JawaPos.com - Istri mantan Menteri Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Mendikbudristek) Nadiem Makarim, Franka Makarim, menggelar malam doa bersama yang dihadiri keluarga, kerabat, dan sahabat. Acara tersebut digelar di Taman Menteng, Jakarta Pusat, pada Jumat malam (26/6).
Kegiatan itu digelar menjelang sidang pembacaan vonis kasus dugaan korupsi pengadaan laptop chromebook di Pengadilan Tindak Pidana Korupsi (Tipikor) pada Pengadilan Negeri Jakarta Pusat (PN Jakpus), pada Selasa (30/6) mendatang.
Dalam kesempatan tersebut, Franka menyampaikan rasa terima kasih kepada seluruh pihak yang memberikan dukungan di tengah situasi yang tengah dihadapi keluarganya.
Menurut dia, dukungan moral yang diberikan menjadi sumber kekuatan untuk menghadapi berbagai tantangan yang datang.
"Terima kasih kepada setiap keluarga, kerabat, sahabat yang malam ini meluangkan waktu untuk hadir dan berdiri bersama dengan kami," kata Franka.
Franka mengungkapkan, dirinya tidak pernah membayangkan akan berada dalam situasi yang penuh ketidakpastian.
Ia mengaku kasus yang menjerat sang suami menguras emosi, termasuk kecemasan yang terus menyertai setiap hari.
"Tidak ada satu pun dari kita yang pernah membayangkan akan berada di titik ini. Menghadapi ketidakpastian yang panjang dan rasa cemas setiap hari, tanpa tahu seperti apa akhir dari semua perjuangan ini," ujarnya.
Meski demikian, Franka menilai malam doa bersama yang digelar hari ini menjadi pengingat bahwa keluarganya tidak berjuang sendirian.
Kehadiran keluarga, kerabat, dan sahabat disebutnya sebagai bentuk dukungan yang sangat berarti dalam menghadapi masa-masa sulit.
"Namun di malam ini, kita diingatkan akan satu hal: kita tidak sendirian. Ada keluarga, ada kerabat, ada sahabat yang ikut memikul beban batin ini, yang berjalan bersama kita dalam perjuangan ini," tuturnya.
Menurut Franka, kegiatan yang digelar bukanlah ajang untuk meluapkan kemarahan ataupun kekecewaan.
Ia menegaskan, pihaknya sengaja memanjatkan doa agar kebenaran dan keadilan dapat ditegakkan.
"Inilah malam solidaritas keluarga. Malam ini bukan tentang kemarahan dan bukan tentang kekecewaan. Malam ini tentang doa dan tentang harapan. Bahwa kebenaran masih layak diperjuangkan, dan bahwa keadilan masih bisa ditegakkan di negeri yang kita cintai ini," ucapnya.
Franka juga menekankan, keadilan merupakan cita-cita yang selalu diperjuangkan oleh seluruh elemen bangsa.
Ia menilai, nilai tersebut tidak dimiliki oleh kelompok tertentu, melainkan menjadi harapan bersama seluruh rakyat Indonesia.
"Keadilan bangsa Indonesia bukanlah cita-cita satu masa atau milik satu golongan. Ia adalah harapan yang tidak pernah berhenti diperjuangkan oleh seluruh rakyat, para cendekiawan, dan setiap pemimpin bangsa," bebernya.
Franka kemudian mengingatkan bahwa semangat menegakkan keadilan telah diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya.
Menurutnya, setiap era kepemimpinan nasional membawa harapan yang sama agar kebenaran dan keadilan tetap menjadi landasan kehidupan berbangsa dan bernegara.
"Sejak masa Presiden Soekarno, Presiden Soeharto, Presiden Habibie, Presiden Megawati, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, Presiden Joko Widodo, Presiden Abdurrahman Wahid, sehingga Presiden Prabowo Subianto.
Dari satu generasi ke generasi berikutnya, kita merawat harapan yang sama. Bahwa di Indonesia, kebenaran akan selalu menemukan jalannya, dan keadilan akan selalu berdiri di sisi mereka yang tidak bersalah," urainya.
Lebih lanjut, Franka mengajak seluruh hadirin untuk memulai malam solidaritas tersebut dengan doa bersama. Ia berharap setiap orang yang hadir dapat menyatukan harapan demi Indonesia yang menjunjung tinggi nilai keadilan.
"Maka sebelum kita berbagi cerita, izinkan kita memulai malam ini dengan menundukkan kepala dan menyatukan hati. Marilah kita berdoa bersama menurut setiap keyakinan kita untuk Indonesia dan untuk keadilan kita bersama," pungkasnya.