JawaPos.com - Kebakaran yang melanda dua kapal di Pelabuhan Damietta, Mesir, dilaporkan dipicu oleh serangan drone. Pemerintah Mesir mengkonfirmasi insiden tersebut setelah penyelidikan awal menemukan bahwa pesawat nirawak menghantam salah satu kapal di pelabuhan strategis ekspor gas alam cair (LNG) itu pada Kamis (30/7) waktu setempat.
Meski belum ada pihak yang mengaku bertanggung jawab, serangan tersebut langsung memicu kekhawatiran baru di tengah meningkatnya ketegangan antara Amerika Serikat, Israel, dan Iran. Presiden AS Donald Trump bahkan mengisyaratkan bahwa Iran atau kelompok proksinya kemungkinan berada di balik insiden tersebut.
Dalam pernyataannya, kabinet Mesir menegaskan bahwa penyelidikan masih berlangsung untuk mengungkap pelaku serangan.
"Tidak ada pihak yang mengklaim bertanggung jawab," demikian bunyi pernyataan pemerintah Mesir, seraya menambahkan bahwa otoritas terkait terus menyelidiki insiden itu dan "mengambil langkah-langkah yang diperlukan untuk menjaga kepentingan Mesir serta keamanan nasional."
Drone Hantam Kapal LNG AS, Api Menjalar ke Kapal Yunani
Dilansir dari BBC, menurut laporan, drone menghantam Energos Winter, kapal penyimpanan dan regasifikasi terapung (FSRU) milik perusahaan asal Amerika Serikat yang tengah bersandar di Pelabuhan Damietta.
Benturan itu memicu kebakaran yang kemudian merambat ke GasLog Salem, kapal pengangkut LNG milik perusahaan Yunani yang berada di dekatnya.
Video yang telah diverifikasi dan beredar di media sosial memperlihatkan kepulan asap hitam membumbung tinggi dari area pelabuhan, sementara kapal-kapal tunda berupaya memadamkan api dengan menyemprotkan air ke kedua kapal tersebut.
Otoritas Mesir memastikan kebakaran berhasil dipadamkan tanpa menimbulkan korban jiwa maupun korban luka. Aktivitas Pelabuhan Damietta juga disebut tetap berjalan normal sehari setelah insiden.
Data pelacakan kapal menunjukkan Energos Winter dan GasLog Salem kemudian meninggalkan pelabuhan dan bergerak ke perairan lepas usai kebakaran berhasil dikendalikan.
Pelaku Masih Misterius, Iran Jadi Sorotan
Hingga kini belum diketahui dari mana drone diluncurkan maupun siapa dalang di balik serangan tersebut.
Namun, pola serangan itu dinilai memiliki kemiripan dengan operasi yang sebelumnya dilakukan Iran maupun kelompok bersenjata yang didukung Teheran. Selama konflik AS dan Israel melawan Iran berlangsung, sejumlah kapal tanker, jalur pelayaran di Laut Merah dan Teluk, hingga fasilitas energi di beberapa negara Arab menjadi sasaran serangan drone dan rudal.
Serangan-serangan tersebut sempat mengganggu perdagangan global sekaligus mendorong lonjakan harga minyak dunia.
Mesir sendiri merupakan sekutu dekat Amerika Serikat dan hingga kini belum pernah menjadi target langsung serangan Iran.
Seperti juga sudah disinggung di atas, Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengaku telah menerima laporan mengenai insiden di Pelabuhan Damietta. Meski tidak menyebut Iran secara langsung, ia mengisyaratkan bahwa pola serangan tersebut serupa dengan aksi yang sebelumnya dilakukan Teheran maupun kelompok proksinya.
"Ini sedikit lebih sama. Tapi itu akan meluruskan," kata Trump kepada wartawan.
Pernyataan itu muncul hanya beberapa jam setelah Amerika Serikat bersama Arab Saudi melancarkan serangan udara terhadap kelompok bersenjata pro-Iran di Irak.
Washington dan Riyadh menyebut kelompok tersebut telah menyerang fasilitas minyak Arab Saudi menggunakan drone sebanyak 30 kali dalam beberapa hari terakhir atas arahan Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC).
Di sisi lain, Popular Mobilisation Forces (PMF), kelompok paramiliter Irak yang didominasi milisi Syiah pro-Iran, mengklaim sedikitnya 20 anggotanya tewas dalam serangan udara tersebut dan menyebut aksi itu sebagai eskalasi yang sangat serius.
Kementerian Luar Negeri Iran juga mengecam serangan tersebut serta memperingatkan akan munculnya konsekuensi berbahaya.
Situasi semakin memanas setelah pada Rabu malam waktu setempat, Amerika Serikat melancarkan gelombang serangan besar ke wilayah Iran sebagai balasan atas dugaan upaya serangan rudal mendadak yang menargetkan fasilitas militer AS di Yordania.