JawaPos.com - Meski sudah mengungkap 4 orang terduga pelaku penyiraman air keras terhadap Wakil Koordinator KontraS Andrie Yunus, aktor intelektual atau dalang di balik aksi teror tersebut belum terungkap.
Pusat Polisi Militer (Puspom) TNI memastikan akan mencari tahu ada atau tidaknya perintah tersebut.
Menurut Komandan Puspom TNI Mayjen TNI Yusri Nuryanto, sosok di balik peristiwa yang terjadi pada Kamis tengah malam (12/3) perlu dicari tahu melalui beberapa langkah. Termasuk pengumpulan saksi dan bukti-bukti yang dibutuhkan oleh penyidik.
”Yang terkait dalam perintah siapa (di balik aksi penyiraman air keras) jadi nanti kami masih sedang kami dalami. Karena perlu istilahnya pengumpulan saksi, kemudian bukti-bukti yang ada,” ucap Yusri.
Yusri hanya memastikan bahwa 4 prajurit tersebut berasal dari satuan yang sama. Yakni Detasemen Markas (Denma) Badan Intelijen Strategis (BAIS) TNI.
Sementara matra asal masing-masing prajurit tersebut adalah TNI AL dan TNI AU. Dia memastikan, tidak ada prajurit TNI AD dari keempat terduga pelaku.
”Kami sampaikan bahwa keempat yang diduga pelaku itu semuanya anggota dari Denma BAIS TNI. Jadi, bukan dari satuan mana-mana, tapi dari Denma BAIS TNI,” jelasnya.
Lebih lanjut, Yusri mengungkapkan bahwa masing-masing pelaku berinisial Kapten NDP, Lettu SL, Lettu BHW, dan Serda ES.
Artinya keempat terduga pelaku itu ada yang berpangkat perwira pertama dan bintara. Mereka terpantau bergerak bersama-sama saat melakukan aksi penyerangan.
”Jadi, sekarang yang diduga keempat tersangka (terduga pelaku) itu sudah kami amankan di Puspom TNI untuk dilakukan pendalaman ke tingkat penyidikan,” ucap Yusri.
Yusri mengakui bahwa sejak peristiwa penyiraman air keras terjadi pada Kamis malam (12/3), TNI langsung bergerak untuk melakukan pendalaman atas dugaan keterlibatan prajurit dalam peristiwa itu.
Pendalaman itu kemudian diteruskan dengan penyelidikan internal yang berujung pada identifikasi terduga pelaku.
”Jadi, Puspom TNI nanti akan melakukan kegiatan membuat laporan polisi, mungkin nanti dari saksi korban. Kemudian melakukan penahanan sementara kepada terduga empat orang tadi. Kemudian kami akan segera mengajukan permohonan visum et repertum ke RSCM,” terang dia.
Sebelumnya diberitakan bahwa untuk mengungkap peristiwa penyiraman air keras terhadap Wakil Koordinator KontraS Andrie Yunus, Polri membentuk tim gabungan.
Dari level polres, polda, sampai Bareskrim Polri. Tidak hanya itu, polisi membangun posko dan membuka hotline untuk mempercepat penanganan kasus tersebut.
Direktur Reserse Kriminal Umum (Dirreskrimum) Polda Metro Jaya Kombes Iman Imanuddin menyampaikan bahwa tim gabungan itu dibentuk sebagai bukti keseriusan Polri dalam menangani kasus tersebut.
Mereka bekerja sama untuk membuat terang aksi teror yang menyebabkan Andrie mengalami luka bakar serius.
”Bentuk keseriusan Polri di dalam menangani perkara ini, kami saat ini sudah membentuk tim gabungan pengungkapan perkara yang terjadi. Terdiri dari penyidik Satreskrim Polres (Metro) Jakarta Pusat, kemudian penyidik pada Direktorat (Reserse) Tindak Pidana Umum Polda Metro Jaya, dan Bareskrim Polri,” ujarnya.
Setelah mendapat informasi dan laporan kepolisian terbit, tim gabungan tersebut langsung bekerja.
Mereka melakukan penyelidikan dan penyidikan dengan mendatangi lokasi kejadian, mengumpulkan bukti-bukti, meminta keterangan saksi, dan mengamankan sejumlah rekaman CCTV.
”Kami melakukan upaya penyelidikan, melakukan analisis terhadap CCTV dan analisis terhadap saluran komunikasi yang ada,” kata dia.