← Beranda
Kisah Pilu Yatim Piatu Korban Umrah Hanania Group: Tabung 1,5 Tahun Demi Doakan Orang Tua Malah Ditipu
Ryandi ZahdomoSenin, 1 Juni 2026 | 23.27 WIB
Uli, korban penipuan dana umrah oleh travel Hanania Group PT Khazanah Tamma Internasional. (Ryandi Zahdomo/JawaPos.com)

 

JawaPos.com - Niat suci untuk mendoakan orang tua yang telah tiada justru berujung pilu. Kisah memilukan ini datang dari Uli, seorang yatim piatu yang menjadi korban dugaan penggelapan dana umrah oleh travel Hanania Group PT Khazanah Tamma Internasional.

Uli, yang sehari-hari bekerja sebagai karyawan swasta, harus mengubur mimpinya sementara waktu untuk menginjakkan kaki di Tanah Suci. Padahal, ia sudah melunasi paket umrah senilai Rp29,9 juta dari hasil kerja kerasnya menabung selama 1,5 tahun.

Kasus dugaan penggelapan dana umrah Hanania Group ini mencuat setelah ratusan jemaah gagal berangkat secara massal. Tak main-main, total kerugian dari para korban diperkirakan menembus angka fantastis hingga Rp100 miliar.

Perjuangan 1,5 Tahun Demi Doakan Orang Tua di Tanah Suci

Bagi Uli, uang puluhan juta tersebut dikumpulkan dengan penuh perjuangan di tengah kondisi ekonomi yang naik turun. Dorongan terbesarnya adalah statusnya yang kini sudah yatim piatu.

Baca Juga: Belanja Pegawai Pemkot Batu Overload 7 Persen, Ajukan Relaksasi ke Pusat, Genjot PAD Selamatkan Fiskal Daerah

"Jadi memang sudah niat mau berangkatkan diri sendiri. Karena sebenarnya background di balik itu, saya sudah yatim piatu. Jadi harapannya besar mau mendoakan orang tua langsung di sana," ujar Uli saat ditemui di Jakarta Selatan, Senin (1/6).

Uli mengaku harus memaksakan diri agar bisa mengumpulkan biaya demi ibadah pertamanya ini. Bagi sebagian orang nominal tersebut mungkin tidak besar, namun bagi Uli, nilai spiritual dan perjuangan di baliknya jauh lebih berharga.

"Jadi, buat saya sendiri kurang lebih 1,5 tahun dengan kondisi ekonomi yang juga ya naik turun ya. Itu ada hal-hal personal yang juga cukup membuat saya harus, dalam tanda kutip, memaksakan diri karena seingin itu gitu ke Tanah Suci, mendoakan keluarga yang sudah mendahului," terangnya

"Kami paham konsep rezeki tadi ya, namanya rezeki pasti enggak akan tertukar. Tapi ini bentuk ikhtiar kami paling maksimal sekarang adalah ini," sambungnya.

Alasan Force Majeure Berujung Pengakuan Mismanagement

Uli seharusnya dijadwalkan terbang ke Arab Saudi pada 26 Maret menggunakan maskapai Emirates EK359 penerbangan transit (non-direct). Namun, tepat pada 18 Maret, pihak Hanania Group membatalkan keberangkatan tersebut secara mendadak lewat pertemuan virtual via Zoom.

Awalnya, pihak travel berdalih pembatalan dikarenakan situasi konflik yang memanas di Timur Tengah.

"Waktu itu mereka masih menggunakan alasan kondisi Timur Tengah ya, eskalasi di Timur Tengah. Tapi kan waktu itu ternyata yang direct pun juga terimbas (tidak berangkat) dan itu enggak valid lagi gitu. Sampai akhirnya pas mediasi mengakui ada mismanagement sih," katanya.

Kecurigaan Uli makin menguat setelah mendengar kabar rombongan jemaah lain dari Surabaya gagal terbang secara mendadak langsung di bandara pada 25 Maret. Sadar ada yang tidak beres, ia bersama jemaah lain mulai bergerak mandiri mendirikan posko pengaduan via WhatsApp untuk mengawal kasus penggelapan dana umrah ini.

Baca Juga: Lagi Asyik Video Call, Turis Jerman Jadi Korban Jambret di Surabaya

Akan Kembali Buat Laporan Kepolisian
Kini, para korban yang didampingi oleh Tim Kuasa Hukum, Joddy Mulyasetya Putra, akan kembali menempuh jalur hukum. Mereka mendesak aparat penegak hukum serta Pusat Pelaporan dan Analisis Transaksi Keuangan (PPATK) untuk melakukan penelusuran aset (asset tracing) milik Hanania Group.

Bagi jemaah, sekadar hukuman penjara bagi pemilik travel tidaklah cukup. Yang paling utama saat ini adalah kejelasan dan transparansi agar uang tabungan hasil keringat mereka bisa segera dikembalikan.

 

EDITOR: Sabik Aji Taufan