← Beranda

Psikologi Keluarga Mengungkapkan, 7 Tanda dan Perilaku Anak yang Mulai Menjauh dari Orang Tua saat Dewasa

Vindi Rayinda AyudyaSabtu, 26 April 2025 | 21.16 WIB
Ilustrasi perilaku anak dewasa yang sering muncul ketika hubungan dengan orang tua mulai menjauh. (Freepik)

 

JawaPos.Com - Tidak semua hubungan orang tua dan anak akan selalu berjalan harmonis seiring bertambahnya usia. 

Ada masa di mana jarak tak hanya terbentuk secara fisik, tetapi juga emosional. 

Anak yang dulunya bercerita tanpa batas, kini mulai menarik diri, bahkan terkesan menjauh. Obrolan yang dulu penuh kehangatan pun kini terasa datar. 

Perubahan ini bisa terasa mengganjal, namun sering kali sulit dijelaskan. 

Padahal, dalam dunia psikologi keluarga, perubahan ini bisa menjadi indikator penting bahwa ada jarak emosional yang sedang terbentuk, baik disadari maupun tidak.

Jarak ini tidak selalu disebabkan oleh satu konflik besar atau kejadian dramatis. 

Bisa jadi, itu muncul dari luka-luka kecil yang menumpuk: ucapan yang tidak didengar, harapan yang terus dibebankan, atau ketidakhadiran emosional yang berulang. 

Anak dewasa yang semakin memahami dirinya mulai menciptakan batas, dan dalam proses ini, hubungan dengan orang tua bisa ikut berubah. 

Dilansir dari News Reports, inilah tujuh perilaku anak dewasa yang sering muncul ketika hubungan dengan orang tua mulai menjauh menurut psikologi keluarga.

1. Obrolan Hanya Sekadar Basa-Basi

Ketika kedekatan emosional memudar, percakapan menjadi seperti formalitas belaka. 

Anak dewasa mungkin tetap menghubungi atau berbicara, tapi isi obrolannya sangat dangkal seperti seputar cuaca, pekerjaan, atau kegiatan sehari-hari yang aman dari konflik. 

Tidak ada lagi cerita tentang mimpi, kekecewaan, atau perjuangan hidup.

Bukan berarti anak tidak memiliki cerita untuk dibagikan. Seringkali, mereka justru menyimpannya karena merasa tidak akan dipahami, atau pernah merasa direndahkan saat mencoba terbuka di masa lalu. 

Basa-basi ini bisa menjadi bentuk perlindungan diri. Daripada berharap dan kecewa, mereka memilih menjaga jarak melalui percakapan yang aman dan netral.

Hubungan ini secara perlahan berubah dari yang hangat menjadi mekanis, seperti berbicara dengan atasan atau kenalan jauh, bukan dengan orang yang pernah menjadi pusat dunia mereka.

 

2. Tidak Lagi Bersemangat Saat Berkumpul

Acara keluarga yang dulu penuh tawa dan kebersamaan kini terasa seperti beban.

Anak dewasa mungkin masih datang, tapi lebih karena kewajiban daripada keinginan. 

Mereka datang terlambat, pulang cepat, atau tampak lebih sering menatap ponsel daripada berinteraksi.

Dalam banyak kasus, suasana yang penuh tekanan, entah karena ekspektasi yang tidak realistis, perbandingan antar saudara, atau konflik lama yang belum selesai, membuat pertemuan keluarga terasa menguras energi.

Ketika seseorang merasa tidak diterima sepenuhnya, mereka tidak bisa merasa nyaman di rumah yang seharusnya menjadi tempat paling aman. Dan lambat laun, mereka mulai menjauh, bahkan secara fisik.

3. Terlihat Semakin Mandiri, Tapi Juga Menarik Diri

Kemandirian adalah bagian dari tumbuh dewasa, namun dalam dinamika keluarga yang tidak sehat, kemandirian ini bisa menjadi dinding pemisah. 

Anak dewasa yang menjauh mungkin tidak lagi berbagi rencana hidup, tidak meminta nasihat, dan bahkan tidak memberi tahu saat mereka menghadapi masa sulit atau bahagia.

Ini bukan karena mereka tidak menghargai orang tua, tetapi karena hubungan emosional sudah tidak terasa aman. 

