← Beranda

Jika Anda Sangat Menyayangi Saudara Kandung tetapi Juga Merasa Mereka Sangat Menjengkelkan, Menurut Psikologi Anda Mungkin Pernah Mengalami 9 Hal Ini

Irfan FerdiansyahJumat, 23 Januari 2026 | 19.19 WIB
seseorang yang sangat menyayangi saudara kandung./ Freepik/EyeEm

JawaPos.com - Hubungan dengan saudara kandung sering kali menjadi relasi paling unik dalam hidup manusia. Mereka adalah orang pertama yang tumbuh bersama kita, berbagi ruang, waktu, perhatian orang tua, bahkan luka dan tawa yang sama.

Tak heran jika perasaan terhadap saudara kandung kerap terasa kontradiktif: di satu sisi ada kasih sayang yang dalam, di sisi lain ada kejengkelan yang kadang sulit dijelaskan.

Menurut psikologi, kombinasi cinta dan rasa kesal terhadap saudara kandung adalah hal yang sangat manusiawi. Bahkan, justru menandakan adanya ikatan emosional yang kuat.

Dilansir dari Geediting pada Kamis (22/1), jika Anda merasa “kok bisa ya saya sayang sekali, tapi juga sering kesal luar biasa?”, besar kemungkinan Anda pernah mengalami sembilan hal berikut ini.

1. Merasa Paling Mengenal Sisi Buruk Mereka, dan Mereka Juga Tahu Milik Anda

Saudara kandung tumbuh bersama Anda dalam fase-fase paling mentah dalam hidup. Mereka melihat Anda saat masih egois, cengeng, keras kepala, bahkan saat gagal total.

Menurut psikologi perkembangan, kedekatan jangka panjang ini menciptakan intimasi emosional tanpa filter.

Inilah sebabnya mengapa komentar kecil dari saudara kandung bisa terasa lebih menyebalkan dibandingkan kritik orang lain.

Mereka tahu tombol mana yang harus ditekan—dan sering kali menekannya tanpa sadar.

2. Mudah Tersinggung, tetapi Juga Paling Cepat Memaafkan

Anda mungkin pernah bertengkar hebat dengan saudara kandung, saling diam berhari-hari, bahkan berkata kasar. Namun anehnya, rekonsiliasi sering terjadi begitu saja, tanpa permintaan maaf panjang.

Psikologi menyebut ini sebagai secure attachment keluarga. Ikatan yang kuat membuat otak percaya bahwa hubungan ini “aman”, sehingga konflik tidak langsung dipersepsikan sebagai ancaman kehilangan permanen.

3. Merasa Diperlakukan Tidak Adil Sejak Kecil

Banyak rasa jengkel pada saudara kandung berakar dari masa kecil—entah merasa orang tua lebih memihak, lebih memuji, atau lebih melindungi salah satu anak. Dalam psikologi keluarga, ini dikenal sebagai perceived parental favoritism.

Menariknya, meskipun favoritisme itu mungkin tidak objektif, persepsi tersebut bisa membekas hingga dewasa dan memengaruhi dinamika emosi Anda terhadap saudara kandung.

4. Merasa Bebas Menjadi Diri Sendiri, Sekaligus Paling Mudah Meledak

Bersama saudara kandung, Anda jarang memakai topeng sosial. Anda bisa menjadi diri sendiri sepenuhnya—dan justru karena itulah emosi negatif lebih mudah keluar.

Menurut psikologi emosi, ketika seseorang merasa aman secara emosional, kontrol diri bisa menurun. Bukan karena tidak menghormati, tetapi karena merasa tidak perlu menjaga citra.

5. Cemburu, tetapi Tidak Pernah Mengakuinya

Cemburu terhadap saudara kandung bukan tanda kebencian, melainkan refleksi dari kebutuhan akan pengakuan. Bisa jadi Anda merasa pencapaian mereka lebih diakui, hidup mereka tampak lebih “lancar”, atau mereka lebih disukai lingkungan.

Psikologi sosial menjelaskan bahwa social comparison paling intens justru terjadi pada orang yang paling dekat dengan kita.

6. Merasa Bertanggung Jawab, Meski Tidak Diminta

Entah sebagai kakak atau adik, Anda mungkin sering merasa punya kewajiban moral untuk membantu, melindungi, atau memikirkan masa depan saudara kandung. Bahkan saat Anda sedang lelah sendiri.

Ini berkaitan dengan konsep family role internalization, di mana peran dalam keluarga tertanam kuat dalam identitas psikologis seseorang.

7. Kesal dengan Kebiasaan Mereka, tapi Orang Lain Tidak Boleh Mengkritik

Anda boleh mengeluh tentang saudara kandung Anda, tapi ketika orang lain melakukannya, tiba-tiba muncul rasa defensif. Fenomena ini disebut in-group loyalty dalam psikologi sosial.

Secara bawah sadar, saudara kandung tetap termasuk “kelompok kita”, apa pun kekurangannya.

8. Merasa Hubungan Ini Tak Bisa Diputus, Apa Pun yang Terjadi

Berbeda dengan pertemanan atau hubungan romantis, relasi saudara kandung sering dipersepsikan sebagai permanen. Psikologi menyebutnya sebagai non-voluntary bond—ikatan yang tidak kita pilih, tetapi membentuk kita.

Kesadaran ini bisa menenangkan sekaligus menjengkelkan: Anda tahu mereka selalu ada, dan itulah yang membuat emosi terasa lebih intens.

9. Tetap Merindukan Mereka Saat Jauh

Seberapa pun seringnya Anda kesal, jarak sering kali memunculkan rasa rindu. Otak manusia menyimpan memori emosional kuat terkait keluarga inti, terutama dari masa kanak-kanak.

Menurut psikologi kognitif, memori ini terikat dengan rasa aman dan identitas diri, sehingga keberadaan saudara kandung tetap penting bagi keseimbangan emosional Anda.

Kesimpulan: Sayang dan Jengkel Bisa Berjalan Bersamaan

Menyayangi saudara kandung sekaligus merasa mereka menjengkelkan bukanlah tanda hubungan yang rusak. Justru sebaliknya, ini menandakan adanya kedekatan emosional yang mendalam, sejarah panjang bersama, dan ikatan psikologis yang kuat.

Psikologi mengajarkan kita bahwa emosi tidak selalu hitam-putih. Dalam hubungan paling dekat, cinta dan frustrasi sering berjalan beriringan. Yang terpenting bukan menghilangkan rasa kesal sepenuhnya, melainkan memahami asal-usulnya—dan belajar merawat hubungan ini dengan lebih dewasa.

EDITOR: Hanny Suwindari