← Beranda
7 Kebiasaan Orang Kelas Menengah dalam Mengelola Uang yang Membuat Mereka Susah Kaya
M Shofyan Dwi Kurniawan• Jumat, 25 April 2025 | 04.06 WIB
7 Kebiasaan Orang Kelas Menengah dalam Mengelola Uang yang Membuat Mereka Susah Kaya

JawaPos.com - Banyak dari orang kelas menengah punya penghasilan yang cukup untuk hidup nyaman. Tapi anehnya, kenyamanan itu nggak selalu berbanding lurus dengan pertumbuhan kekayaan.

Meskipun mereka kelihatan "mapan", kenyataannya banyak yang terjebak dalam siklus finansial yang stagnan. Apa yang salah? Jawabannya terletak pada kebiasaan yang tampaknya sepele, tapi sebenarnya cukup merusak.

Dilansir dari DM News pada Kamis (24/4) berikut ini adalah tujuh kebiasaan umum yang sering dilakukan orang kelas menengah dalam mengelola uang mereka. Bahkan justru membuat mereka sulit untuk naik level secara finansial.

1. Membiarkan Gaya Hidup Mengganggu Anggaran Rumah Tangga

Begitu gaji naik, mendadak semua hal terasa "masuk akal". Mobil baru, nongkrong di restoran fancy, gadget terbaru—semuanya seperti hadiah atas kerja keras. Fenomena ini disebut "inflasi gaya hidup".

Meningkatnya penghasilan malah diimbangi dengan pengeluaran yang lebih tinggi. Akibatnya, tidak ada ruang untuk menabung atau berinvestasi.

Orang kelas menengah sering terjebak di sini karena merasa mereka “berhak menikmati hasil kerja keras”. Padahal, pengendalian diri dalam mengelola uang lebih penting untuk jangka panjang.

2. Menganggap Pengeluaran Kecil Setiap Hari sebagai “Terlalu Kecil untuk Jadi Masalah”

Kopi susu setiap pagi, jajan online, ongkos ojek yang bisa diganti jalan kaki—semua ini tampak kecil. Tapi kalau dikumpulkan dalam sebulan, jumlahnya bisa bikin kaget. Ini adalah contoh nyata bagaimana kebiasaan kecil bisa menunda kemajuan finansial.

Banyak orang tidak sadar bahwa kebocoran kecil ini yang paling cepat mengikis tabungan. Padahal, pengeluaran kecil yang rutin jauh lebih berbahaya daripada satu pengeluaran besar sesekali.

3. Pembayaran Otomatis untuk Langganan yang Lupa Pernah Didaftarkan

Kita semua pernah mendaftar platform streaming saat ada promo. Tapi berapa banyak yang terus membayar tanpa sadar masih berlangganan? Mulai dari cloud storage, aplikasi edit foto, sampai produk-produk isi ulang yang dikirim otomatis.

Ini adalah jebakan digital yang sering menjebak orang kelas menengah, karena terasa ringan di awal. Tapi dalam setahun, bisa-bisa menguras jutaan tanpa disadari.

4. Membiayai “Mainan” Terdepresiasi dengan Pinjaman Jangka Panjang

Smartphone, mobil, atau bahkan furniture baru bisa terlihat terjangkau jika dicicil bertahun-tahun. Tapi kenyataannya, barang-barang ini nilainya terus turun, sementara anda masih membayar bunganya.

Kebiasaan membiayai gaya hidup dengan utang ini umum di kalangan orang kelas menengah yang ingin tampil mapan, tapi sebenarnya memperlambat kemajuan finansial mereka sendiri.

5. Penumpukan Beli Sekarang Bayar Nanti (Paylater)

Layanan paylater terlihat seperti solusi mudah, tapi sebenarnya bisa membuat anda kehilangan kontrol atas keuangan. Karena terasa ringan, banyak yang asal gesek tanpa menghitung total kewajiban bulan depan.

Banyak orang kelas menengah yang merasa mampu secara finansial, padahal sebenarnya hanya sedang menunda beban. Akibatnya, saat tagihan menumpuk, stress dan tekanan finansial pun ikut naik.

6. Tidak Pernah Menegosiasikan Ulang Tagihan Berulang

Tagihan bulanan seperti internet, telepon, dan asuransi bisa naik tanpa pemberitahuan. Perusahaan layanan sering mengandalkan kelalaian pelanggan untuk tetap membayar harga lama, padahal ada promo atau diskon yang tersedia untuk pelanggan baru.

Kalau anda nggak pernah mengecek dan membandingkan harga, anda mungkin sudah membayar lebih mahal dari seharusnya selama bertahun-tahun. Ini adalah contoh bagaimana kebiasaan pasif dalam mengelola uang bisa membuat uang anda bocor diam-diam.

7. Menabung “Apa Pun yang Tersisa”

Banyak yang menunggu sampai akhir bulan untuk menabung. Masalahnya, kehidupan modern selalu berhasil “menghabiskan yang tersisa”. Ini adalah bentuk kebiasaan buruk yang sangat umum.

Orang kelas menengah cenderung berpikir bahwa mereka bisa menabung kalau ada sisa. Padahal, cara kerja yang sehat adalah menabung dulu baru membelanjakan sisanya. Tanpa strategi itu, sangat kecil kemungkinan ada kemajuan finansial yang nyata.

Pada akhirnya, meskipun penghasilan terlihat cukup, kebiasaan yang salah dalam mengelola uang bisa menjadi penghalang utama menuju kebebasan finansial. Banyak orang kelas menengah yang terjebak bukan karena tidak punya uang, tapi karena cara mereka memperlakukan uang itu sendiri.

EDITOR: Setyo Adi Nugroho