Mereka mulai membentuk dunia sendiri yang terpisah, tempat orang tua hanya menjadi figur simbolik, bukan lagi bagian aktif dalam perjalanan hidup mereka.

Dalam psikologi, hal ini dikenal sebagai emotional cutoff, yakni pemutusan hubungan emosional yang tidak selalu disertai pertengkaran atau konfrontasi, tetapi terlihat dari jarak yang makin membesar secara diam-diam.

 

4. Jarang Memberi Kabar tentang Kehidupan Pribadi

Anak yang menjauh secara emosional sering kali berhenti memberi kabar secara spontan. 

Mereka tidak lagi bercerita tentang pekerjaan baru, hubungan asmara, rencana pindah rumah, atau pencapaian pribadi. Semua berlangsung tanpa diketahui oleh orang tua.

Bukan karena mereka ingin menyembunyikan sesuatu, tapi karena mereka merasa berita itu tidak akan disambut dengan antusiasme atau empati. 

Dalam beberapa kasus, justru mereka takut dipatahkan atau dikritik. Mereka memilih diam, karena diam lebih aman daripada merasa kecewa.

Lambat laun, keterputusan ini membuat orang tua menjadi orang terakhir yang tahu hal-hal penting dalam kehidupan anaknya, bukan karena tidak diberi kesempatan, tapi karena tidak lagi dirasakan sebagai tempat yang nyaman untuk berbagi.

5. Cenderung Menghindari Perdebatan

Di masa remaja, perdebatan dengan orang tua sering terjadi sebagai bagian dari proses pencarian jati diri. 

Namun saat sudah dewasa, banyak anak justru memilih menghindari konfrontasi, bahkan dalam hal penting. Mereka tidak lagi membantah, tidak menanggapi sindiran, dan tidak mengekspresikan ketidaksetujuan.

Diam menjadi cara bertahan. Menghindari konflik terasa lebih bijak daripada memicu drama yang bisa merusak hubungan lebih jauh. Namun di balik sikap tenang itu, tersimpan luka dan rasa kecewa yang belum pernah benar-benar dibicarakan.

Sayangnya, keheningan ini justru memperlebar jurang, karena tidak ada dialog, tidak ada pemahaman baru, dan tidak ada perbaikan.

 

6. Tidak Lagi Mengejar Restu atau Persetujuan

Dulu, keputusan besar seperti memilih jurusan kuliah, pekerjaan, atau pasangan hidup mungkin selalu didiskusikan dengan orang tua. Tapi kini, anak dewasa merasa tidak perlu lagi meminta persetujuan.

Ini bisa menjadi tanda kedewasaan yang sehat, seseorang yang tahu apa yang diinginkan dan berani mengambil tanggung jawab. 

Namun dalam konteks hubungan yang menjauh, ini juga bisa berarti mereka telah melepaskan kebutuhan untuk mendapat validasi dari orang tua karena pernah merasa dihakimi, dikekang, atau tidak dihargai.

Mereka mulai membangun identitas sendiri, terlepas dari nilai-nilai yang diwariskan. 

Mereka tetap menghormati, tapi tidak lagi menjadikan orang tua sebagai kompas utama dalam menentukan arah hidup. 

Ini adalah proses individuasi dalam psikologi, proses menjadi diri sendiri yang utuh, bahkan jika itu berarti menjauh.

7. Tidak Lagi Bereaksi secara Emosional

Salah satu tanda paling menyedihkan dari hubungan yang menjauh adalah ketika tidak ada lagi reaksi emosional. 

Anak tidak lagi menunjukkan kemarahan, harapan, atau kesedihan saat berbicara dengan orang tua. 

Bahkan dalam momen penting, seperti saat mendengar kabar duka, keberhasilan, atau penyakit dan reaksinya netral.

Ini bukan karena tidak peduli, tetapi karena sudah terlalu sering terluka hingga akhirnya mematikan ekspektasi. 

Emosi yang dulunya hangat kini membeku. Mereka telah belajar untuk tidak berharap lebih, demi menjaga diri dari kekecewaan yang terus-menerus.

Dalam psikologi, ini disebut detachment, pemutusan keterikatan secara emosional sebagai bentuk perlindungan diri. Ini berbeda dari kebencian atau kemarahan. 

Justru lebih menyakitkan, karena tidak ada lagi emosi yang tersisa untuk dipertukarkan.

***

EDITOR: Novia Tri Astuti