggap semua perlakuan negatif sebagai serangan pribadi.

Ketika harga diri kuat, opini negatif tidak akan mudah menggoyahkan emosi.

Aktivitas seperti menulis jurnal, terapi, atau mengulang afirmasi positif bisa membantu membentuk keyakinan bahwa nilai diri tidak tergantung pada pendapat orang lain.

Kesadaran diri yang tinggi menciptakan jarak emosional yang sehat antara perasaan pribadi dan perlakuan dari luar.

4. Tidak Mengasumsikan Niat Orang Lain
Satu komentar atau ekspresi bisa dengan mudah disalahartikan dan berkembang menjadi cerita penuh asumsi negatif.

Tanpa konfirmasi, pikiran cenderung membentuk narasi terburuk yang mungkin tidak sesuai kenyataan.

Ketika ada sesuatu yang terasa mengganggu, bertanya secara langsung dan sopan dapat mencegah kesalahpahaman.

Banyak konflik muncul bukan karena kebencian, tetapi karena komunikasi yang tidak tersampaikan dengan baik.

Menghindari prasangka bisa menjaga hubungan tetap sehat dan terbuka.

5. Melepaskan Kebutuhan Akan Persetujuan dari Semua Orang
Tidak semua orang akan menyukai atau menyetujui setiap tindakan, dan hal itu adalah sesuatu yang normal.

Usaha untuk selalu mendapatkan persetujuan dari semua pihak justru dapat melelahkan dan membuat kehilangan arah.

Kepercayaan diri tidak dibangun dari pujian, tetapi dari kesesuaian antara tindakan dengan nilai yang diyakini.

Menerima bahwa tidak semua orang harus memahami atau menyetujui bisa membantu menciptakan pola pikir yang lebih positif dan stabil.

Mengelola perasaan agar tidak mudah baper bukanlah hal yang mustahil.

Dengan kesadaran diri dan latihan yang konsisten, kita dapat menghadapi situasi sosial dengan lebih tenang dan bijak.

EDITOR: Hanny Suwindari